Tulisan ini diambil dari
tulisan saudara Ebed Derosary berjudul "Kisah WatoWele dan Lia Nurat" yang
diposting pada tanggal 14 September 2011. Berikut ini kisahnya (dengan perubahan
seperlunya).
A. Awal Kisah Wato Wele dan
Lia Nurat
Awal mula sejarah daerah
Flores Timur berawal dari Larantuka (Laran
artinya jalan, Tukan artinya tengah). Alkisah, awal mulanya
Larantuka dihuni oleh penduduk aslinya (Ile Jadi) yang berasal dari Gunung
Mandiri (Ile Mandiri). Menurut legenda atau cerita rakyat, dahulu di atas
puncak Ile Mandiri terdapat sebutir telur yang dierami oleh burung rajawali.
Yang kemudian menetas menjadi dua anak manusia, masing-masing
Lia Nurat (laki-laki) dan Wato Wele atau Putri Ile Jadi (wanita). Kedua manusia ini
dipelihara oleh seekor jin, ketika itu mereka belum berpakaian dan seluruh
tubuh mereka berbulu serta memiliki kuku yang panjang dan runcing. Mereka
mendirikan rumah di puncak Ile Mandiri yang kemudian mereka sepakat untuk hidup
terpisah, Wato Wele ke arah timur sedangkan saudaranya ke Likat Lamaboting Lama
Bunuk (terletak di belakang Ile Mandiri).
Suatu ketika Wato Wele
didatangi seorang pria yang bernama Patih Golok Arakiang dari pulau Timor
(banyak yang menduga Patih Gadja Mada) dengan menggunakan sampan. Mereka
kemudian menikah dan menghasilkan tiga orang keturunan, yaitu Kudi Lelenbalan
(yang menurunkan masyarakat Waibalun), Padu Ile Pook Wolo (yang menurunkan
dinasti raja-raja Larantuka) dan Laha Lapang (yang menurunkan penduduk kampung
Balela). Ini merupakan legenda
yang pada umumnya beredar di dalam masyarakat Flores Timur.
B. SUMBER SEJARAH
Tulisan ini
disadur dari penelitian bapak Yosep Yapi Taum ( Dosen Universitas Sanata
Dharma). Cerita Wato Wele-Lia Nurat merupakan
jenis sejarah asal usul (tutu maring usu asa) yang dikeramatkan, terutama oleh
Suku Ile Jadi di Larantuka. Semua kisah ini disampaikan dalam bahasa sastra
(KODA KNALAN).
1. Disampaikan oleh
Markus Ratu Badin, 68 tahun, buta huruf,
petani berasal dari Desa Lewohala. Kisah ini diperolehnya pada usia 15 tahun
dari ayahnya, Raja Badin dan dari kakeknya, Baha Badin. Menurut sejarah asal
usul, penutur termasuk Suku Ile Jadi keturunan Lia Nurat. Penutur merupakan tua
adat dan tuan tanah Desa Lewohala. Teks ini direkam tanggal 3 dan 4 Februari
1994 dan dituturkan dalam bahasa sastra (koda knalan) yang sangat rapi.
Garis besarnya adalah sebagai berikut.
Pada mulanya Ema Wato/Bapa Madu Ma yang tinggal di Sina Jawa menyuruh
orang tuanya burung elang, terbang ke puncak Gunung Mandiri. Di puncak gunung
itu sang elang menaruh telurnya dan dari satu butir telur itu lahir manusia
kembar, Wato Wele - Lia Nurat. Wato Wele - Lia Nurat dipelihara oleh hantu gunung hingga menjadi dewasa. Lia Nurat mengantar adiknya Wato Wele menempati bagian selatan Mandiri dan
Lia Nurat sendiri menghuni bagian utara gunung itu. Lia
Nurat membuat api unggun di puncak Mandiri yang cahayanya sampai ke
perkampungan Paji. Sinar api itu mengenai seorang gadis Paji bernama Hadung
Boleng Teniban Duli. Suku Suban Lewa Hama, saudara kandung Hadung Boleng, disuruh pergi ke
puncak gunung mencari asal api unggun dan bertemu dengan Lia Nurat. Lia Nurat
berjanji akan turun ke kampung Paji. Lia Nurat turun ke kampung Paji dan menikah dengan Hadung Boleng. Dari
pernikahan itu lahir tujuh anak yang kelak menurunkan Suku Ile Jadi Baipito.
