Saturday, June 13, 2015

Umat Katolik Lewoloba Rayakan Pesta Pelindung Stasi

Suasana Perarakan Sakramen Mahakdus di Armida KBG II & III Stasi Lewoloba



12 Juni adalah hari yang istimewa bagi umat Katolik Stasi Lewoloba. Bertepatan dengan Pesta Hati Kudus Yesus (Sacred Heart of Jesus) yang diperingati Gereja se-dunia, Umat Stasi Lewoloba merayakan Pesta Pelindung Stasinya, Hati Amat Kudus Tuhan Yesus. Seperti biasa, sehari sebelumnya atau pada pagi hari di hari pesta tersebut, seluruh umat berbondong-bondong mengerjakan armida / tempat persinggahan untuk pentakhtaan Sakramen Mahakudus. Selain armida, umat membuat turo / tempat lilin di sepanjang jalur prosesi.
Untuk tahun 2015, umat membuat 4 armida. Armida pertama dikerjakan oleh KBG 1, 2 dan 3; Armida kedua dikerjakan oleh KBG 4, 5 dan 6; Armida ketiga dikerjakan KBG 7, 8 dan 9; dan Armida keempat dikerjakan KBG 10, 11 dan 12. Bentuk dan gaya bangun armida disesuaikan dengan kreativitas umat setiap KBG dengan memperhatikan nuansa penghormatan terhadap Sakramen Mahakudus.
Pada sore harinya, diadakan perayaan ekaristi dan diikuti dengan perarakan keliling stasi. Misa kali ini dipimpin oleh Pastor Paroki Riangkemie, Rm. John Lein, Pr, didampingi P. Eddy Doren, SVD. Adapun rute perarakan antara lain: keluar gereja belok kanan menuju jalan lingkar luar sebelah Timur, jalan lingkar luar sebelah Utara, dan masuk ke jalan lingkar luar sebelah Barat di depan Balai Desa Lewoloba, lalu masuk lagi ke gereja.
Umat tampak sangat antusias mengikuti prosesi Sakramen Mahakudus untuk memperingati Pesta Hati Kudus Yesus. Umat berharap semoga Hati Yesus Yang Amat Kudus dapat hadir di tengah-tengah hati setiap umat dan memberikan kekuatan kepada mereka untuk mengupayakan damai di dalam hatinya.





Tuesday, May 26, 2015

Bandar Udara Gewayan Tanah, Ikon Kec. Ile Mandiri

Nick Doren - Lewoloba
Bandar Udara Gewayan Tanah - Watowiti

Berbicara tentang Kec. Ile Mandiri, maka hal yang paling mudah diingat adalah Bandar Udara Gewayan Tanah. Bandara ini terletak di Desa Tiwatobi tepatnya di Watowiti, Kec. Ile Mandiri, Kab. Flores Timur. Bandara ini melayani penerbangan domestik antarpulau, Larantuka (Flores)-Kupang (Timor) dengan volume penerbangan setiap hari hanya pada pagi hari. Khusus pada hari Kamis, terdapat penerbangan sore hari menuju Kupang. Rata-rata jenis pesawat yang menyinggahi Bandara ini adalah Pesawat Fokker.
Kehadiran Bandara Gewayan Tanah di Desa Tiwatobi memberi dampak positif kepada masyarakat di sekitar, khususnya peningkatan kesejahteraan ekonomi warga. Banyak warga sekitar yang berjualan di luar area Bandara dan ada pula yang dipekerjakan sebagai karyawan Bandara.
Kendatipun demikian, persoalan pelik terkait pembebasan lahan untuk perluasan Bandara masih belum dapat ditemukan solusinya. Pemerintah terkesan lamban dalam memberikan ganti rugi yang sepadan.

Tuesday, April 28, 2015

Gereja Katolik Menolak Hukuman Mati

Terpidana Mati Asal Australia: Andrew Chan dan Myuran Sukumaran

SURAT USKUP AGUNG  UNTUK PARA IMAM DI KAJ

Para Rama yth,

1. Pada hari-hari ini, televisi, koran dan mass media lain, penuh dengan berita mengenai hukuman mati. Saya pribadi amat sedih setiap kali melihat atau membaca berita itu dan diberitakan dengan cara yang bagi saya mencederai kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam suasana seperti ini saya mengajak para Rama untuk menjelaskan kepada umat pandangan Gereja mengenai hal ini dan mengajak mereka berdoa untuk para terpidana.

2. Katekismus Gereja Katolik menyatakan : Pembelaan kesejahteraan umum masyarakat menuntut agar penyerang dihalangi untuk menyebabkan kerugian. Karena alasan ini, maka ajaran Gereja sepanjang sejarah mengakui keabsahan hak dan kewajiban dari kekuasan politik yang sah, menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan beratnya kejahatan, tanpa mengecualikan hukuman mati dalam kejadian-kejadian yang serius  (KGK 2266). Menurut Katekismus ini, hukuman mati diperbolehkan dalam kasus-kasus yang sangat parah kejahatannya. Namun, apabila terdapat cara lain untuk melindungi masyarakat dari penyerang yang tidak berperi-kemanusiaan, cara-cara lain ini lebih dipilih daripada hukuman mati karena cara-cara ini dianggap lebih menghormati harga diri seorang manusia dan selaras dengan tujuan kebaikan bersama (bdk KGK 2267). Di sini terjadi peralihan tentang konsep hukuman mati bagi Gereja. KGK 2267 ini diambil dari ensiklik Paus Yohanes Paulus II Evangelium Vitae.

Monday, April 27, 2015

Relasi Suku-Suku Lamaholot Lewoloba Dalam Pola Relasi Opu dan Belake

Prosesi Adat Dalam Sebuah Ritual Perkawinan di Lewoloba

Lewoloba, ND.

Dalam kehidupan masyarakat adat Lamaholot, relasi Opu dan Belake adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Opu adalah sapaan untuk seseorang/sekelompok orang dalam ikatan suku yang telah menikahi anak perempuan belake. Belake adalah sapaan untuk seseorang/sekelompok orang dalam ikatan suku yang anak perempuannya dinikahi oleh Opu. Dalam urusan adat perkawinan, sebagai imbalan karena telah menikahi anak gadis Belake, maka Opu akan memberikan mas kawin / belis berupa gading atau bentuk lain yang disepakati oleh kedua belah pihak. Sebagai bahan iringan, Opu biasanya membawa serta kambing, ayam, dan tebu. Dan sebagai balasan, belake biasanya memberikan sarung adat, entah berupa lipa atau kewatek, dan ikan (asin/kering) kepada Opunya.