Showing posts with label Gelekat Lewoloba. Show all posts
Showing posts with label Gelekat Lewoloba. Show all posts

Monday, November 30, 2015

MEREFLEKSIKAN RENTETAN PERISTIWA DUKACITA DI LEWOLOBA

Nick Doren - Lewoloba
Suasana di Pemakaman Umum Lewoloba
Tahun 2015 menjadi tahun yang sangat memilukan hati. Banyak peristiwa kedukaan terjadi di Desa Lewoloba. Tidak kurang dari 8 (delapan) orang telah meninggal dunia. Beberapa catatan kematian yang dapat disebutkan di sini, antara lain : 
1. 10 April 2015 : Alm. Bpk. Paulus Katan Hurint.
2. 28 Agst 2015 : Alm. Bpk. Petrus Bala Hurint.
3. - - Agst. 2015: Alm. Sdri. Philomena Doren.
4. 20 Spt 2015 : Alm. Bpk.  Karolus Kia Koten.
5. 14 Okt 2015 : Alm. Bpk. Yosep Peku Doren.
6. 23 Okt. 2015: Alm. Bpk. Petrus Enga Kelen.
7. 04 Nov. 2015: Alm. Bpk. Bernardus Berkama Nuhan.
8. 26 Nov. 2015: Alm. Ibu Lusia Maran / Sia Bato


Ketika air mata dukacita sebuah keluarga belum "kering", peristiwa dukacita kembali mendatangi keluarga lain. Masyarakat Desa pun harus bahu membahu meringakan beban hidup keluarga-keluarga yang kehilangan orang kekasih mereka. 

Dari sudut pandang iman, peristiwa dukacita adalah peralihan manusia dari dunia yang fana ini kepada dunia yang kekal, di mana arwah orang yang meninggal akan bersatu dengan Sang Penciptanya. Di sana lah mereka akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Iman Katolik menegaskan bahwa kematian tidak hanya dipandang sebagai peristiwa sedih semata, tetapi juga harus dilihat sebagai peristiwa sukacita penuh kemuliaan karena kematian merupakan pintu gerbang menuju sorga. Dalam rangka memohon kemurahan hati Tuhan untuk sementara menghentikan dukacita ke atas manusia, diadakanlah Rosario Pembebasan di Gereja Stasi Hati Amat Kudus Tuhan Yesus Lewoloba. Sejauh ini, umat terlihat sangat antusias mengikuti acara keagamaan ini.

Apabila ditilik dari sudut pandang sosial kemasyarakatan, kematian yang bertubi-tubi menimbulkan keresahan sosial. Ada ketidakberesan di tengah masyarakat yang patut diduga sebagai penyebab utama kematian, entah karena lingkungan yang tidak sehat atau ada ketidakberesan dalam adat Lewotanah. Di tengah masyarakat yang nilai kegotongroyongannya masih kuat melekat, orang per orangan akan meninggalkan segala aktivitas dan kesibukannya demi membantu keluarga yang dilanda peristiwa dukacita. Banyak pekerjaan yang harus ditinggalkan sehingga pada gilirannya akan berdampak pada persoalan ekonomi masyarakat.

Bagi masyarakat yang kuat memegang adat Lewotanah, kematian berkaitan erat dengan ke-alpa-an masyarakat dalam memperhatikan persembahan untuk leluhur Lewotanah. Biasanya setiap tahun diadakan "Soro Nein" (persembahan) kepada leluhur Lewotanah pada tempat-tempat yang dianggap keramat. Apabila kewajiban ini dilalaikan, maka akan terjadi bencana dan kutukan dari Lewotanah yang menyebabkan Lewo menjadi "panas" (Pelate Putuk). Untuk itu pada 12 November lalu, sejumlah tokoh adat dan pemuda Lewoloba naik ke Ile Mandiri untuk mempersembahkan kurban persembahan bagi Leluhur Lewotanah.
Nick Doren - Lewoloba
Seremoni Adat Lewoloba di Pemakaman Lia Nurat di Puncak Gunung Ile Mandiri

Semoga kita tetap saling menguatkan dalam iman, pengharapan dan kasih agar kematian tidak menjadi momok yang menakutkan, tetapi dipandang sebagai sebuah peristiwa manusiawi yang mampu menampakkan kemuliaan Tuhan.