Mereka hidup berkecukupan. Kemakmuran mereka diketahui orang-orang Suku Soge (Maumere). Raja Suku
Soge pun mengantar anaknya Uto Watak, untuk diperisteri Lia Nurat. Hadung Boleng tidak senang dengan kehadiran Uto Watak. Dia pun mengusir
Uto Watak. Raja Suku Soge sangat marah. Mereka datang menyerbu dan membunuh Lia Nurat. Setelah Lia Nurat meninggal, kehidupan Hadung Boleng dan ke 7 anaknya
sangat menderita. Suatu ketika Boleng bermimpi melihat pusat gunung. Dengan
itu, kehidupan mereka kembali makmur. Terjadi perang di Adonara. Kelima putra Lia Nurat ikut berperang membela
adik perempuan mereka. Dalam peperangan itu, putra sulung Lia Nurat, Belawa
Burak Sina Puri, tewas terbunuh. Keempat putra Lia Nurat yang masih hidup kembali ke gunung Mandiri dan
membagi tanah warisan di antara mereka. Penjelasan penutur tentang asal usul mereka, yakni dari putra kedua Lia
Nurat.
2. Dituturkan oleh
Aloysius Pati Welan, 70 tahun, petani, pernah
bersekolah pada Sekolah Rakyat (SR) sampai kelas III, berasal dari Desa
Riangkamie. Cerita ini diperolehnya dari Kepala Desa Riangkamie, Pehan Kelen,
ketika penutur berusia kira-kira 20 tahun. Menurut sejarah asal usul, penutur
merupakan orang dari Kroko Puken Lapan Batang, dan merupakan salah satu tua
Desa Riangkamie. Teks ini dituturkan dalam bahasa sastra (koda knalan), direkam
pada tanggal 5 Februari 1994
. Garis besar ceritanya sebagai berikut:
Koda Lia Nurat berasal dari Suku Soge yang merupakan keturunan burung
elang. Di Suku Soge, Lia Nurat sudah beristeri, Uto Watak Teluma Burak. Lia Nurat dan Uto Watak sepakat pergi ke timur untuk membangun kampung di
puncak Ile Mandiri. Suatu malam Lia Nurat membuat api unggun. Sinar api itu sampai ke kampung
Paji dan menyebabkan gadis Hadung Boleng Teniban Duli hamil. Saudara Hadung Boleng, Ratu Dale Rian Tomo, mengantar adiknya ke puncak
gunung untuk diperisteri Lia Nurat. Dari perkawinan ini lahir 5 putra dan 1
putri. Hadung Boleng berselisih dengan Uto Wata. Karena sakit hati, Uto Watak
kembali ke Soge dan melaporkannya kepada ayahnya. Suku Soge datang menyerbu dan menewaskan Lia Nurat. Hadung Boleng bersama
anak-anaknya mengembara dari hutan ke hutan hingga menetap di Bluhur Wojon Tobo. Akhirnya anak-anak Lia Nurat sepakat membagi-bagi tanah warisan.
3. Dituturkan oleh Gregorius
Geru Koten, 46 tahun, guru SD, lulusan Sekolah Teknik (ST), berasal dari
Leworok. Cerita ini diperolehnya dari ayahnya, Sipri Tubun, ketika penutur
masih kanak-kanak (kira-kira 12 tahun). Menurut sejarah asal usul, penutur
termasuk turunan Sina Jawa. Teks dituturkan dalam bahasa sastra (koda knalan),
direkam tanggal 10 Februari 1994. Garis besar isi ceritanya sbb :
Lia Nurat dan Wato Wele lahir dari batu
wadas di Gunung Mandiri. Lia Nurat mengantar adiknya, Wato Wele, menetap di
bagian selatan mandiri karena rupanya seperti hantu. Suatu ketika datang Raja Pati Golo
Arakiang dari Sina Jawa untuk berdagang dan mencari tempat bermukim di
Larantuka. Suatu malam, Pati Golo Arakiang
melihat nyala api di puncak Gunung Mandiri, dan dia tertarik
menyelidikinya. Di puncak Mandiri Raja Pati Golo
Arakiang bertemu Wato Wele yang tubuhnya dipenuhi bulu-bulu rambut yang
lebat. Pati Golo Arakiang mencukur rambut dan memotong kuku manusia hutan
itu ketika dia tertidur akibat mabuk. Ternyata manusia hutan itu seorang
wanita cantik, Wato Wele.Pati Golo menikah dengan Wato
Wele, menetap di Larantuka dan membangun Kerajaan Larantuka.
