Showing posts with label Larantuka. Show all posts
Showing posts with label Larantuka. Show all posts

Friday, March 13, 2020

MENCERMATI KASUS PENURUNAN STANDAR BIAYA HONORARIUM TENAGA PENDUKUNG TEKNIS PERKANTORAN RSUD DR. HENDRIKUS FERNANDEZ LARANTUKA DARI PERSPEKTIF HUKUM

Nick Doren Lewoloba
Sejumlah Tenaga Kesehatan RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka Ketika Memperjuangkan Nasibnya



1.1. Latar Belakang Peristiwa
                        Pada tanggal 03 Maret Tahun 2020, publik Flores Timur dihebohkan dengan aksi 70-an Tenaga Kesehatan RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka yang mogok kerja demi memperjuangkan besaran honorariumnya yang akan diturunkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur. Mereka dengan tegas menolak rencana Pemerintah Daerah untuk menurunkan besaran honorariumnya dari Rp. 1.800.000,00 (untuk tenaga kesehatan berijazah S1/sederajat) dan Rp.1.600.000,00 (untuk tenaga kesehatan berijazah D-III) ke Rp. 1.150.000,00 (Tenaga Pendukung Teknis Perkantoran). Mereka kemudian mendatangi gedung DPRD Kabupaten Flores Timur untuk menyampaikan aspirasi mereka.
                        Pada tanggal 04 Maret 2020, Komisi C DPRD Kabupaten Flores Timur menggelar rapat kerja dengan Pihak terkait dari unsur Pemerintah Daerah bersama tenaga kesehatan RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka. DPRD Kabupaten Flores Timur berdiri sebagai Pihak yang memperjuangkan nasib tenaga kesehatan tersebut agar honorariumnya tidak diturunkan. Mereka berharap agar Pemerintah Daerah tetap berpegang pada Kontrak yang telah disepakati bersama pada tanggal 25 Januari 2020 (antara Direktur RSUD dan Tenaga Kesehatan), Permenkes Nomor 1199/MENKES/PER/X/2004 tentang Pedoman Pengadaan Tenaga Kesehatan dengan Perjanjian Kerja di Sarana Kesehatan Milik Pemerintah,  Perda APBD Kabupaten Flores Timur Tahun 2020 dan Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 25 Tahun 2019 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2020 (ditetapkan tanggal 20 Juni 2019).

Tuesday, September 5, 2017

Bupati Flores Timur Mencanangkan Pengenaan Tenun Ikat Lamaholot Bagi ASN Kabupaten Flores Timur


Nick Doren - Lewoloba
ASN BKPP Kab. Flores Timur Mengenakan Kwatek dan Nowing Lamaholot Flores Timur
Suasana berbeda tampak jelas di halaman depan kantor Bupati Flores Timur pada Senin, 5 September 2017. Semua ASN dan tenaga honorer lingkup Pemerintah Kabupaten Flores Timur mengenakan busana adat Lamaholot, nowing / senai (sarung untuk pria) dan kewatek (sarung untuk wanita) pada apel kekuatan lingkup Pemerintah Kabupaten Flores Timur yang dipimpin langsung oleh Bupati Flores Timur, Antonius H. Gege Hadjon, ST. Pengenaan busana adat ini merupakan implementasi dari Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 49 Tahun 2017 tentang Pakaian Dinas Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan Instruksi Bupati Flores Timur Nomor HK.188.5.5/1/2017 tentang Pelaksanaan Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 49 Tahun 2017 tentang Pakaian Dinas Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Flores Timur. Dalam Perbup dan peraturan turunannya ada hal baru yang belum diatur sebelumnya, yaitu mengenai pemakaian busana adat Lamaholot Flores Timur, nowing / senai dan kewatek, pada setiap senin pertama dalam bulan. 

Dalam sambutannya, Bupati Flores Timur mengapresiasi ASN yang mengenakan pakaian adat Lamaholot. Bupati pun mengajak semua ASN untuk mencintai adat / budaya Lamaholot dan membeli produk ikat tenun yang dihasilkan oleh masyarakat Flores Timur. ASN hendaknya menjadi pelopor dalam hal mencintai produk lokal Lamaholot melalui pengenaan nowing/senai dan kewatek secara rutin. Diharapkan melalui pencanangan pengenaan pakaian adat Lamaholot dapat meningkatkan rasa cinta masyarakat terhadap produk lokal, menumbuhkan kesadaran di tengah orang-orang muda Flores Timur untuk terlibat aktif dalam upaya melestarikan adat dan budaya Lamaholot.

Thursday, February 25, 2016

Keluarga Sebagai Gereja Rumah (Ecclesia Domestica)

Ilustrasi Keluarga Katolik

Tema Aksi Puasa Pembangunan Tahun 2016 Keuskupan Larantuka tentang keluarga sebagai Gereja Rumah (Ecclesia Domestica) sungguh-sungguh mencerminkan keprihatinan Gereja terhadap kondisi keluarga-keluarga Krisiani saat ini. Sadar atau tidak, zaman digitalisasi yang serba portable turut memberikan kontribusi bagi mundurnya pengaruh nilai-nilai agama pada diri seseorang. Orang menarik agama ke dalam ruang privat dan menguncinya rapat-rapat, tak ada peluang bagi orang lain untuk mempengaruhinya. Sialnya, penarikan agama ke ruang super privat ini tidak ditopang oleh pemahaman yang mendalam terhadap nilai-nilai agama yang dianutnya. Alhasil, penerapannya pada ruang publik menjadi bias, amburadul dan tak dapat dijadikan role model bagi masyarakat. Contoh nyata yang dapat kita jumpai adalah banyaknya pasangan yang hidup bersama di luar ikatan perkawinan yang sah. Malah ada pula yang "pernah" menikah lalu meninggalkan pasangannya dan hidup bersama PIL dan WIL-nya. Lihatlah, apa reaksi masyarakat terhadap persoalan ini? Mendiamkan dan membiarkan hal ini terus terjadi karena bagaimana pun juga hal ini adalah realitas yang harus diterima. Mungkin saja pasangan *maaf* kumpul kebo ini berperilaku baik di tengah masyarakat. Tetapi patut diingat bahwa manusia adalah makluk sosial (homo socius), ada nilai dan norma yang patut dijunjung tinggi. Ultimate value ini, selain sebagai dasar perilaku sosial juga merupakan perekat sosial.

Panggilan untuk menjadikan keluarga kita sebagai Gereja Rumah adalah panggilan yang luhur. Keluarga harus mencontoh teladan Maria dan Yosep yang mencari Yesus sampai dapat meskipun sebenarnya Yesus sedang mengajar di bait Allah. Masih adakah kepedulian keluarga terhadap anggotanya yang "hilang" karena telah menjauh dari kebenaran? Keluarga harus menjadi Firdaus bagi penghuninya. Tak ada gunanya hidup berkeluarga jika yang ada adalah neraka (kekacauan, kehancuran, ketidakharmonisan, dsb). Keluarga pun harus peka terhadap masalah sosial di sekitarnya karena kita dipanggil untuk menguduskan dunia.

-Nick-

Monday, April 27, 2015

Relasi Suku-Suku Lamaholot Lewoloba Dalam Pola Relasi Opu dan Belake

Prosesi Adat Dalam Sebuah Ritual Perkawinan di Lewoloba

Lewoloba, ND.

Dalam kehidupan masyarakat adat Lamaholot, relasi Opu dan Belake adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Opu adalah sapaan untuk seseorang/sekelompok orang dalam ikatan suku yang telah menikahi anak perempuan belake. Belake adalah sapaan untuk seseorang/sekelompok orang dalam ikatan suku yang anak perempuannya dinikahi oleh Opu. Dalam urusan adat perkawinan, sebagai imbalan karena telah menikahi anak gadis Belake, maka Opu akan memberikan mas kawin / belis berupa gading atau bentuk lain yang disepakati oleh kedua belah pihak. Sebagai bahan iringan, Opu biasanya membawa serta kambing, ayam, dan tebu. Dan sebagai balasan, belake biasanya memberikan sarung adat, entah berupa lipa atau kewatek, dan ikan (asin/kering) kepada Opunya.

Thursday, April 16, 2015

Memaknai Kebersamaan Dalam Suku Lewo Doren, Lewo Nuhan dan Kajo Tale

Keluarga Besar Doren dan Nuhan Sedang Menghantar Bagian Bersama


Lewoloba-ND

Dalam setiap hajatan adat di Desa Lewoloba, entah perkawinan, kematian, dsb., Suku Lewo Doren selalu ada dalam kebersamaan dengan Suku Lewo Nuhan. Dalam catatan sejarah, kebersamaan antara Lewo Doren dan Lewo Nuhan sudah terjalin sejak pendirian Kampung Suban Tupi Wato  Dowo Deka Homo. Ketika itu Lewo Doren hadir dengan membawa Lewo (Kampung); hadir dalam kapasitas penuh dan utuh. Begitu pula dengan Lewo Nuhan, hadir dengan membawa Lewo-nya. Ada kesepakatan antara kedua suku bahwa mereka adalah "Kaka Arin" (bersaudara), mereka adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dalam ikhwal perkawinan, anak lelaki Lewo Doren tidak bisa menikahi anak gadis dari Lewo Nuhan, begitu pula sebaliknya. Dan Pihak yang dipandang sebagai Belake (Pihak yang anak perempuan mereka dinikahi) atau sebagai Opu (Pihak yang menikahi anak perempuan kita) oleh Lewo Doren juga dipandang serupa oleh Lewo Nuhan.

Monday, September 29, 2014

DOB Adonara Tinggal Mimpi?