Friday, October 3, 2014

Kupang, Kota Yang Sedang Berkembang

Nick Doren - Lewoloba
Suasana di Sekitar Loket Pembelian Tiket Pelabuhan Bolok, Kupang (2/10/2014)
Tanggal 26 September lalu, saya melakukan sebuah perjalanan ke Kupang untuk suatu urusan. Terus terang saja, saya masih sangat "asing" dengan kota ini, sekalipun sudah beberapa kali melakukan perjalanan ke sana. Sekalipun demikian, saya masih bisa melihat tahap-tahap perkembangan K
ota Kupang sejak masa 1990-an.
Lima tahun lalu, seorang sahabat asal Jakarta yang baru pertama kali bepergian ke Kupang menyatakan kegundahannya tentang keadaan Kupang saat itu. Dia tidak menyangka bahwa pembangunan di Kota Kupang masih jauh dari harapannya. Pembangunan infrastruktur masih tertinggal, dan angka kejahatan masih terbilang tinggi.
Kesan seperti ini sepertinya sudah sangat berubah jika teman asal Jakarta itu datang dan melihat Kota Kupang lagi saat ini.Betapa kagetnya saya ketika tiba seminggu yang lalu di Kota Karang itu. Deretan Ruko (Rumah Tokoh) bertebaran di mana-mana. Terlebih di Kelurahan Oebobo yang sangat luas itu, daerah yang dahulunya masih kosong dan dipenuhi karang sudah menjadi jajaran Ruko. Bundaran PU yang dulunya tidak terlalu macet, kini mulai padat dan bahkan menjadi jalur macet. Dan jika memasuki jalur Jembatan Liliba, kemacetannya sudah seperti kemacetan di Kota Jakarta, padat merayap.
Dulu, hanya dikenal satu pusat perbelanjaan, yaitu Flobamora Mall. Tapi kini ritel besar, sedang, dan kecil bertebaran di mana-mana. Sebut saja Hypermart, kini menjadi pusat belanja favorit warga Kupang. Di kawasan depan RSU W.Z. Yohanes, terdapat beberapa tempat makan yang menyediakan beberapa menu spesial, di antaranya pisang goreng spesial dan sop babi hangat.
Tidak hanya itu, dari sisi demografis, kepadatan penduduk kian nyata terlihat. Rumah-rumah di pinggir jalan utama tampak padat, kadang tak beraturan. Multikulralisme pun tampak nyata di Kota Kupang. Beberapa masjid besar terlihat megah di tengah kota yang berpenduduk mayoritas Kristen ini. Luar biasanya, masyarakat dapat hidup berdampingan secara damai. Sehingga benar apa yang dikatakan Menag Suryadarma Ali beberapa tahun silam, Kota Kupang dapat menjadi Kota teladan dalam hal kerukunan umat beragama.
Tulisan ini hanya pandangan pribadi saya tentang Kota Kupang, ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur. Jika Anda meragukan kebenaran fakta-fakta dalam tulisan ini, silakan lakukan kunjungan ke Kota Kupang untuk membuktikannya. Syallom.. 

Tuesday, September 30, 2014

Exotic Lewoloba, Take a Look at This

You might never hear about #Lewoloba. But you should know that Kings and Queens of the Kingdom of Larantuka  was born from a Lewolobanese womb, Wato Wele. 

Wato Wele is the only sister of Lia Nurat, the first man who  ever lived in Mandiri Mountain ( Ile Mandiri). Once upon a time, Lia Nurat ask Wato Wele to move to eastern part of the mountain. He afraid he could marry his own sister if they still stayed together. As result, Wato Wele met and married Pati Golo Arakyan. One of their children later become a King of Larantuka.

Wednesday, November 20, 2013

Mutasi Pejabat NTT, Hanya Gubernur dan Tuhan Yang Tahu


Tiga anggota DPRD NTT, Somi Pandie, Gabriel Beri Binna dan Anwar Pua Geno,  mendesak Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, segera melakukan mutasi pejabat di lingkup Pemerintah Propinsi (Pemprop) NTT. Bahkan karena belum tahu kapan jadwal pastinya, Anwar Pua Geno mengatakan, "Hanya Tuhan dan Gubrnur NTT yang tahu."
Desakan anggota DPRD NTT ini disampaikan  dalam rapat paripurna DPRD NTT usai Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, membacakan nota pengantar keuangan di ruang rapat utama DPRD NTT, Senin (18/11/2013).
Menurut Gabriel Beri Binna, yang juga Ketua Komisi A DPRD NTT, mutasi pejabat tidak harus dilakukan serentak. Namun, lanjutnya, jika ada yang sudah final harus segera dilakukan tanpa harus menunggu ditetapkannya beberapa usulan pembentukan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) baru.  Apalagi, kata Beri Binna, jabatan yang lowong hingga saat ini mencapai 100 lebih.
"Mutasi ini tidak bisa dipaksakan untuk dilakukan secara berjamaah. Jika ada yang sudah, bisa segera dilakukan," pintanya.
Anggota DPRD NTT lainnya, Anwar Pua Geno, mengatakan, saat ini telah memasuki masa sidang pembahasan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tahun 2014 yang membutuhkan keseriusan dan keseimbangan dari eksekutif, terutama dalam pembahasan rancangan peraturan daerah karena itu, diminta agar mutasi segera dilakukan.
"Mengingat banyaknya jabatan pimpinan SKPD yang lowong dan ada pejabat yang merangkap sampai tujuh jabatan.  Kami melihat berbagai agenda pemerintah, terutama ranperda yang akan dibahas dalam masa sidang ini, butuh keseriusan dan keseimbangan karena kami melihat ada ketimpangan,"  ujarnya.
Anwar Pua Geno dalam rapat paripurna itu mempertanyakan pernyataan Sekretaris Daerah (Sekda) NTT, Frans Salem, yang diberitakan media massa bahwa mutasi akan dilakukan sebelum pembahasan APBD tahun 2014.  Pernyataan Sekda ini tentu sangat kontradiktif dengan kenyataan karena hingga masa sidang pembahasan APBD 2014, mutasi belum dilakukan.
Karena itu kepada gubernur, Anwar mengatakan bahwa mutasi segera dilakukan mengingat banyaknya jabatan yang lowong serta sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat. "Hari-hari ini kami melihat soal mutasi hanya Tuhan dan Pak Gubernur yang tahu. Sebelumnya sekda sudah janjikan mutasi sebelum pembahasan APBD 2014. Kami minta agar mutasi ini sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik. Kalau bisa tiga hari atau satu minggu ke depan sudah dilakukan mutasi," tegas Anwar.
Anggota DPRD NTT lainnya, Somi Pandie, mengatakan,  selama masa sidang pembahasan APBD Propinsi tahun 2014 ini agar tidak ada pimpinan SKPD yang keluar daerah. Desakan tiga anggota DPRD ini tidak ditanggapi oleh Gubernur NTT karena tidak diberi kesempatan oleh pimpinan rapat paripurna, Ibrahim Agustinus Medah. (roy)