Suatu ketika terjadi perang di
Timor. Raja Pati Golo tidak mampu melawan pasukan Timor. Dia pun kembali
ke Larantuka dan meminta bantuan kaum Baipito (keturunan Lia Nurat). P
ati Golo menikah dengan Wato
Wele, menetap di Larantuka dan membangun Kerajaan Larantuka. Suatu ketika terjadi perang di
Timor. Raja Pati Golo tidak mampu melawan pasukan Timor. Dia pun kembali
ke Larantuka dan meminta bantuan kaum Baipito (keturunan Lia Nurat). Pendekar Baipito, Ehak Sina
Ama/Riki Rapo Lolong, bersedia membantu raja. Raja berjanji, jika Ehak
Sina Ama menang, maka dia boleh mempersunting adik Raja Pati Golo, Bui
Kena Arawada. Ehak Sina Ama berhasil menumpas
tentara Timor. Ketika dia kembali ke Larantuka, ternyata raja mengingkari
janjinya. Raja Pati Golo menghina Ehak Sina Ama sebagai manusia hutan. Ehak Sina Ama menyimpan dendam dan
mencari cara untuk membalasnya. Ketika Bui Kena Arawada mencari kayu di
hutan, Ehak Sina Ama memberinya minum tuak yang dicampur dengan air
maninya. Ini membuat Bui Kena Arawada hamil. Raja Pati Golo sangat marah atas
perbuatan Ehak Sina Ama. Dia ingin membunuh Ehak Sina Ama tetapi pedang
dan tombak tak mampu melukai Ehak. Hal ini disebabkan karena Ehak berada
di pihak yang benar. Raja Pati Golo meminta bantuan
pendekar Lewotala, Leki Bera Doro Manuk, untuk membunuh Ehak. Leki mengatur siasat untuk
menjebak Ehak Sina Ama yang merupakan kawannya sendiri. Disuruhnya
seorang budak memetik mangga di Lewohala, kampung Ehak Sina Ama. Ehak Sina Ama memanah budak itu.
Dengan dasar ini, Leki Bera mengejar Ehak Sina Ama untuk membunuhnya,
tetapi Ehak Sina Ama melarikan diri ke wilayah Paji di Tanjung Bunga. Di Tanjung Bunga, Ehak Sina Ama
kawin dan memperoleh satu anak lelaki. Namun Ehak Sina Ama tidak menetap
di sana. Dia datang dan menetap di desa Riangkoli. Raja Pati Golo Arakiang mendengar
kabar bahwa Ehak Sina Ama menetap di Riangkoli. Maka dia meminta orang
Leworok untuk membunuh Ehak Sina Ama. Orang Leworok menyusun strategi
untuk membunuh Ehak. Mereka menyuruh seorang gadis, Lito Nue Rate Dora, datang kepada Ehak dan mengaku bahwa ia adalah anak
yatim piatu. Lito Nue Rate Dora kembali ke
Leworok menceritakan hal itu. Orang Leworok mendapat alasan yang tepat
untuk membunuh Ehak Sina Ama karena dia telah meniduri Lito Nue dengan
tidak sah. Orang Leworok datang menyerbu dan
berhasil membunuh Ehak Sina Ama. Setelah membunuh Ehak, mereka melakukan
upacara pembasuhan darah. Orang Leworok menceritakan perihal
kematian Ehak Sina Ama ini kepada Raja Pati Golo Arakiang, dan raja
sangat senang mendengarnya.
4.
Dituturkan oleh Arnoldus Dana Hurint, 52 tahun, buta huruf,
petani, berasal dari Desa Riangkoli. Cerita ini diperoleh sejak berusia
kira-kira 8 sampai 9 tahun dari ayah kandungnya. Penutur adalah tua adat di
desanya, dan merupakan orang dari suku Sina Jawa. Teks dituturkan dalam bahasa
sastra (koda knalan), dan direkam tanggal 14 Februari 1994. Garis besar isi
ceritanya sbb :
Gunung Ile Mandiri melahirkan dua anak
kembar, Wato Wele dan Lia Nurat. Wato Wele tinggal di bagian selatan gunung,
sedangkan Lia Nurat di sebelah utara.