Nick Doren Lewoloba

Gegap gempita dan sorak sorai masyarakat Tadon Adonara begitu membahana ketika cita-cita menjadikan Adonara sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB) kian mendekati kenyataan. Semuanya bermula dengan wacana penetapan 65 DOB pada Bulan Juli lalu. Ketika itu pemerintah mengusulkan 65 DOB kepada DPR RI untuk ditetapkan menjadi Propinsi / Kabupaten / Kota yang baru pada Sidang Paripurna DPR RI beberapa hari silam. Dari 65 DOB, Pemerintah lantas menyempitkan jumlahnya menjadi hanya 21 DOB. 

Padatnya jadwal Sidang Paripurna DPR RI turut berpengaruh pada jadwal penetapan DOB. Semula, penetapan DOB ditetapkan pada tanggal 24 September 2014, lalu bergeser ke tanggal 25 September, dan terakhir bergeser ke tanggal 29 September. Keyakinan akan kepastian jadwal penetapan tersebut lantas mendorong pemerintah Kabupaten Flores Timur untuk mengutus 30 tokoh masyarakat ke Jakarta pada tanggal 19 September silam. Biaya transportasi dan akomodasi ke-30 TOMAS tersebut diambil dari kas daerah. Tidak berhenti sampai di situ, pada hari Senin 22 September 2014, 30 anggota DPRD Flotim, para camat se-Kabupaten Flotim, bagian pemerintahan Kab. Flotim dan sejumlah awak media diutus untuk menghadiri Sidang Paripurna DPR RI untuk mendengarkan hasil akhir keputusan Sidang yang terhormat tersebut. Dasyatnya, hingga hari ini (tgl. 29 September 2014), Adonara tak kunjung ditetapkan sebagai Kabupaten.

Harus diakui bahwa yang berwenang untuk menetapkan RUU DOB menjadi UU adalah DPR RI. Kendati demikian, media-media lokal telah banyak meyakinkan masyarakat bahwa Adonara akan benar-benar menjadi Kabupaten yang terpisah dari Flores Timur. Media lokal, termasuk juga para netizen, telah terlanjur mengambil peran yang besar dalam sebuah "kebohongan publik" terhadap masyarakat di kampung-kampung Adonara, bahwa Adonara sungguh-sungguh akan menjadi Kabupaten. Masyarakat yang tidak memiliki akses informasi yang baik, lantas mempersiapkan sejumlah acara penyambutan Kabupaten Baru. Di Waiwerang, beberapa spanduk berisi "selamat Kabupaten Adonara" telah terpasang di sejumlah sudut kota. Pemilik POM bensin Waiwerang menggratiskan bahan bakar kendaraan bermotor selama satu hari untuk pawai keliling Kec. Adonara Timur. Tidak hanya itu, untuk perayaan ini, pada tanggal 25 September 2014, masing-,masing desa di Adonara diharapkan menyumbangkan dua ekor ayam untuk acara syukuran. 

Gegap gempita ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Adonara di Pulau Adonara saja, tetapi juga masyarakat Adonara di beberapa tempat lain, termasuk di Jakarta. Masyarakat Adonara Jakarta telah mempersiapkan acara syukuran di Lantai 5 Univ. Atmajaya Jakarta pada hari ini. Sejumlah SMS beredar agar warga Adonara dapat berpartisipasi dalam acara dimaksud.

Namun semuanya kini tampak diam membisu ketika sampai dengan saat ini Adonara belum juga ditetapkan menjadi Kabupaten. Sejenak kita bertanya, di manakah Anggota DPR RI asal NTT yang "katanya" turut berjuang secara maksimal untuk meng-kabupaten-kan Adonara? Sejumlah pihak bahkan telah menyebutkan bahwa Anggota DPR RI asal NTT tertentu telah mendapatkan bocoran bahwa Adonara telah pasti menjadi Kabupaten. Tinggal tunggu tanggal penetapannya. Dan rasa-rasanya masa "tunggu" itu harus diperpanjang entah sampai kapan. Jika bukan sekarang, dapat dipastikan bahwa cita-cita Adonara menjadi Kabupaten akan menghadapi banyak tantangan, atau bahkan hanya tinggal mimpi yang tak pasti..

Thursday, September 11, 2014

Kadis Koperasi dan UKM Kab. FLores Timur Menutup Diklat Pengawas


Nick Doren - Lewoloba
Diklat Pengawas Koperasi dan UKM Kab. Flores Timur

Dalam rangka memperkuat fungsi dan peran pengawas koperasi dan kelompok, Dinas Koperasi dan UKM Kab. Flores Timur mengadakan Diklat untuk pengawas Koperasi dan Kelompok se-Kab. Flores Timur selama tiga hari, yaitu sejak tanggal 9 s.d. 11 September 2014. Kegiatan Diklat ini dibuka dan ditutup oleh Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kab. Flores Timur, Bpk. Drs. Frederik S. Bili. Diklat yang digelar di aula Dekopindo Kab. Flores Timur ini dihadiri oleh sekitar 30 utusan Pengawas dari Koperasi dan Kelompok yang ada di Kab. Flores Timur.

Sebagai informasi, Kab. Flores Timur memiliki138 Koperasi aktif, dan 40 Koperasi yang tidak aktif. Koperasi-koperasi aktif memiliki modal sendiri sebesar Rp89.955.400.131,- Sedangkan jumlah UKM yang ada saat ini adalah sebanyak 617 UKM dengan besaran modal sendiri sebesar Rp2.392.665.000,- Kondisi ini tentu saja masih kurang bersaing dengan jumlah dan kapital Koperasi dan Kelompok yang ada di Pulau Jawa.

Dalam sambutannya pada acara penutupan Diklat Pengawas ini, Kadis Koperasi dan UKM mendorong peserta Diklat untuk mengambil peran sentral dalam memajukan Koperasi dan Kelompoknya. Persoalan terbesar yang dihadapi koperasi dan kelompok yang ada di Kab. Flores Timur saat ini adalah keterbatasan Sumber Daya Manusia yang mumpuni untuk me-manage Koperasi secara baik. Sekalipun demikian, keseriusan untuk mengembangkan Koperasi dan Kelompok di Kab. Flores Timur adalah kekuatan yang sangat berharga yang dimiliki anggota, pengurus, dan pengawas koperasi saat ini. Kadis Koperasi dan UKM menambahkan pentingnya laporan periodik dari pengurus koperasi dan kelompok kepada Dinas agar Dinas dapat mengikuti perkembangan Koperasi dan Kelompok bersangkutan untuk selanjutnya dapat diambil langkah pendampingan dan pengawasan yang perlu.

Senada dengan Kadis Koperasi dan UKM, Bpk. Romanus Ndate, SE. MM., selaku Widya Swara dalam diklat pengawas memberikan apresiasi kepada semangat peserta Diklat. Beliau membandingkannya dengan antusiasme peserta yang kurang pada peserta Diklat yang sama pada beberapa Kabupaten yang didatanginya. Sebagai pembawa materi Akuntansi, Bpk. Romanus menekankan pentingnya peran Pengawas dalam mencermati secara jeli laporan keuangan yang disajikan oleh para pengurus Koperasi dan Kelompok. Kejelian ini tentu saja harus ditunjang dengan penguasaan akuntansi dasar secara memadai.

Pada akhir Diklat, wakil peserta Diklat mengapresiasi acara yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan UKM Kab. Flores Timur ini. Semuanya ini dilaksanakan untuk memajukan Koperasi dan Kelompok yang ada di Lewotanah Lamaholot tercinta.
 Salam Koperasi!!




Wednesday, August 13, 2014

Pembukaan Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-69 Desa Lewoloba

Nick Doren


Pada hari Senin, 11 Agustus 2014, Desa Lewoloba telah membuka secara resmi rangkaian kegiatan Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-69 tingkat Desa Lewoloba. Acara pembukaan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Desa Lewoloba, Bpk. Frans Roy Hurint, di Lapangan Bola Kaki Desa Lewoloba.


Acara Pembukaan ini sempat mengalami penundaan dari jadwal sebelumnya karena ada peristiwa kedukaan di Lewotanah, yaitu meninggalnya Bpk. Karolus Keba Hurint. Acara dibuka dengan Apel Pembukaan dan dilanjutkan dengan Pertandingan Futzal Usia Dini antara Dusun I Vs Dusun III.

