Negarakertagama
merupakan kakawin yang menceritakan kisah Raja Majapahit, Hayam Wuruk
yang melakukan pelesiran ke daerah Blambangan dan dalam perjalanan
pulang beliau singgah di Singosari. Dalam naskah ini juga dikisahkan
peranan patih Gajah Mada sebagai perdana Mentri yang mumpuni. Masih
dalam naskah Negarakertagama ini dikisahkan bahwa Prabu Hayam Wuruk
sebagai penguasa yang sangat adil dalam memerintah dan taat menjalankan
aturan agama. Sebagai contoh Raja Hayam Wuruk menghukum mati Demung Sora
yang merupakan seorang menterinya, karena dianggap bersalah setelah
membunuh Mahesa Anabrang yang ternyata tidak berdosa (lempir ke 73).
Dengan demikian Demung Sora telah telah melanggar pasal Astadusta dari
kitab Undang undang Kitab Kutara Manawadarmasastra itu. Naskah
Negarakertagama yang merupakan karya pujangga besar empu Prapanca ini
kini tersimpan di Perpustakaan Nasional RI dan menjadi salah satu koleksi kebanggaannya.
Berikut adalah terjemahan lengkap kitab Negarakertagama:
“Om awignam astu namas sidam”
Sembah
puji dari hamba yang hina ini ke bawah telapak kaki sang pelindung
jagat. Raja yang senantiasa tenang tenggelam dalam samadi, raja segala
raja, pelindung orang miskin, mengatur segala isi negara. Sang
dewa-raja, lebih diagungkan dari yang segala manusia, dewa yang tampak
di atas tanah. Merata, serta mengatasi segala rakyatnya, nirguna bagi
kaum Wisnawa, Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, hartawan bagi
Jambala, Wagindra dalam segala ilmu, dewa Asmara di dalam cinta berahi.
Dewa Yama di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin damai dunia.
Demikianlah
pujian pujangga sebelum menggubah sejarah raja, kepada Sri Nata Rajasa
Nagara, raja Wilwatikta yang sedang memegang tampuk tahta. Bagai titisan
Dewa-Batara beliau menyapu duka rakyat semua. Tunduk setia segenap bumi
Jawa bahkan seluruh nusantara. Pada tahun 1256 Saka, beliau lahir untuk
jadi pemimpin dunia. Selama dalam kandungan di Kahuripan telah tampak
tanda keluhuran. Bumi gonjang-ganjing, asap mengepul-ngepul, hujan abu,
guruh halilintar menyambar-nyambar. Gunung Kelud gemuruh membunuh
durjana, penjahat musnah dari negara. Itulah tanda bahwa Sanghyang Siwa
sedang menjelma bagai raja besar. Terbukti, selama bertakhta seluruh
tanah Jawa tunduk menadah perintahnya. Wipra, satria, waisya, sudra,
keempat kasta sempurna dalam pengabdian. Durjana berhenti berbuat jahat
takut akan keberanian Sri Nata. Sang Sri Padukapatni yang ternama adalah
nenek Sri Paduka. Seperti titisan Parama Bagawati memayungi jagat raya.
Selaku wikuni tua tekun berlatih yoga menyembah Buda. Tahun 1272
kembali beliau ke Budaloka. Ketika Sri Padukapatni pulang ke Jinapada
dunia berkabung. Kembali gembira bersembah bakti semenjak Sri Paduka
mendaki takhta. Girang ibunda Tri Buwana Wijaya Tungga Dewi mengemban
takhta bagai rani di Jiwana resmi mewakili Sri Narendraputra.
Beliau
bersembah bakti kepada ibunda Sri Padukapatni. Setia mengikuti ajaran
Buda, menyekar yang telah mangkat. Ayahanda Sri Paduka Prabu ialah Prabu
Kerta Wardana. Keduanya teguh beriman Buda demi perdamaian praja.
Paduka Prabu Kerta Wardana bersemayam di Singasari. Bagai Ratnasambawa
menambah kesejahteraan bersama. Teguh tawakal memajukan kemakmuran
rakyat dan negara. Mahir mengemudikan perdata bijak dalam segala kerja.
Putri Rajadewi Maharajasa, ternama rupawan. Bertakhta di Daha, cantik
tak bertara, bersandar enam guna. Adalah bibi Sri Paduka, adik maharani
di Jiwana. Rani Daha dan rani Jiwana bagai bidadari kembar.