Suatu
ketika datang Raja Pati Golo Arakiang dan bermukim di Larantuka. Pada waktu
malam, dia melihat ada nyala api di puncak gunung. Keesokan harinya dia pergi
mencari sumber api itu. Di
puncak Gunung Mandiri dia berjumpa dengan seorang manusia hutan bernama Wato
Wele Oa Dona. Keduanya pun menikah dan turun menetap di Larantuka. Pati
Golo menjadi raja Larantuka karena menikahi Wato Wele Oa Dona. Itulah sebabnya
perintah Pati Golo dipatuhi. Suatu
ketika terjadi perang di Timor. Pati Golo pergi ke Timor untuk berperang,
tetapi dia tidak mampu mengalahkan musuhnya. Pati Golo pun kembali ke
Larantuka. Pati
Golo meminta bantuan rakyat Baipito (keturunan Lia Nurat). Seorang pendekar
bernama Eha Sina Ama/Riki Tapo Lolon bersedia membantu raja. Raja berjanji,
jika Ehak dapat mengalahkan musuhnya, maka dia boleh mengambil Buikena Arawada,
adik raja Pati Golo, sebagai istrinya. Ehak
pergi berperang dan ternyata dia menang. Ketika kembali ke Larantuka, ternyata
Buikena menolak dinikahi Ehak. Ehak
menaruh dendam pada Buikena. Ketika Buikena mengambil kayu di hutan, Ehak
memberinya minum tuak yang sudah dicampur air maninya. Hal ini membuat Buikena
mengandung. Raja
Pati Golo sangat malu. dia meminta orang Lewotala membunuh Ehak. Pendekar
Lewotala, Leki Bera Doro Manuk berusaha membunuh Ehak tetapi gagal. Ehak
mengungsi ke Tanjung Bunga. Disana dia kawin dan mendapat seorang anak
laki-laki. Ehak
mengungsi lagi dan tinggal di Riangkoli. Ketika raja mengetahui bahwa Ehak
berada di Riangkoli, dia meminta orang Leworok untuk membunuh Ehak. Orang
Leworok datang dan membunuh Ehak. Orang Riangkoli menguburnya dan menjadikannya
leluhur mereka. Raja
mengadakan pesta adat merayakan kematian itu. Di tengah-tengah keramaian itu,
seorang anak bernama Padu Ile datang memeluk kaki Raja Pati Golo. Padu
Ile adalah anak Raja Pati Golo dari istri selirnya. Raja Pati Golo sangat malu.
Untuk membuktikan bahwa Padu Ile benar-benar anak Raja Pati Golo, dia memanah.
Jika panahnya jatuh ke tanah berarti dia bukan anak raja. Tetapi sebaliknya,
jika panah jatuh pada nasi tumpeng (rengki) raja, maka dia benar-benar anak
raja. Ternyata panah Padu Ile jatuh ke atas nasi tumpeng raja. Karena
malu, raja mengambil senjata untuk membunuh Padu Ile, tetapi Padu Ile dapat
melarikan diri ke Riangkoli. Suatu
ketika, Padu Ile melihat nyala api di puncak Gunung Malat. Dia pun mendaki ke
puncak gunung untuk menyelidiki sumber api itu. Di
puncak Gunung Malat, Padu Ile bertemu seorang gadis, Nogo Beko Blawah Ongo.
Keduanya kawin dan menurunkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Sina Gula
Pora Jawa. Raja
Pati Golo memberikan kampung Riangkoli sebagai tempat tinggal Sina Gula Pora
Jawa dan mengangkat desa itu menjadi Pou Suku Lema (suku pembantu raja).