Kepala Desa Lewoloba menekankan pentingnya mengangkat budaya Lokal dan menjaga sportofitas dalam setiap perlombaan dan pertandingan yang diadakan. Keterlibatan warga sangat diharapkan mengingat hajatan Peringatan HUT Kemerdekaan merupakan hajatan Nasional.
posted from Bloggeroid

Saturday, October 12, 2013

Mari Satukan Hati Tuk Bangun Lewoloba

Tepat tanggal 20 September 2013, salah satu putera terbaik Lewoloba, Fransiskus Roy Hurint akhirnya dilantik menjadi Kepala Desa Lewoloba. Beliau menggantikan Bapak Yohanes Lewa Doren yang telah purna bakti. Suksesi kepemimpinan Desa yang terletak 8 km dr Kota Larantuka ini terbilang alot. Ketegangan selama tahapan pemilihan belum sepenuhnya diredam. Sebelumnya, Fransiskus Roy Hurint berkompeitisi dengan Yosep Ratu Doren untuk merebut posisi Kepala Desa Lewoloba.
Ada beberapa persoalan yang saya perhatikan menjelang pelantikan dan pada hari pelantikan kepala desa. Persoalan Pertama adalah ketidakpastian tanggal pelantikan. Semula, direncanakan pelantikan akan dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2013, namun pada akhirnya berlangsung pada tanggal 20 bulan berikutnya. Masa transisi yang lama menimbulkan keresahan dan penilaian yang macam-macam di kalangan masyarakat. Bahkan ada sekelompok masyarakat yang menilai bahwa penundaan yang lama itu sengaja dilakukan oleh pihak tertentu untuk menghambat suksesi kepemimpinan. Dugaan-dugaan itu segera ditepis dengan keluarnya SK Pengangkatan Bupati Flores Timur yang diikuti dengan kepastian tanggal pelantikan.
Persoalan kedua berkaitan dengan ritual adat pelantikan. "Nugo Balik", tusukan sate yang pernah dikembalikan oleh bapa suku Mela Hurint, dipersoalkan oleh tokoh-tokoh adat. Nugo yang melambangkan persatuan adat yang dikembalikan tersebut dipandang sebagai suatu kesalahan adat yang harus dipulihkan jika Kepala Desa terpilih berkehendak untuk diurapi secara adat. Persoalan ini tidak dituntaskan sampai pada saat pelantikan, sehingga Kades baru tidak diurapi secara adat.
Persoalan ketiga muncul pada saat pelantikan. Suasana "panas" sudah mulai terjadi selama proses perarakan Kepala Desa terpilih dari rumahnya menuju ke Balai Desa Lewoloba. Sejumlah ibu-ibu dari suku Mela Hurint meneriaki lawan politik Kades terpilih dengan nada yang keras dan lantang. Mereka seolah tidak menerima berbagai perlakuan yang tidak layak yang ditujukan kepada saudara mereka, termasuk persoalan tidak di-adat-kannya Kepala Desa terpilih. Ketegangan berlanjut sampai kepada acara santap siang. Penyajian daging "RW" sebagai salah satu menu dianggap sebagai penghinaan, karena daging tersebut identik dengan suasana yang panas. Dalam sambutannya, Kepala Desa baru pun mengajak tetamu undangan yang ada untuk makan bersama di kediamannya.
Ada beberapa persoalan lagi yang menuntut adanya penyelesaian yang tuntas. Tetapi saya membatasi diri untuk hanya menuliskan sebagian saja dari banyaknya persoalan yang ada.
Tulisan ini tidak bertendensi untuk memihak kepada satu kelompok dan memojokkan kelompok lainnya. Ini adalah ungkapan keprihatinan golongan muda atas berbagai kekisruan dan ketegangam yang terjadi. Kini pemimpin kita sudah ada, tak ada gunanya lagi kita memposisikan diri sebagai lawan pemerintah. Terlalu riskan bagi kita untuk tetap bertahan sebagai lawan selama kurang lebih 6 tahun ke depan. Alangkah baiknya bagi kita untuk bersatu dan membangun Lewotanah tercinta, Lewoloba. Semoga demikian. Salam.

Saturday, August 3, 2013

Taman Kota Larantuka Sentra Peserta Sail Komodo




Pemerintah Kabupaten Flores Timur (Flotim) menyiapkan Taman Kota yang terletak di Kelurahan Lokea menjadi titik sentra persinggahan peserta Sail Komodo NTT 2013. Pemerintah setempat melalui Dinas Pariwista dan Kebudayaan Flotim sudah mulai 'mempercantik wajah' Taman Kota dengan memasang baliho-baliho selamat datang. Baliho lainnya juga menuliskan 'Jembatan Emas Menuju NTT Menjadi Destinasi Utama Pariwisata Dunia' juga terpasang di pusat perkotaan Larantuka.
Walau demikian, Kota Larantuka masih 'kumuh' karena sampah bertebaran di mana-mana. Begitu juga dengan banyaknya pengecer yang menguasai jalan raya sepanjang jalan Kota Larantuka. Kepala Bidang Promosi Pariwisata di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flotim, Katarina Rin Riberu, S.Ip yang dihubungi, Rabu (31/7/2013) mengatakan, saat ini ada empat mitra Dinas Pariwisata, diantaranya Perhimpunan Hotel Rumah Makan Indonesia (PHRI), Himpunan Pramu Wisata Indonesia (HPI), Tour Manajemen Organisasi (TMO) sedang mempersiapkan sejumlah hal untuk menyukseskan Sail Komodo NTT yang rencananya akan tiba di Flotim pada 20-23 Agustus 2013 mendatang. Acara pembukaan, kata Rin, akan berlangsung di Taman Kota yang diikuti dengan rangkaian acara seni musik, peragaan busana adat dan lounching Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Flotim. "Saat pembukaan diikuti juga dengan mengunjungi pameran yang sudah disiapkan sebanyak 20-an stan. Stan umumnya menyiapkan asesoris dan barang-barang budaya asli Flotim,"kata mantan Kasubag Protokol Humas Pemkab Flotim ini.
Usai acara pembukaan, jelas Rin, para tamu akan disiapkan dinner langsung di taman kota dan diiringi hiburan-hiburan yang menampilkan seni musik daerah. "Semua acara itu untuk menghibur para tamu dan masyarakat,"jelasnya. Usai acara hiburan, keesokannya para tamu akan tour wisata ke Lewokluok, Kecamatan Demon Pagong dan ke Lewotala, Kecamatan Lewolema untuk melihat wisata alam dan selanjutnya para tamu berkunjung ke tempat bersejarah peninggalan Portugis atau wisata religi di Kapela Tuan Ma, Kapela Tuan Ana dan Kapela Tuan Menino serta ke museum Mgr. Gabriel Manek dan ke Panti Asuhan Pelangi. Pemerintah juga menyiapkan loundry yang langsung ditangani kelompok masyarakat, Oa Dasanto dan Petronela Riberu. "Pemerintah melalui bank terdekat menyiapkan money sanjer (pertukaran uang) yang berpusat di pos informasi yang bertempat di Panti Suster Balela, Kelurahan Balela. Di pos itu juga disiapkan guide,"tambahnya. (iva)

Tuesday, August 28, 2012

Resiko Menyimpan Uang di LKF Mitra Tiara

 Syallom kaka arin wangkaen. Perkenankan saya mengungkapkan sedikit pandangan saya tentang fenomena Lembaga Keuangan non-bank, LKF Mitra Tiara, yang saat ini sedang digandrungi banyak orang di lewotanah. Space yang terbatas, membuat saya harus menuliskannya dalam sebuah note.

Sebelumnya saya tidak pernah mengenal nama Lembaga Kredit Finansial Mitra Tiara, apalagi orang-orang yang mengurusnya. Lembaga ini justru saya kenal di jejaring sosial Facebook, khususnya lewat group "Suara Flotim", dan "Poksi Jo (Kelompok Simpatisan Jo)." Lembaga keuangan yang sudah menajalankan usahanya selama sekitar 2 tahun ini dikritik karena berani memberikan bunga deposito sebesar 10 % per bulan. Harus diakui, bahwa bunga 10 % adalah angka yang fantastis untuk sebuah lembaga keuangan non-bank yang baru melebarkan sayapnya di bisnis keuangan. 

Sejauh ini memang belum ditemukan adanya laporan tentang kerugian yang disebabkan oleh kinerja lembaga ini. Tetapi, kita patut menaruh curiga atas LKF Mitra Tiara dengan berbagai alasan sebagai berikut:

1.      Bunga Deposito 10  % adalah Angka yang Fantastis
Memiliki uang yang banyak tanpa banyak berusaha adalah harapan banyak orang, termasuk saya.  Harapan ini ternyata ditangkap oleh LKF Mitra Tiara. Lembaga Kredit Finansial ini menjawab keinginan masyarakat pemodal dengan memberikan bunga deposito 10 persen per bulan. Nah, jika Anda mendepositkan uang Rp50 juta di LKF tersebut, maka setiap bulan Anda berhak mendapatkan bunga Rp5 juta per bulan. Dan dalam kurun waktu 10 bulan, bunga yang Anda terima dari LKF sudah menyamai besarnya pokok simpanan Anda di lembaga tersebut, alias sudah "balik modal". Sekilas memang tampak menggiurkan.

Patut Anda ketahui bahwa bunga deposito yang ditetapkan Bank Indonesia adalah 5,76 % per bulan; 6, 33 % per 3 bulan; dan 6,74 % per 6 bulan. Rata-rata bank besar memberikan bunga simpanan sebesar 5,5 persen, setara dengan rasio bunga yang ditetapkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dan bank yang paling tinggi memberikan bunga simpanan adalah Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang memberikan bunga hingga 7,4 % per bulan dan 7,8 % per 3 bulan. 

Jadi, apabila dibandingkan dengan bunga yang diberikan bank (rata-rata 5,5% per bulan), maka bunga LKF Mitra Tiara lebih “baik”, tetapi sangat beresiko.

2.  Jika Uang Anda Sengaja Dihilangkan, Jangan Pernah Berharap Uang Itu Kembali
                        Sebagai lembaga keuangan non-bank, uang yang ada di LKF Mitra Tiara tidak dijaminkan kepada LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), karena LPS hanya menjamin uang yang disimpan di bank, yaitu maksimal 2 milliar. Jadi, jika uang Anda yang disimpan di LKF digelapkan, maka untuk selamanya uang Anda tidak akan pernah kembali lagi. Tetapi jika Anda menyimpan uang Anda di bank, maka pasti uang Anda akan dikembalikan.

3.      Kurang Tersedia Informasi Tentang LKF Mitra Tiara
                        Banyak informasi yang beredar menyatakan bahwa sebagian besar orang yang menyimpan uangnya di LKF Mitra Tiara hanya “ikut arus”, atau hanya ikut-ikutan saja menyimpan uangnya di LKF, tanpa mereka sendiri datang dan menanyakan informasi yang lengkap dan jelas di kantor LKF Mitra Tiara yang ada di Kelurahan Amagarapati, Larantuka. Informasi ini biasanya didengarkan dari kesaksian orang-orang yang telah menyimpan uangnya di LKF dan telah mendapatkan keuntungan (mungkin sesaat) dari simpanannya tersebut. 