Laki
sang rani Sri Wijayarajasa dari negeri Wengker. Rupawan bagai titisan
Upendra, mashur bagai sarjana. Setara raja Singasari, sama teguh di
dalam agama. Sangat mashurlah nama beliau di seluruh tanah Jawa. Adinda
Sri Paduka Prabu di Wilwatikta : Putri jelita bersemayam di Lasem. Putri
jelita Daha cantik ternama. Indudewi putri Wijayarajasa. Dan lagi putri
bungsu Kerta Wardana. Bertakhta di Pajang, cantik tidak bertara. Putri
Sri Baginda Jiwana yang mashur. Terkenal sebagai adinda Sri Paduka.
Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana. Laki tangkas rani
Lasem bagai raja daerah Matahun. Bergelar Rajasa Wardana sangat bagus
lagi putus dalam daya raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan
Pinggala. Sri Singa Wardana, rupawan, bagus, muda, sopan dan perwira
bergelar raja Paguhan, beliaulah suami rani Pajang. Mulia pernikahannya
laksana Sanatkumara dan dewi Ida. Bakti kepada raja, cinta sesama,
membuat puas rakyat. Bre Lasem menurunkan putri jelita Nagarawardani
Bersemayam sebagai permaisuri Pangeran Wirabumi. Rani Pajang menurunkan
Bre Mataram Sri Wikrama Wardana bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil
utama Sri Narendra.
Putri
bungsu rani Pajang memerintah daerah Pawanuhan. Berjuluk Surawardani
masih muda indah laksana lukisan. Para raja pulau Jawa masing-masing
mempunyai negara. Dan Wilwatikta tempat mereka bersama menghamba
Srinata. Melambung kidung merdu pujian Sang Prabu, beliau membunuh
musuh-musuh. Bak matahari menghembus kabut, menghimpun negara di dalam
kuasa. Girang janma utama bagai bunga kalpika, musnah durjana bagai
kumuda. Dari semua desa di wilayah negara pajak mengalir bagai air. Raja
menghapus duka si murba sebagai Satamanyu menghujani bumi. Menghukum
penjahat bagai dewa Yama, menimbun harta bagaikan Waruna. Para telik
masuk menembus segala tempat laksana Hyang Batara Bayu. Menjaga pura
sebagai dewi Pretiwi, rupanya bagus seperti bulan. Seolah-olah Sang
Hyang Kama menjelma, tertarik oleh keindahan pura. Semua para putri dan
isteri sibiran dahi Sri Ratih. Namun sang permaisuri, keturunan
Wijayarajasa, tetap paling cantik paling jelita bagaikan Susumna, memang
pantas jadi imbangan Sri Paduka.
Berputralah
beliau putri mahkota Kusuma Wardani, sangat cantik rupawan jelita mata,
lengkung lampai, bersemayam di Kabalan. Sang menantu Sri Wikrama
Wardana memegang hakim perdata seluruh negara. Sebagai dewa-dewi mereka
bertemu tangan, menggirangkan pandang. Tersebut keajaiban kota : tembok
batu merah, tebal tinggi, mengitari pura. Pintu barat bernama Pura
Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon brahmastana
berkaki bodi berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Di situlah
tempat tunggu para tanda terus menerus meronda jaga paseban. Di sebelah
utara bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir. Di sebelah
timur : panggung luhur, lantainya berlapis batu putih-putih mengkilat.
Di bagian utara, di selatan pekan rumah berjejal jauh memanjang sangat
indah.
Di
selatan jalan perempat : balai prajurit tempat pertemuan tiap Caitra.
Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah, menghadap padang
watangan. Yang meluas ke empat arah, bagian utara paseban pujangga dan
Mahamantri Agung. Bagian timur paseban pendeta Siwa-Buda yang bertugas
membahas upacara. Pada masa grehana bulan Palguna demi keselamatan
seluruh dunia. Di sebelah timur pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari
kuil Siwa. Di selatan tempat tinggal wipra utama tinggi bertingkat
menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat, di utara
tempat Buda bersusun tiga. Puncaknya penuh berukir, berhamburan bunga
waktu raja turun berkorban. Di dalam, sebelah selatan Manguntur tersekat
dengan pintu, itulah paseban. Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke
barat, disela tanjung berbunga lebat. Agak jauh di sebelah barat daya:
panggung tempat berkeliaran para perwira. Tepat di tengah-tengah halaman
bertegak mandapa penuh burung ramai berkicau. Di dalam di selatan ada
lagi paseban memanjang ke pintu keluar pura yang kedua.