5. Dokumen Kantor Depdikbud Kabupaten Flores Timur. Sira Lakalodang di Lamahala, Adonara,
melakukan barter dengan Serang Gorang Lobi yang datang dari Maluku. Serang
Gorang Lobi memberikan seekor babi betina kepada Sira Lakalodang. Babi betina itu melahirkan dua anak
kembar : Kakang Tobo Pehan Tonu dan Aring Welan Laga Wujo. Ketika kedua kembar itu mandi
di Puhu Gelong, mereka bertemu dengan dua gadis putri raja Puhu
Gelong, Uto Toeng Tonu dan Kopa Wele Barek. Mereka pun saling jatuh
cinta. Uto Toeng Tonu dan Kopa Wele
Barek kembali ke rumah mereka dan duduk menenun sarung. Tiba-tiba seekor
burung kutilang muncul. Kopa dan Uto memberikan makan jewawut yang
ditaruh di ujung tongkat tenun (hurit). Ternyata tongkat tenun itu
dibawa terbang dan jatuh di dekat rumah Tonu dan Wujo. Tonu dan Wujo mengambil Uto dan
Kopa sebagai istri. Masyarakat dan Raja Puhu Gelong panik, mencari Uto
dan Kopa sampai di Pigan Lewata, mengajak keduanya pulang, tetapi
ditolak. Mereka bersepakat menguji
kebenaran melalui perang. Pihak yang kalah dianggap bersalah dan yang
menang dianggap benar. Kedua pihak mencari dasar hukum untuk membenarkan
tindakan mereka. Pihak Puhu Gelong menganggap kedua putri diculik Tonu
dan Wujo. Pihak Pegan Lewata (Lamahala) menganggap kedua putri datang
sendiri. Perang dilaksanakan selama tiga
hari tiga malam. Pemenangnya adalah Pigan Lewatan. Karena merasa tidak aman
tinggal di Piga Lewatan, Tonu dan Wujo meminta Kiko Unus Aman mengantar
mereka ke Lamakera (Solor) untuk menetap di sana. Di Lamakera, Kakang Tobo Pehan
Tonu mengubah namanya menjadi Sinu, sedangkan adiknya, Aring Welan Laga
Wujo menjadi Narek. Mereka diterima sebagai Bela Raja (suku besar)
karena merupakan pemberani, mendampingi suku Songge Sikka Klodo. Sinu dan Narek tak puas tinggal
di Lamakera. Keduanya pun melanglang buana (niu lagang) ke timor
dengan menumpang kulit pinang (Wua Kama). Di perjalanan itu mereka
memberi nama kepada banyak daerah, antara lain, Tana Timo, Nama Sain,
Teno, Tobi Lolong, Nuha Kera. Di Timor ada seyembara yang
digelar Raja Amarasi : siapa yang mampu membunuh ular naga yang sering
mengganggu penduduk akan di bawah ke istana. Sinu dan Narek berhasil
membunuh naga itu berkat mantra dan pertolongan Ilahi Lera Wulan dan
leluhur Tana Ekan di kampung halamannya. Mereka memotong lidah naga itu. Keesokan harinya, pendekar dari
Rote mengambil kepala naga itu dan memberikannya kepada Raja Amarasi
untuk mendapat hadiah. Sinu dan Narek datang juga ke istana dan meminta
orang Rote menunjukan lidah naga itu. Akhirnya orang Rote diberi tanah
(karena mereka membawa kepala naga kepada raja) dan orang Solor pun
diberi tanah di kampung Solor (karena Sinu dan Narek itulah yang
membunuh naga itu). Di tempat itu muncul mata air yang disebut De (Wai)
Ba (mengalir). Sinu dan Narek terus menjelajahi
Pulau Timor. Mereka tiba di Ata Pupu (orang kumpul), yakni tempat
berkumpulnya manusia-manusia gaib. Narek, sang adik, tinggal di sana
sedangkan Sinu, kakaknya berlayar kembali ke Lamakera. Narek bertemu beberapa orang
pribumi yang masih primitif, hidup di puncak-puncak bukit. Narek pun
diangkat menjadi Raja Atapupu. Narek kawin dengan penduduk asli di sana
dan mendapat dua orang anak yakni Pati Golo Arakiang (adik) dan Peni
Utang Pati Golo (kakak perempuan). Pati Golo bergelar Raja Pati Golo
Arakiang karena menggantikan ayahnya sebagai raja.
Pati Golo menyadap tuak dan Peni
Utang Lolong menenun sarung. Suatu ketika Pati Golo kembali tanpa
membawa tuak, Peni Utang Lolong marah dan memukul adiknya dengan tongkat
tenun (hurit) hingga darah mengucur dari ubun-ubun kepalanya.