                        Sebelum Anda menyimpan uang Anda di LKF Mitra Tiara, jangan lupa menanyakan siapa pemiliknya (termasuk sepak terjangnya di masyarakat), struktur organisasi LKF, serta di mana dan bagaimana uang Anda dikelola. 

4.      Lembaga “Kredit” Finansial Tetapi Tidak Melayani Kredit
                        Sejumlah kesaksian yang diberikan oleh group FB Suara Flotim menyatakan bahwa Lembaga “Kredit” Finansial ini tidak melayani permintaan kredit bagi anggotanya. Di mana-mana, koperasi kredit menyediakan layanan kredit kepada anggotanya. Sialnya, lembaga kredit yang satu ini tidak memberikan kredit kepada anggotanya. Masyarakat patut mencurigai, jangan-jangan pemilik dan pengelola LKF Mitra Tiara sedang menghimpun dana dari anggotanya dengan maksud untuk menggelapkannya?
5.  Banyak Kasus Membuktikan Bahwa Lembaga Keuangan Yang Memberikan Bunga Fantastis, Pada Akhirnya Melarikan Uang Anggotanya.
                        Anda tentunya masih ingat apa yang terjadi dengan Koperasi Langit Biru (KLB) milik Jaya Komara di Cikasungka, Banten. Anggota koperasi ini mencapai ratusan ribu orang dengan besar simpanan mencapai Rp6 triliun. Pemilik dan isterinya, yang secara mendadak menjadi salah satu orang terkaya di tempatnya, pada akhirnya berhasil menggelapkan uang anggotanya. Saya yakin, Anda sebagai masyarakat pemodal, dan calon pemodal tentu saja tidak mau nasib sama seperti yang dialami anggota Koperasi Langit Biru. 

                        Tulisan ini hanya merupakan ekspresi kecemasan saya terhadap fenomena penggelapan uang berkedok koperasi kredit. Silakan Anda mempertimbangkan keputusan Anda untuk menyimpan uang Anda di LKF Mitra Tiara.

Monday, July 23, 2012

Yohanes Lewa Doren: "Ketakutan terbesarku adalah mengambil apa yang tidak seharusnya kuambil"

Dengan bangga hati ingin kutuliskan sedikit dari yang kuketahui tentang ayahku, Yohanes Lewa Doren. DOWNLOAD bentuk Ms-Word di sini.

Yohanes Lewa Doren adalah kepala desa Lewoloba, yang menjabat sejak 2008 sampai dengan 2013. Beliau akrab disapa dengan nama Anis Doren. Ia menikah dengan Maria Nogo Ritan dan memiliki dua putera dan tiga puteri dari perkawinannya ini.

1. Masa Kecil

Anis Doren dilahirkan di Lewoloba, sebuah desa kecil di Larantuka, Flores Timur pada tanggal 24 Januari 1950 dari pasangan Paulus Laba Doren (Laba Poelon) dan Tekla Sabu Hurint. Ia memiliki seorang saudari bernama Ema Doren. Kakeknya, Pulo Doren, adalah seorang kakang (pejabat lokal yang diangkat kolonial Belanda). Kecintaan kakeknya kepada perjuangan untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda melalui sejumlah pemberontakan lokal membuatnya diasingkan di tanah Aceh oleh pemerintahan Hindia Belanda bersama dengan Adi Daruk Tukan dari Lewotala. Ketika itu Anis masih sangat kecil. Hanya sedikit memori yang tersimpan tentang kakeknya ini. Ketika kakeknya akan dibawa Belanda menuju pengasingan di Aceh, kakeknya hanya membelikan sebuah kerupuk berukuran besar untuknya sambil berpesan, "Lanjutkan perjuanganku!"

Orangtua Anis, Laba dan Sabu, berprofesi sebagai petani. Mereka sangat menekankan pentingnya kerja keras dan kejujuran. Orangtuanya sangat mencintai Anis, karena Anis kecil sudah mampu memberikan kritik kepada orangtuanya. Anis mengikuti teladan orangtuanya dalam hal kerja keras. Suatu ketika desa Lewoloba terkena dampak kelaparan yang menghantam seluruh penjuru Flores Timur. Keluarga Laba dan Sabu berhutang cukup banyak kaleng padi (sebesar kaleng Khong Guan besar) pada tetangganya. Anis kemudian berladang dan berhasil menutupi hutang keluarga, bahkan kelebihannya dapat mencukupi kebutuhan beras untuk satu tahun. 

2. Masa Muda dan Keluarga
Anis Muda ingin melanjutkan pendidikannya di Kupang. Pada tahun 1966, Anis berangkat ke Kupang dengan menggunakan sebuah kapal kayu. Keberangkatannya ini dinilainya sebagai pukulan telak untuk ayahnya yang menginginkannya tetap di Larantuka. Ayahnya kemudian meninggal pada tahun 1975. Sesampainya di Kupang ia mendaftarkan dirinya di STM Negeri Kupang. Anis mengambil studi Bangunan di sekolah tersebut, karena dia sangat berkeinginan besar untuk menjadi seorang tukang batu (bricklayer). Setelah menyelesaikan pendidikannya di sekolah tersebut, dia menggeluti profesi tukang batu dan tukang kayu. Di Kupang, Anis turut berperan besar dalam pembangunan sejumlah gereja, sekolah, dan kantor pemerintahan. 

Pada tahun 1977, dia berkenalan dengan seorang gadis asal Desa Wailolong yang bernama Maria Nogo Ritan. Keduanya hidup bersama dan melahirkan Puteri pertama mereka, Vinsensia Sabu Doren pada tanggal 30 November 1979.  Kemudian, pada tanggal 8 Maret 1981, lahirlah anak ke-2 mereka, Thomas Laba Doren. Ketika itu hubungan keduanya belum disahkan di gereja (Katolik). Hubungan keduanya baru diresmikan pada tahun 1983. Pada tahun yang sama, Anis dan Mia beserta Putera dan Puteri mereka berpindah dari Kupang ke Lewoloba, Larantuka. Pada 6 Desember 1984, lahirlah putera ke-2 mereka, Nikolaus Deka Doren. Berikut pada 9 Juli 1989, lahirlah puteri ke-2 mereka Yuliana Carolina Djawa Doren. Puteri bungsu mereka, Oktaviana Gunu Doren, akhirnya lahir pada tanggal 10 Oktober 1992. 

3. Kepala Desa Lewoloba
Setelah beberapa tahun bekerja sebagai tukang bangunan, Anis diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil pada Dinas Kehutanan Kabupaten Flores Timur pada tahun 1981. Pada tahun 1989 Anis bertugas sebagai Polisi Kehutanan / Jagawana dan menjadi Kepala Resort Polisi Hutan di Lewolaga, Kecamatan Wulanggitang II. Dia kemudian dipindahtugaskan ke Kecamatan Tanjung Bunga pada tahun 2004. Dia sempat ditugaskan menjadi staf Kelurahan Larantuka pada 2005, sebelum akhirnya dipindahkan ke Kantor Dinas Kehutanan Flores Timur di Larantuka dan dipensiunkan pada tahun 2008.

Setelah kariernya  sebagai Pegawai Negeri Sipil pada Dinas Kehutanan Kab. Flores Timur berakhir pada tahun 2008, Anis Doren langsung mencalonkan dirinya sebagai Kepala Desa Lewoloba, Ile Mandiri, Larantuka. Dia terpilih secara aklamasi dan menang atas saingannya, Fransiskus Roy Hurint.  Sejak menjabat sebagai Kepala Desa Lewoloba, Anis Doren mengambil sejumlah langkah penting untuk perubahan Desa Lewoloba. Ia memelopori pembukaan  jalan produksi menuju kampung lama Desa Lewoloba, pengaspalan lorong dalam desa, dan mendorong penyelesaian konflik tanah perbatasan antara Desa Lewoloba dan Desa Wailolong. Dalam masa kepemimpinannya, beliau berhasil memindahkan jasad Belawa Burak (nenek moyang orang Lewoloba) dan menempatkannya di sebuah rumah adat Desa Lewoloba. Ia pun mendorong diselesaikannya pembangunan kantor desa pada tahun 2011.

4. Kecelakaan Tragis
Pada bulan Maret 2012, sebuah kecelakaan tragis menimpanya. Dia dipukuli secara sadis oleh seorang gila di kantor Kecamatan Ile Mandiri, di Riangkemie. Ia kemudian dilarikan ke RSU Larantuka dan dirawat beberapa lama di tempat itu. Sekalipun kecelakaan tersebut tidak sampai merenggut nyawanya, Anis berpendapat bahwa 30 persen tenaganya hilang karena peristiwa itu. Kendatipun demikian Anis tetap melanjutkan kepemimpinannya sebagai Kepala Desa Lewoloba hingga 2013 mendatang.







Tuesday, July 17, 2012

“SISTER CITY”: LEBIH DARI SEKEDAR GURAUAN DI RUANG JAMUAN MAKAN

By Ansel Atasoge


DOWNLOAD file DOCX di sini.


