Pernyataan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, yang berencana merumahkan 9.000 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) pada tahun 2027 bukan sekadar gertakan politik, melainkan lonceng kematian bagi stabilitas birokrasi daerah. Langkah radikal ini dipicu oleh tekanan fiskal yang menyesakkan, di mana Pemerintah Provinsi NTT dipaksa memangkas belanja pegawai hingga Rp540 miliar demi memenuhi mandat regulasi pusat. Realitas pahit ini menempatkan ribuan nasib manusia dalam ketidakpastian, di tengah ambisi menciptakan postur anggaran yang ideal namun sering kali abai terhadap dampak sosial yang sistemik.
Lonceng peringatan ini sebenarnya bersumber dari "hantu" regulasi bernama Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (UU HKPD). Pasal 146 secara eksplisit mematok batas maksimal belanja pegawai sebesar 30 persen dari total belanja daerah, dengan tenggat waktu penyesuaian di tahun 2027. Kebijakan ini, meski bertujuan baik untuk mendorong alokasi anggaran ke sektor produktif, nyatanya menjadi jebakan bagi daerah dengan kapasitas fiskal rendah seperti NTT yang selama ini menggantungkan hidup pada tetesan dana transfer pusat.