Pati Golo Arakiang ingin mencari
pencuri tuaknya. Tengah malam, ketika Pati Golo berjaga di atas pohon
lontar, datang seekor burung raksasa yang baunya busuk, menjulurkan
paruhnya ke dalam bambu tuak, dan minum tuak itu. Terdorong rasa dendam
sekalipun takut, Pati Golo memeluk kaki burung itu dan duduk di telapak
kakinya. Burung itu adalah karuda (yang biasa memangsa anak
kambing, ayam, domba, bahkan manusia). Burung itu menerbangkan Pati Golo
ke arah barat. (Karuda = si kerongkongan jelek). Karuda terus saja terbang dan
akhirnya hinggap di sebuah kebun pisang di pulau Jawa. Penjaga kebun
pisang melaporkan kedatangan Pati Golo kepada raja. Pati Golo diterima
sebagai pinatu di istana raja.
Ketika giliran Pati Golo mencuci
pakaian raja, ditaburinya pakaian itu dengan serbuk kayu cendana yang
harum. Raja amat senang dan menyuruh Pati Golo memimpin sebuah ekspedisi
ke Timor untuk mengambil cendana itu, dengan membawa minuman keras di
dalam botol-botol.
Ekspedisi pun berangkat ke pulau
Timor. Kayu cendana ditebang selama tiga bulan. Sementara itu Pati Golo
menyusuri hutan yang terasa asing baginya. Di hutan itu Pati Golo
bertemu seorang gadis cantik dan keduanya kawin.
Hari keberangkatan semakin
mendekat. Pati Golo berpamitan dengan istrinya untuk pergi ke pulau Jawa
dan akan kembali menjumpai istrinya. Istrinya mencari kutu rambut Pati
Golo, dan melihat bekas luka di kepala Pati Golo. Sang istri bercerita
bahwa dia mempunyai seorang adik dan bahwa dia pernah memukul kepala
adiknya dengan hurit. Adiknya bernama Pati Golo Arakiang.
Mendengar cerita itu, Pati Golo Arakiang merangkul istrinya yang
ternyata adalah Peni Utang Lolong, kakak kandungnya sendiri. Tangis tak
terbendung disertai penyesalan yang terlambat karena Peni Utang Lolong
sudah hamil 3 bulan.
Pati Golo Arakiang pamit pada
istrinya dan berjanji akan kembali lagi. Ekspedisi pun siap dan mereka
berangkat.
Ekspedisi tiba di selat Flores,
terus menuju ke arah timur. Di Flores timur tampak begitu banyak orang
yang sedang berkarang di pantai. Ketika kapal itu berlabuh di Lokea
(Lewo Gekeng Derang Tanah Sao Sina = kampung persaudaraan tempat
berlabuh ekspedisi dari pulau Jawa), ternyata tidak ada seorang manusia
pun di sana. Pati Golo menyebut tempat itu "Mandiri Tanah
Lolong" (sendirian di atas tanah).
Di tanah ada bekas obor dan jejak
kaki menuju ke puncak gunung. Pati Golo memerintahkan ekspedisi untuk
terus berlayar, sedangkan dia tetap tinggal di tempat itu, menyusuri
jejak untuk menyelidiki siapa penghuninya. Pati Golo tiba di puncak gunung.
Disembunyikannya botol-botol minuman keras dan kain sarung pemberian
kakaknya, Peni Utang Lolong, di semak-semak. Dia memanjat pohon asam dan
duduk di atasnya, menunggu siapa yang bakal datang.
Sore hari datang seorang manusia
membawa hasil buruan. Sosoknya tinggi, jangkung, hitam, besar. Manusia
itu membaui atas pohon asam, terlihat olehnya seorang manusia. Manusia
hutan itu memperkenalkan dirinya, Saya Oa Wato Wele Apa Utan, penguasa
gunung ini! Pati Golo juga memperkenalkan dirinya, Saya Raja Pati Golo,
Pati Golo Arakiang, berasal dari tanah Timor, telah mengembara ke tanah
Jawa dan terdampar di tempat ini.
Keduanya pun makan bersama.