Larantuka, kota paling timur di Pulau Flores, Ibu kota Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi sebagai "Sister City" atau kota kembar dengan Lisabon, Portugal. Peresmian Larantuka sebagai kota kembar dengan Lisabon ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan kerja sama antara pemerintah Portugal yang diwakili Wali Kota Ourem Paulo Fonsesca dan Bupati Flores Timur, Yospeh Lagadoni Herin di Jakarta, Rabu (23/5). Peristiwa bersejarah itu terjadi di Museum Nasional Jakarta dan disaksikan langsung oleh Presiden Portugal Anibal Antonio Cavaco Silva.
Gagasan kerja sama sister ciry ini lahir di "ruang jamuan makan malam" ketika Bupati Flores Timur menghadiri undangan makan malam dari Kedutaan Besar Portugal di Jakarta, beberapa waktu lalu, setelah Dubes Portugal menghadiri Prosesi Jumat Agung di Larantuka April lalu. Menurut Bupati Flores Timur, pada saat itu Dubes Portugal Manuel Carlos Leitao Frota berjanji akan membantu mendorong realisasi kerja sama antara pemerintah Portugal dan Pemerintah Kabupaten Flores Timur menjadikan Larantuka sebagai "sister city" atau Kota Kembar dengan Lisabon. Di Museum Nasional Jakarta pun, Manuel Carlos Leitao Frota berjanji mempromosikan perayaan suci "Semana Santa" dan Prosesi Jumat Agung atau "Sesta Vera" di Larantuka, Flores Timur di Lourdes.
Gagasan dari "ruang jamuan makan malam" telah tertambat dalam rumusan-rumusan MoU. Rumusan MoU tentu tidak sekelas dengan gurauan-gurauan di ruang makan. Kedua belah pihak yang menandatangani MoU tentu telah memahami dokumen MoU. Dan, pasti bahwa apa yang dipahami akan dikomunikasikan, bukan untuk sekedar tahu atau menjadi tahu, melainkan agar "setiap orang yang terkait di dalamnya atau yang menjadi bagian darinya bisa terlibat di dalamnya". Informasinya pasti akan dikemas dengan sejelas-jelasnya agar setiap orang yang terkait di dalamnya atau yang menjadi bagian darinya bisa mengetahui di mana posisinya, apa perannya, apa sumbangsihnya. 
Di pusat Kota Larantuka sudah ada dua baliho besar yang berkaitan dengan sister city. Yang satu di taman kota, berhadapan dengan Kantor Bank NTT Cabang Larantuka, di samping Gedung DPRD Flores Timur, dekat kompleks pertokoan. Yang satunya lagi di sudut luar depan Kantor Bupati Flores Timur. Ini merupakan dua tempat strategis untuk konteks Larantuka. Pilihan tempat tentu bukan sekedar pilihan acak-acakan. Yang satu dekat pusat perekonomian. Yang satunya dekat pusat pemerintahan. Baliho dan pilihan tempatnya ini menjadi media dan tempat komunikasi dan informasi bagi masyarakat Flores Timur dan masyarakat lain yang sedang “numpang lewat” di Kota Larantuka. 
Larantuka yang memiliki “sejarah keterkaitan spiritual” dengan bangsa Portugis pada saatnya akan dibabtis menjadi tempat ziarah internasional, lebih dari sekedar kota wisata religius. Para peziarah mancanegara dan domestik akan datang ke Larantuka untuk memuaskan kebutuhan spiritualnya, lebih dari sekedar berdarmawisata untuk menghabiskan kelebihan uang dari kantong pribadi. Kalau Larantuka bisa mencapai satu atau dua persen dari rekor Lourdes yang bisa menggaet lima sampai enam juta peziarah untuk mengunjunginya setiap tahunnya tentu luar biasa. 
Larantuka, kota ziarah yang akan sesaudara dengan Lisabon, akan menjadi “pilihan” karena ada “sesuatu yang menarik” dalam dirinya. Salah satu “objek” yang membuat orang tertarik adalah “Tuan Ma” yang pada tahun 2010 telah mencapai usia kehadirannya di Larantuka 500 tahun. Arca Bunda Maria banyak bentuk, corak dan rupanya. Namun, yang ada di Larantuka dipandang sebagai arca yang khas. Khas sejarahnya, khas pula tradisi ritualnya. Wilayah kekhasan inilah yang akan “dimasuki” para peziarah. 
Selain “Tuan Ma”, peziarahpun akan menimba khazanah rohani dan aura spiritual yang akan ditampilkan oleh mereka yang empunya tradisi dan mereka yang telah membabtis diri sebagai pemegang tradisi. Kesaksian hidup mereka merupakan bagian dari kekhasan Larantuka sebagai kota ziarah. Larantuka tentu tidak ingin mempertontonkan kesenjangan antara isi tradisi dan praksis hidup para penganutnya kepada para peziarah. 
Menyambut sister city, “orang-orang Larantuka” perlu membabtis diri menjadi orang-orang yang layak sebagai pemilik, penganut dan pencinta tradisi spiritualnya. Orang yang layak adalah orang yang selalu merindukan metanoia,yang selalu menginginkan transformasi diri dan komunitasnya berkat pancaran isi tradisinya. Hemat saya, titik inilah yang menjadikan Larantuka sebagai kota ziarah yang layak dikunjungi. Kerja berat siap menanti. Tidak hanya pemerintah, Gereja pun perlu memiliki konsep-konsep sister city yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sister city tentu bukan proyek yang syarat bisnis untung ruginya. Sister city tentu bukan aksi gagah-gagahan yang mencoba membuat Larantuka “tampil beda”. Sister city tentu bukan sekedar “memoria” tentang keindahan sejarah dan khazanah spiritual Gereja di masa lalu. 
Sekiranya sister city nantinya “tidak dilihat semata” sebagai komoditas ekonomis. Sekiranya pula, sister city nantinya “tidak semata dipandang” sebagai komoditas politik elit-elit politik tertentu. Mereka yang menanam baliho tentu tidak punya pikiran “dangkal” seperti ini. Mereka tentu sepakat kalau gurauan di ruang jamuan makan menjadi awal dari sebuah sejarah baru bagi Larantuka: Kota Rohani yang layak dihuni! Selamat menyambut sister city!
(Artikel ini ditulis oleh Sdr. Ansel Atasoge)

Saturday, June 9, 2012

Kisah Wato Wele dan Lia Nurat


Tulisan ini diambil dari tulisan saudara Ebed Derosary berjudul "Kisah WatoWele dan Lia Nurat" yang diposting pada tanggal 14 September 2011. Berikut ini kisahnya (dengan perubahan seperlunya).

    A.   Awal Kisah Wato Wele dan Lia Nurat
Awal mula sejarah daerah Flores Timur berawal dari Larantuka (Laran artinya jalan, Tukan artinya tengah). Alkisah, awal mulanya Larantuka dihuni oleh penduduk aslinya (Ile Jadi) yang berasal dari Gunung Mandiri (Ile Mandiri). Menurut legenda atau cerita rakyat, dahulu di atas puncak Ile Mandiri terdapat sebutir telur yang dierami oleh burung rajawali. Yang kemudian menetas menjadi dua anak manusia, masing-masing Lia Nurat (laki-laki) dan Wato Wele atau Putri Ile Jadi (wanita). Kedua manusia ini dipelihara oleh seekor jin, ketika itu mereka belum berpakaian dan seluruh tubuh mereka berbulu serta memiliki kuku yang panjang dan runcing. Mereka mendirikan rumah di puncak Ile Mandiri yang kemudian mereka sepakat untuk hidup terpisah, Wato Wele ke arah timur sedangkan saudaranya ke Likat Lamaboting Lama Bunuk (terletak di belakang Ile Mandiri).
Suatu ketika Wato Wele didatangi seorang pria yang bernama Patih Golok Arakiang dari pulau Timor (banyak yang menduga Patih Gadja Mada) dengan menggunakan sampan. Mereka kemudian menikah dan menghasilkan tiga orang keturunan, yaitu Kudi Lelenbalan (yang menurunkan masyarakat Waibalun), Padu Ile Pook Wolo (yang menurunkan dinasti raja-raja Larantuka) dan Laha Lapang (yang menurunkan penduduk kampung Balela).  Ini merupakan legenda yang pada umumnya beredar di dalam masyarakat Flores Timur.
B. SUMBER SEJARAH
Tulisan ini disadur dari penelitian bapak Yosep Yapi Taum ( Dosen Universitas Sanata Dharma). Cerita Wato Wele-Lia Nurat merupakan jenis sejarah asal usul (tutu maring usu asa) yang dikeramatkan, terutama oleh Suku Ile Jadi di Larantuka. Semua kisah ini disampaikan dalam bahasa sastra (KODA KNALAN).

1.  Disampaikan oleh Markus Ratu Badin, 68 tahun, buta huruf, petani berasal dari Desa Lewohala. Kisah ini diperolehnya pada usia 15 tahun dari ayahnya, Raja Badin dan dari kakeknya, Baha Badin. Menurut sejarah asal usul, penutur termasuk Suku Ile Jadi keturunan Lia Nurat. Penutur merupakan tua adat dan tuan tanah Desa Lewohala. Teks ini direkam tanggal 3 dan 4 Februari 1994 dan dituturkan dalam bahasa sastra (koda knalan) yang sangat rapi. Garis besarnya adalah sebagai berikut. 
Pada mulanya Ema Wato/Bapa Madu Ma yang tinggal di Sina Jawa menyuruh orang tuanya burung elang, terbang ke puncak Gunung Mandiri. Di puncak gunung itu sang elang menaruh telurnya dan dari satu butir telur itu lahir manusia kembar, Wato Wele - Lia Nurat. Wato Wele - Lia Nurat dipelihara oleh hantu gunung hingga menjadi dewasa. Lia Nurat mengantar adiknya Wato Wele menempati bagian selatan Mandiri dan Lia Nurat sendiri menghuni bagian utara gunung itu. Lia Nurat membuat api unggun di puncak Mandiri yang cahayanya sampai ke perkampungan Paji. Sinar api itu mengenai seorang gadis Paji bernama Hadung Boleng Teniban Duli. Suku Suban Lewa Hama, saudara kandung Hadung Boleng, disuruh pergi ke puncak gunung mencari asal api unggun dan bertemu dengan Lia Nurat. Lia Nurat berjanji akan turun ke kampung Paji. Lia Nurat turun ke kampung Paji dan menikah dengan Hadung Boleng. Dari pernikahan itu lahir tujuh anak yang kelak menurunkan Suku Ile Jadi Baipito. Mereka hidup berkecukupan. Kemakmuran mereka diketahui orang-orang Suku Soge (Maumere). Raja Suku Soge pun mengantar anaknya Uto Watak, untuk diperisteri Lia Nurat. Hadung Boleng tidak senang dengan kehadiran Uto Watak. Dia pun mengusir Uto Watak. Raja Suku Soge sangat marah. Mereka datang menyerbu dan membunuh Lia Nurat. Setelah Lia Nurat meninggal, kehidupan Hadung Boleng dan ke 7 anaknya sangat menderita. Suatu ketika Boleng bermimpi melihat pusat gunung. Dengan itu, kehidupan mereka kembali makmur. Terjadi perang di Adonara. Kelima putra Lia Nurat ikut berperang membela adik perempuan mereka. Dalam peperangan itu, putra sulung Lia Nurat, Belawa Burak Sina Puri, tewas terbunuh. Keempat putra Lia Nurat yang masih hidup kembali ke gunung Mandiri dan membagi tanah warisan di antara mereka. Penjelasan penutur tentang asal usul mereka, yakni dari putra kedua Lia Nurat.

2. Dituturkan oleh Aloysius Pati Welan, 70 tahun, petani, pernah bersekolah pada Sekolah Rakyat (SR) sampai kelas III, berasal dari Desa Riangkamie. Cerita ini diperolehnya dari Kepala Desa Riangkamie, Pehan Kelen, ketika penutur berusia kira-kira 20 tahun. Menurut sejarah asal usul, penutur merupakan orang dari Kroko Puken Lapan Batang, dan merupakan salah satu tua Desa Riangkamie. Teks ini dituturkan dalam bahasa sastra (koda knalan), direkam pada tanggal 5 Februari 1994. Garis besar ceritanya sebagai berikut:

Koda Lia Nurat berasal dari Suku Soge yang merupakan keturunan burung elang. Di Suku Soge, Lia Nurat sudah beristeri, Uto Watak Teluma Burak. Lia Nurat dan Uto Watak sepakat pergi ke timur untuk membangun kampung di puncak Ile Mandiri. Suatu malam Lia Nurat membuat api unggun. Sinar api itu sampai ke kampung Paji dan menyebabkan gadis Hadung Boleng Teniban Duli hamil. Saudara Hadung Boleng, Ratu Dale Rian Tomo, mengantar adiknya ke puncak gunung untuk diperisteri Lia Nurat. Dari perkawinan ini lahir 5 putra dan 1 putri. Hadung Boleng berselisih dengan Uto Wata. Karena sakit hati, Uto Watak kembali ke Soge dan melaporkannya kepada ayahnya. Suku Soge datang menyerbu dan menewaskan Lia Nurat. Hadung Boleng bersama anak-anaknya mengembara dari hutan ke hutan hingga menetap di Bluhur Wojon Tobo. Akhirnya anak-anak Lia Nurat sepakat membagi-bagi tanah warisan.

3.  Dituturkan oleh Gregorius Geru Koten, 46 tahun, guru SD, lulusan Sekolah Teknik (ST), berasal dari Leworok. Cerita ini diperolehnya dari ayahnya, Sipri Tubun, ketika penutur masih kanak-kanak (kira-kira 12 tahun). Menurut sejarah asal usul, penutur termasuk turunan Sina Jawa. Teks dituturkan dalam bahasa sastra (koda knalan), direkam tanggal 10 Februari 1994. Garis besar isi ceritanya sbb :

Lia Nurat dan Wato Wele lahir dari batu wadas di Gunung Mandiri. Lia Nurat mengantar adiknya, Wato Wele, menetap di bagian selatan mandiri karena rupanya seperti hantu. Suatu ketika datang Raja Pati Golo Arakiang dari Sina Jawa untuk berdagang dan mencari tempat bermukim di Larantuka. Suatu malam, Pati Golo Arakiang melihat nyala api di puncak Gunung Mandiri, dan dia tertarik menyelidikinya. Di puncak Mandiri Raja Pati Golo Arakiang bertemu Wato Wele yang tubuhnya dipenuhi bulu-bulu rambut yang lebat. Pati Golo Arakiang mencukur rambut dan memotong kuku manusia hutan itu ketika dia tertidur akibat mabuk. Ternyata manusia hutan itu seorang wanita cantik, Wato Wele.Pati Golo menikah dengan Wato Wele, menetap di Larantuka dan membangun Kerajaan Larantuka. 

Suatu ketika terjadi perang di Timor. Raja Pati Golo tidak mampu melawan pasukan Timor. Dia pun kembali ke Larantuka dan meminta bantuan kaum Baipito (keturunan Lia Nurat). Pati Golo menikah dengan Wato Wele, menetap di Larantuka dan membangun Kerajaan Larantuka. Suatu ketika terjadi perang di Timor. Raja Pati Golo tidak mampu melawan pasukan Timor. Dia pun kembali ke Larantuka dan meminta bantuan kaum Baipito (keturunan Lia Nurat). Pendekar Baipito, Ehak Sina Ama/Riki Rapo Lolong, bersedia membantu raja. Raja berjanji, jika Ehak Sina Ama menang, maka dia boleh mempersunting adik Raja Pati Golo, Bui Kena Arawada. Ehak Sina Ama berhasil menumpas tentara Timor. Ketika dia kembali ke Larantuka, ternyata raja mengingkari janjinya. Raja Pati Golo menghina Ehak Sina Ama sebagai manusia hutan. Ehak Sina Ama menyimpan dendam dan mencari cara untuk membalasnya. Ketika Bui Kena Arawada mencari kayu di hutan, Ehak Sina Ama memberinya minum tuak yang dicampur dengan air maninya. Ini membuat Bui Kena Arawada hamil. Raja Pati Golo sangat marah atas perbuatan Ehak Sina Ama. Dia ingin membunuh Ehak Sina Ama tetapi pedang dan tombak tak mampu melukai Ehak. Hal ini disebabkan karena Ehak berada di pihak yang benar. Raja Pati Golo meminta bantuan pendekar Lewotala, Leki Bera Doro Manuk, untuk membunuh Ehak. Leki mengatur siasat untuk menjebak Ehak Sina Ama yang merupakan kawannya sendiri. Disuruhnya seorang budak memetik mangga di Lewohala, kampung Ehak Sina Ama. Ehak Sina Ama memanah budak itu. Dengan dasar ini, Leki Bera mengejar Ehak Sina Ama untuk membunuhnya, tetapi Ehak Sina Ama melarikan diri ke wilayah Paji di Tanjung Bunga. Di Tanjung Bunga, Ehak Sina Ama kawin dan memperoleh satu anak lelaki. Namun Ehak Sina Ama tidak menetap di sana. Dia datang dan menetap di desa Riangkoli. Raja Pati Golo Arakiang mendengar kabar bahwa Ehak Sina Ama menetap di Riangkoli. Maka dia meminta orang Leworok untuk membunuh Ehak Sina Ama. Orang Leworok menyusun strategi untuk membunuh Ehak. Mereka menyuruh seorang gadis, Lito Nue Rate Dora, datang kepada Ehak dan mengaku bahwa ia adalah anak yatim piatu. Lito Nue Rate Dora kembali ke Leworok menceritakan hal itu. Orang Leworok mendapat alasan yang tepat untuk membunuh Ehak Sina Ama karena dia telah meniduri Lito Nue dengan tidak sah. Orang Leworok datang menyerbu dan berhasil membunuh Ehak Sina Ama. Setelah membunuh Ehak, mereka melakukan upacara pembasuhan darah. Orang Leworok menceritakan perihal kematian Ehak Sina Ama ini kepada Raja Pati Golo Arakiang, dan raja sangat senang mendengarnya.

4.  Dituturkan oleh Arnoldus Dana Hurint, 52 tahun, buta huruf, petani, berasal dari Desa Riangkoli. Cerita ini diperoleh sejak berusia kira-kira 8 sampai 9 tahun dari ayah kandungnya. Penutur adalah tua adat di desanya, dan merupakan orang dari suku Sina Jawa. Teks dituturkan dalam bahasa sastra (koda knalan), dan direkam tanggal 14 Februari 1994. Garis besar isi ceritanya sbb :