Setelah itu Pati Golo memberikan minuman keras kepada Wato Wele. Wato
Wele minum sampai mabuk dan tertidur. Pada waktu dia tertidur, Pati Golo
mencukur bulu-bulu rambut Wato Wele. Ternyata dia seorang gadis yang
sangat cantik. Akhirnya Pati Golo dan Wato Wele kawin dan menjadi
penguasa di wilayah itu, menjadi Raja dan Ratu Larantuka.
Perkawinan Wato Wele dan Pati
Golo menurunkan seorang putra, Raja Resi Weli Nama, Tuan Igo Weli Lela.
Raja ini menurunkan Raja Padun Ile, Tuan Paga Wolo. Raja Padun Ile
menurunkan Raja Usi Laseberang. Raja Usi menurunkan dua putra yakni Igo
(kakak) dan Enga (adik). Pada masa pemerintahan kedua putra
inilah terjadi perang perebutan kekuasaan, yang dikenal dengan nama Perang
Paji-Demong. Perang ini dipengaruhi unsur Jawa, yakni Perang Demak melawan
Pajang. Pengikut Kerajaan Demak disebut Demong Narang (orang Demong) dan
pemimpin mereka disebut Kakang. Pengikut Kerajaan Pajang disebut Paji Nara
(orang Paji) dan pemimpin mereka disebut Kapitan karena dia seorang nahkoda
kapal. Kedua bersaudara ini mengikuti pengaruh yang berlawanan ini. Dinasti
Demong dipimpin Igo, dan dinasti Paji dipimpin Enga.
6. Dituturkan oleh Petrus
Mau Larantuka, 74 tahun, tua adat, petani, pernah mengikuti pendidikan
pada Standaarschool (Sekolah Guru) Belanda sampai kelas V. Cerita ini
diperoleh penutur ketika berusia kira-kira 12 tahun dari ayahnya, Yosep
Banda Larantuka. Penutur merupakan orang dari keturunan Sina Jawa. Teks
ini dituturkan dalam bahasa Indonesia dan direkam tanggal 19 Februari
1994. Isi ringkasan ceritanya sbb :
Pada awalnya Wato Wele dan Lia Nurat
dilahirkan oleh Gunung Ile Mandiri. Wato Wele-Lia Nurat hidup bersama di puncak
gunung itu, dan menurunkan seorang anak laki-laki bernama Tukan Ama Wruin. Setelah
itu Lia Nurat mengantar adiknya Wato Wele untuk menempati wilayah selatan
Gunung Mandiri. Lia Nurat sendiri menempati wilayah utara Gunung Mandiri, yaitu
Wao
Lama Herin. Suatu
ketika datang Pati Golo Arakiang dari Tanah Timor. Pati Golo berlabuh di
Lawerang Tanah Goran. Di tempat itu tidak ada manusia. Pada malam hari Pati
Golo melihat nyala api di puncak Gunung Mandiri. Pati Golo pu mendaki gunung
itu untuk menyelidiki sumber api. Pati
Golo bersembunyi di atas pohon asam. Tiba-tiba datang seorang manusia membawa
binatang-binatang buruan. Sosoknya tinggi, besar dan berbulu lebat. Orang hutan
itu hendak membuat api unggun dengan menggesekan kukunya, tetapi api tidak
menyala sehingga terjadi gempa bumi yang dahsyat. Manusia
hutan melihat ke atas pohon dan ternyata ada manusia di atas pohon itu. Manusia
hutan memperkenalkan dirinya, Saya Wato Wele Apa Hutan. Pati Golo turun dari
pohon. Keduanya makan dan minum arak sampai Wato Wele mabuk dan tertidur. Ketika
Wato Wele tertidur, Pati Golo Arakiang mencukur bulu-bulu rambut dan memotong
kuku-kukunya. Ternyata Wato Wele seorang wanita yang cantik. Keduanya segera
menikah dan menurunkan tiga orang anak yaitu, Kudi Leleng Balang, Raja Ila, dan
Lahan Lapan. Raja
Pati Golo meninggalkan Wato Wele dan ketiga anaknya. Dia pergi mencari
kakaknya, Biu Kena Arawada yang sudah lama ditinggalkan karena Bui Kena memukul
kepala Pati Golo saat Pati Golo tidak membawa tuak ke rumahnya.