Gunung Ile Mandiri melahirkan dua anak kembar, Wato Wele dan Lia Nurat. Wato Wele tinggal di bagian selatan gunung, sedangkan Lia Nurat di sebelah utara. Suatu ketika datang Raja Pati Golo Arakiang dan bermukim di Larantuka. Pada waktu malam, dia melihat ada nyala api di puncak gunung. Keesokan harinya dia pergi mencari sumber api itu. Di puncak Gunung Mandiri dia berjumpa dengan seorang manusia hutan bernama Wato Wele Oa Dona. Keduanya pun menikah dan turun menetap di Larantuka. Pati Golo menjadi raja Larantuka karena menikahi Wato Wele Oa Dona. Itulah sebabnya perintah Pati Golo dipatuhi. Suatu ketika terjadi perang di Timor. Pati Golo pergi ke Timor untuk berperang, tetapi dia tidak mampu mengalahkan musuhnya. Pati Golo pun kembali ke Larantuka. Pati Golo meminta bantuan rakyat Baipito (keturunan Lia Nurat). Seorang pendekar bernama Eha Sina Ama/Riki Tapo Lolon bersedia membantu raja. Raja berjanji, jika Ehak dapat mengalahkan musuhnya, maka dia boleh mengambil Buikena Arawada, adik raja Pati Golo, sebagai istrinya. Ehak pergi berperang dan ternyata dia menang. Ketika kembali ke Larantuka, ternyata Buikena menolak dinikahi Ehak. Ehak menaruh dendam pada Buikena. Ketika Buikena mengambil kayu di hutan, Ehak memberinya minum tuak yang sudah dicampur air maninya. Hal ini membuat Buikena mengandung. Raja Pati Golo sangat malu. dia meminta orang Lewotala membunuh Ehak. Pendekar Lewotala, Leki Bera Doro Manuk berusaha membunuh Ehak tetapi gagal. Ehak mengungsi ke Tanjung Bunga. Disana dia kawin dan mendapat seorang anak laki-laki. Ehak mengungsi lagi dan tinggal di Riangkoli. Ketika raja mengetahui bahwa Ehak berada di Riangkoli, dia meminta orang Leworok untuk membunuh Ehak. Orang Leworok datang dan membunuh Ehak. Orang Riangkoli menguburnya dan menjadikannya leluhur mereka. Raja mengadakan pesta adat merayakan kematian itu. Di tengah-tengah keramaian itu, seorang anak bernama Padu Ile datang memeluk kaki Raja Pati Golo. Padu Ile adalah anak Raja Pati Golo dari istri selirnya. Raja Pati Golo sangat malu. Untuk membuktikan bahwa Padu Ile benar-benar anak Raja Pati Golo, dia memanah. Jika panahnya jatuh ke tanah berarti dia bukan anak raja. Tetapi sebaliknya, jika panah jatuh pada nasi tumpeng (rengki) raja, maka dia benar-benar anak raja. Ternyata panah Padu Ile jatuh ke atas nasi tumpeng raja. Karena malu, raja mengambil senjata untuk membunuh Padu Ile, tetapi Padu Ile dapat melarikan diri ke Riangkoli. Suatu ketika, Padu Ile melihat nyala api di puncak Gunung Malat. Dia pun mendaki ke puncak gunung untuk menyelidiki sumber api itu. Di puncak Gunung Malat, Padu Ile bertemu seorang gadis, Nogo Beko Blawah Ongo. Keduanya kawin dan menurunkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Sina Gula Pora Jawa.  Raja Pati Golo memberikan kampung Riangkoli sebagai tempat tinggal Sina Gula Pora Jawa dan mengangkat desa itu menjadi Pou Suku Lema (suku pembantu raja).  

5. Dokumen Kantor Depdikbud Kabupaten Flores Timur. Sira Lakalodang di Lamahala, Adonara, melakukan barter dengan Serang Gorang Lobi yang datang dari Maluku. Serang Gorang Lobi memberikan seekor babi betina kepada Sira Lakalodang. Babi betina itu melahirkan dua anak kembar : Kakang Tobo Pehan Tonu dan Aring Welan Laga Wujo. Ketika kedua kembar itu mandi di  Puhu Gelong, mereka bertemu dengan dua gadis putri raja Puhu Gelong, Uto Toeng Tonu dan Kopa Wele Barek. Mereka pun saling jatuh cinta. Uto Toeng Tonu dan Kopa Wele Barek kembali ke rumah mereka dan duduk menenun sarung. Tiba-tiba seekor burung kutilang muncul. Kopa dan Uto memberikan makan jewawut yang ditaruh di ujung tongkat tenun (hurit). Ternyata tongkat tenun itu dibawa terbang dan jatuh di dekat rumah Tonu dan Wujo. Tonu dan Wujo mengambil Uto dan Kopa sebagai istri. Masyarakat dan Raja Puhu Gelong panik, mencari Uto dan Kopa sampai di Pigan Lewata, mengajak keduanya pulang, tetapi ditolak. Mereka bersepakat menguji kebenaran melalui perang. Pihak yang kalah dianggap bersalah dan yang menang dianggap benar. Kedua pihak mencari dasar hukum untuk membenarkan tindakan mereka. Pihak Puhu Gelong menganggap kedua putri diculik Tonu dan Wujo. Pihak Pegan Lewata (Lamahala) menganggap kedua putri datang sendiri. Perang dilaksanakan selama tiga hari tiga malam. Pemenangnya adalah Pigan Lewatan. Karena merasa tidak aman tinggal di Piga Lewatan, Tonu dan Wujo meminta Kiko Unus Aman mengantar mereka ke Lamakera (Solor) untuk menetap di sana. Di Lamakera, Kakang Tobo Pehan Tonu mengubah namanya menjadi Sinu, sedangkan adiknya, Aring Welan Laga Wujo menjadi Narek. Mereka diterima sebagai Bela Raja (suku besar) karena merupakan pemberani, mendampingi suku Songge Sikka Klodo. Sinu dan Narek tak puas tinggal di Lamakera. Keduanya pun melanglang buana (niu lagang) ke timor dengan menumpang kulit pinang (Wua Kama). Di perjalanan itu mereka memberi nama kepada banyak daerah, antara lain, Tana Timo, Nama Sain, Teno, Tobi Lolong, Nuha Kera. Di Timor ada seyembara yang digelar Raja Amarasi : siapa yang mampu membunuh ular naga yang sering mengganggu penduduk akan di bawah ke istana. Sinu dan Narek berhasil membunuh naga itu berkat mantra dan pertolongan Ilahi Lera Wulan dan leluhur Tana Ekan di kampung halamannya. Mereka memotong lidah naga itu. Keesokan harinya, pendekar dari Rote mengambil kepala naga itu dan memberikannya kepada Raja Amarasi untuk mendapat hadiah. Sinu dan Narek datang juga ke istana dan meminta orang Rote menunjukan lidah naga itu. Akhirnya orang Rote diberi tanah (karena mereka membawa kepala naga kepada raja) dan orang Solor pun diberi tanah di kampung Solor (karena Sinu dan Narek itulah yang membunuh naga itu). Di tempat itu muncul mata air yang disebut De (Wai) Ba  (mengalir). Sinu dan Narek terus menjelajahi Pulau Timor. Mereka tiba di Ata Pupu (orang kumpul), yakni tempat berkumpulnya manusia-manusia gaib. Narek, sang adik, tinggal di sana sedangkan Sinu, kakaknya berlayar kembali ke Lamakera. Narek bertemu beberapa orang pribumi yang masih primitif, hidup di puncak-puncak bukit. Narek pun diangkat menjadi Raja Atapupu. Narek kawin dengan penduduk asli di sana dan mendapat dua orang anak yakni Pati Golo Arakiang (adik) dan Peni Utang Pati Golo (kakak perempuan). Pati Golo bergelar Raja Pati Golo Arakiang karena menggantikan ayahnya sebagai raja. Pati Golo menyadap tuak dan Peni Utang Lolong menenun sarung. Suatu ketika Pati Golo kembali tanpa membawa tuak, Peni Utang Lolong marah dan memukul adiknya dengan tongkat tenun (hurit) hingga darah mengucur dari ubun-ubun kepalanya. 

Pati Golo Arakiang ingin mencari pencuri tuaknya. Tengah malam, ketika Pati Golo berjaga di atas pohon lontar, datang seekor burung raksasa yang baunya busuk, menjulurkan paruhnya ke dalam bambu tuak, dan minum tuak itu. Terdorong rasa dendam sekalipun takut, Pati Golo memeluk kaki burung itu dan duduk di telapak kakinya. Burung itu adalah karuda (yang biasa memangsa anak kambing, ayam, domba, bahkan manusia). Burung itu menerbangkan Pati Golo ke arah barat. (Karuda = si kerongkongan jelek). Karuda terus saja terbang dan akhirnya hinggap di sebuah kebun pisang di pulau Jawa. Penjaga kebun pisang melaporkan kedatangan Pati Golo kepada raja. Pati Golo diterima sebagai pinatu di istana raja. Ketika giliran Pati Golo mencuci pakaian raja, ditaburinya pakaian itu dengan serbuk kayu cendana yang harum. Raja amat senang dan menyuruh Pati Golo memimpin sebuah ekspedisi ke Timor untuk mengambil cendana itu, dengan membawa minuman keras di dalam botol-botol. Ekspedisi pun berangkat ke pulau Timor. Kayu cendana ditebang selama tiga bulan. Sementara itu Pati Golo menyusuri hutan yang terasa asing baginya. Di hutan itu Pati Golo bertemu seorang gadis cantik dan keduanya kawin. Hari keberangkatan semakin mendekat. Pati Golo berpamitan dengan istrinya untuk pergi ke pulau Jawa dan akan kembali menjumpai istrinya. Istrinya mencari kutu rambut Pati Golo, dan melihat bekas luka di kepala Pati Golo. Sang istri bercerita bahwa dia mempunyai seorang adik dan bahwa dia pernah memukul kepala adiknya dengan hurit. Adiknya bernama Pati Golo Arakiang. Mendengar cerita itu, Pati Golo Arakiang merangkul istrinya yang ternyata adalah Peni Utang Lolong, kakak kandungnya sendiri. Tangis tak terbendung disertai penyesalan yang terlambat karena Peni Utang Lolong sudah hamil 3 bulan. Pati Golo Arakiang pamit pada istrinya dan berjanji akan kembali lagi. Ekspedisi pun siap dan mereka berangkat.  

Ekspedisi tiba di selat Flores, terus menuju ke arah timur. Di Flores timur tampak begitu banyak orang yang sedang berkarang di pantai. Ketika kapal itu berlabuh di Lokea (Lewo Gekeng Derang Tanah Sao Sina = kampung persaudaraan tempat berlabuh ekspedisi dari pulau Jawa), ternyata tidak ada seorang manusia pun di sana. Pati Golo menyebut tempat itu "Mandiri Tanah Lolong" (sendirian di atas tanah). Di tanah ada bekas obor dan jejak kaki menuju ke puncak gunung. Pati Golo memerintahkan ekspedisi untuk terus berlayar, sedangkan dia tetap tinggal di tempat itu, menyusuri jejak untuk menyelidiki siapa penghuninya. Pati Golo tiba di puncak gunung. Disembunyikannya botol-botol minuman keras dan kain sarung pemberian kakaknya, Peni Utang Lolong, di semak-semak. Dia memanjat pohon asam dan duduk di atasnya, menunggu siapa yang bakal datang. Sore hari datang seorang manusia membawa hasil buruan. Sosoknya tinggi, jangkung, hitam, besar. Manusia itu membaui atas pohon asam, terlihat olehnya seorang manusia. Manusia hutan itu memperkenalkan dirinya, Saya Oa Wato Wele Apa Utan, penguasa gunung ini! Pati Golo juga memperkenalkan dirinya, Saya Raja Pati Golo, Pati Golo Arakiang, berasal dari tanah Timor, telah mengembara ke tanah Jawa dan terdampar di tempat ini. Keduanya pun makan bersama. Setelah itu Pati Golo memberikan minuman keras kepada Wato Wele. Wato Wele minum sampai mabuk dan tertidur. Pada waktu dia tertidur, Pati Golo mencukur bulu-bulu rambut Wato Wele. Ternyata dia seorang gadis yang sangat cantik. Akhirnya Pati Golo dan Wato Wele kawin dan menjadi penguasa di wilayah itu, menjadi Raja dan Ratu Larantuka.  Perkawinan Wato Wele dan Pati Golo menurunkan seorang putra, Raja Resi Weli Nama, Tuan Igo Weli Lela. Raja ini menurunkan Raja Padun Ile, Tuan Paga Wolo. Raja Padun Ile menurunkan Raja Usi Laseberang. Raja Usi menurunkan dua putra yakni Igo (kakak) dan Enga (adik). Pada masa pemerintahan kedua putra inilah terjadi perang perebutan kekuasaan, yang dikenal dengan nama Perang Paji-Demong. Perang ini dipengaruhi unsur Jawa, yakni Perang Demak melawan Pajang. Pengikut Kerajaan Demak disebut Demong Narang (orang Demong) dan pemimpin mereka disebut Kakang. Pengikut Kerajaan Pajang disebut Paji Nara (orang Paji) dan pemimpin mereka disebut Kapitan karena dia seorang nahkoda kapal. Kedua bersaudara ini mengikuti pengaruh yang berlawanan ini. Dinasti Demong dipimpin Igo, dan dinasti Paji dipimpin Enga.

6. Dituturkan oleh Petrus Mau Larantuka, 74 tahun, tua adat, petani, pernah mengikuti pendidikan pada Standaarschool (Sekolah Guru) Belanda sampai kelas V. Cerita ini diperoleh penutur ketika berusia kira-kira 12 tahun dari ayahnya, Yosep Banda Larantuka. Penutur merupakan orang dari keturunan Sina Jawa. Teks ini dituturkan dalam bahasa Indonesia dan direkam tanggal 19 Februari 1994. Isi ringkasan ceritanya sbb : 


Pada awalnya Wato Wele dan Lia Nurat dilahirkan oleh Gunung Ile Mandiri. Wato Wele-Lia Nurat hidup bersama di puncak gunung itu, dan menurunkan seorang anak laki-laki bernama Tukan Ama Wruin. Setelah itu Lia Nurat mengantar adiknya Wato Wele untuk menempati wilayah selatan Gunung Mandiri. Lia Nurat sendiri menempati wilayah utara Gunung Mandiri, yaitu Wao Lama Herin. Suatu ketika datang Pati Golo Arakiang dari Tanah Timor. Pati Golo berlabuh di Lawerang Tanah Goran. Di tempat itu tidak ada manusia. Pada malam hari Pati Golo melihat nyala api di puncak Gunung Mandiri. Pati Golo pu mendaki gunung itu untuk menyelidiki sumber api. Pati Golo bersembunyi di atas pohon asam. Tiba-tiba datang seorang manusia membawa binatang-binatang buruan. Sosoknya tinggi, besar dan berbulu lebat. Orang hutan itu hendak membuat api unggun dengan menggesekan kukunya, tetapi api tidak menyala sehingga terjadi gempa bumi yang dahsyat. Manusia hutan melihat ke atas pohon dan ternyata ada manusia di atas pohon itu. Manusia hutan memperkenalkan dirinya, Saya Wato Wele Apa Hutan. Pati Golo turun dari pohon. Keduanya makan dan minum arak sampai Wato Wele mabuk dan tertidur. Ketika Wato Wele tertidur, Pati Golo Arakiang mencukur bulu-bulu rambut dan memotong kuku-kukunya. Ternyata Wato Wele seorang wanita yang cantik. Keduanya segera menikah dan menurunkan tiga orang anak yaitu, Kudi Leleng Balang, Raja Ila, dan Lahan Lapan. Raja Pati Golo meninggalkan Wato Wele dan ketiga anaknya. Dia pergi mencari kakaknya, Biu Kena Arawada yang sudah lama ditinggalkan karena Bui Kena memukul kepala Pati Golo saat Pati Golo tidak membawa tuak ke rumahnya. 

Di sebuah pantai, Pati Golo bertemu seorang gadis. Keduanya saling jatuh cinta dan segera menikah. Dari pernikahan itu, lahir seorang anak laki-laki bernama Pati Grama. Suatu ketika, istri Pati Golo mencari kutu rambut Pati Golo. Dia melihat bekas luka di kepala Pati Golo dan menceritakan bahwa dia mempunyai seorang adik bernama Pati Golo Arakiang yang juga memiliki bekas luka di kepalanya. Mendengar cerita itu, Pati Golo menyesal dan pergi meninggalkan kakaknya yang sedang hamil. Ketika Pati Golo datang dari tanah Timor, dia membawa pula dua orang anaknya, yakni Pusi dan Gowa, yang kini keturunannya menetap di desa Lebao dan Tebali. 

7. Dituturkan oleh Lukas Bala Hurint, 73 tahun, buta huruf, petani, dari desa Lewoloba. Cerita diperoleh dari orang tuanya pada usia kira-kira 8-9 tahun. Penutur merupakan orang Ile Jadi, dari keturunan Lia Nurat (Blawak Burak Sina Puri). Teks dituturkan dalam bahasa Indonesia dan dicampur dalam bahasa Lamaholot biasa dan direkam tangga 2 Februari 1994. Isi ringkasan ceritanya sbb :

Batu-batu wadas pecah, dan dari dalam gunung lahirlah dua saudara kembar, Wato Wele-Lia Nurat. Lia Nurat mengantar adiknya, Wato Wele, menempati wilayah selatan Gunung Mandiri, yakni Woto Wele Dole. Lia Nurat membuat pemisah wilayah itu dengan menanam rotan yang menjalar sampai ke laut dan menempatkan batu-batu besar, dengan maksud agar keduanya tidak bertemu lagi. Suatu ketika di perkampungan Paji, seorang gadis bernama Hadung Boleng Teniban Duli melihat nyala api di puncak Gunung Mandiri. Hadung Boleng menyuruh saudaranya, Suban Lewa Haman Sao Lewa Gowe, untuk menyelidiki asal api itu. Suban Lewa Haman membawa ketupat, madu, arak, pisau iris (mere) dan kain tenun (nowing, snaik). Tiba di puncak gunung, Suban Lewa Haman bertemu dengan Lia Nurat. Tubuh Lia Nurat ditumbuhi bulu-bulu rambut yang sangat lebat, kuku-kukunya mirip cakar. Mereka membakar hasil buruan dan makan bersama. Karena belum terbiasa minum arak, Lia Nurat mabuk dan tertidur. Pada waktu Lia Nurat tertidur, Suban Lewa Haman mencukur bulu-bulu rambutnya dan memotong kuku-kuku jari kaki dan tangannya. Ketika Lia Nurat bangun, dia merasa dingin dan sangat terkejut. Hujan turun dengan lebat dan disertai angin dan gempa bumi selama tujuh hari tujuh malam. Suban Lewa Haman memberikan sarung kepada Lia Nurat. Suban Lewa Haman merasa takut karena hujan, angin, dan gempa tak kunjung berhenti. Dia pun berjanji, setelah tujuh hari dia akan membawa adiknya Hadung Boleng Teniban Duli kepada Lia Nurat untuk dijadikan istri Lia Nurat. Hujan, angin dan gempa berhenti. Pada hari ke tujuh, sesuai janji, Suban Lewa Haman mengantar adiknya Hadung Boleng Teniban Duli kepada Lia Nurat di puncak gunung Mandiri untuk dijadikan istri Lia Nurat. Dari perkawinan itu lahirlah 5 oraang putra dan 2 orang putri yang kelak menurunkan penduduk Baipito. Suatu ketika terjadi perang di Adonara. Kelima putra Lia Nurat pergi ke sana untuk berperang membela adik perempuan mereka. Dalam peperangan itu, anak sulung Lia Nurat, yakni Blawa Burak Sina Puri tewas terbunuh. Seusai perang, anak-anak Lia Nurat yang masih hidup kembali ke Ile Mandiri dan membagi tanah warisan di antara mereka.
    ( Disadur dari Tulisan Adik Piter Fernandez )