Di
sebuah pantai, Pati Golo bertemu seorang gadis. Keduanya saling jatuh cinta dan
segera menikah. Dari pernikahan itu, lahir seorang anak laki-laki bernama Pati
Grama. Suatu
ketika, istri Pati Golo mencari kutu rambut Pati Golo. Dia melihat bekas luka
di kepala Pati Golo dan menceritakan bahwa dia mempunyai seorang adik bernama
Pati Golo Arakiang yang juga memiliki bekas luka di kepalanya. Mendengar cerita
itu, Pati Golo menyesal dan pergi meninggalkan kakaknya yang sedang hamil. Ketika
Pati Golo datang dari tanah Timor, dia membawa pula dua orang anaknya, yakni
Pusi dan Gowa, yang kini keturunannya menetap di desa Lebao dan Tebali.
7. Dituturkan oleh Lukas Bala Hurint, 73 tahun, buta huruf,
petani, dari desa Lewoloba. Cerita diperoleh dari orang tuanya pada usia
kira-kira 8-9 tahun. Penutur merupakan orang Ile Jadi, dari keturunan Lia Nurat
(Blawak Burak Sina Puri). Teks dituturkan dalam bahasa Indonesia dan dicampur
dalam bahasa Lamaholot biasa dan direkam tangga 2 Februari 1994. Isi ringkasan
ceritanya sbb :
Batu-batu wadas pecah, dan dari dalam
gunung lahirlah dua saudara kembar, Wato Wele-Lia Nurat. Lia
Nurat mengantar adiknya, Wato Wele, menempati wilayah selatan Gunung Mandiri,
yakni Woto Wele Dole. Lia Nurat membuat pemisah wilayah itu dengan menanam
rotan yang menjalar sampai ke laut dan menempatkan batu-batu besar, dengan
maksud agar keduanya tidak bertemu lagi. Suatu
ketika di perkampungan Paji, seorang gadis bernama Hadung Boleng Teniban Duli
melihat nyala api di puncak Gunung Mandiri. Hadung Boleng menyuruh saudaranya,
Suban Lewa Haman Sao Lewa Gowe, untuk menyelidiki asal api itu. Suban Lewa
Haman membawa ketupat, madu, arak, pisau iris (mere) dan kain tenun (nowing,
snaik). Tiba
di puncak gunung, Suban Lewa Haman bertemu dengan Lia Nurat. Tubuh Lia Nurat
ditumbuhi bulu-bulu rambut yang sangat lebat, kuku-kukunya mirip cakar. Mereka
membakar hasil buruan dan makan bersama. Karena belum terbiasa minum arak, Lia
Nurat mabuk dan tertidur. Pada waktu Lia Nurat tertidur, Suban Lewa Haman
mencukur bulu-bulu rambutnya dan memotong kuku-kuku jari kaki dan tangannya.
Ketika Lia Nurat bangun, dia merasa dingin dan sangat terkejut. Hujan turun
dengan lebat dan disertai angin dan gempa bumi selama tujuh hari tujuh malam. Suban
Lewa Haman memberikan sarung kepada Lia Nurat. Suban Lewa Haman merasa takut
karena hujan, angin, dan gempa tak kunjung berhenti. Dia pun berjanji, setelah
tujuh hari dia akan membawa adiknya Hadung Boleng Teniban Duli kepada Lia Nurat
untuk dijadikan istri Lia Nurat. Hujan, angin dan gempa berhenti. Pada
hari ke tujuh, sesuai janji, Suban Lewa Haman mengantar adiknya Hadung Boleng
Teniban Duli kepada Lia Nurat di puncak gunung Mandiri untuk dijadikan istri
Lia Nurat.
Dari
perkawinan itu lahirlah 5 oraang putra dan 2 orang putri yang kelak menurunkan
penduduk Baipito. Suatu
ketika terjadi perang di Adonara. Kelima putra Lia Nurat pergi ke sana untuk
berperang membela adik perempuan mereka. Dalam peperangan itu, anak sulung Lia
Nurat, yakni Blawa Burak Sina Puri tewas terbunuh. Seusai
perang, anak-anak Lia Nurat yang masih hidup kembali ke Ile Mandiri dan membagi
tanah warisan di antara mereka.
( Disadur dari
Tulisan Adik Piter Fernandez )