Showing posts with label Baipito. Show all posts
Showing posts with label Baipito. Show all posts

Monday, August 26, 2019

Tim Dopa Ile (DOPI) Lewoloba Kibarkan Merah Putih di Puncak Ile Mandiri


Nick Doren Lewoloba
Suasana Pengibaran Bendera di Puncak Ile Mandiri oleh Tim DOPI Lewoloba
(17 Agustus 2019)

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus merupakan hari istimewa bagi seluruh bangsa Indonesia dari tingkat Pusat hingga Desa dan Dusun. Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-74 tahun 2019 merupakan hari bersejarah bagi Desa Lewoloba. Tepat tanggal 17 Agustus 2019, Tim Dopa Ile (DOPI) atau pendaki gunung berjumlah 34 orang melakukan pendakian menuju puncak Ile Mandiri untuk mengibarkan bendera Merah Putih di Pucak Ile Mandiri. Tim ini terdiri dari 31 orang muda dan 3 orangtua (Bpk. Stefanus Raja Koten, Bpk. Yosep Pehan Hurint dan Bpk. Petrus Kebung Koten).
Tim DOPI Lewoloba memulai pendakian sekitar Pkl. 06.00 Wita, bergeser beberapa jam dari jadwal yang direncanakan yaitu Pkl. 03.00 Wita karena ada peristiwa kedukaan di Lewoloba. Tim DOPI Lewoloba mengambil jalur pendakian yang ada di Desa Lewoloba yaitu dari Lewoloba menuju Lewoloba kampung lama, selanjutnya ke Tronga Ata, menuju situs pemakaman Lia Nurat (penghuni awal Ile Mandiri) selanjutnya menuju ke Puncak Ile Mandiri. Titik pendakian yang paling menantang adalah Tronga Ata di mana Tim DOPI harus menaklukan kemiringan pendakian ± 80 derajat sepanjang ± 300 meter. Tim DOPI Lewoloba juga menyempatkan diri berdoa di situs pemakaman Lia Nurat, leluhur Lewoloba yang juga merupakan penghuni awal Ile Mandiri (Ile Jadi). Doa disampaikan dalam bahasa adat Lewoloba oleh Bpk. Yosep Pehan Hurint.

Nick Doren Lewoloba
Doa Bersama di Situs Makam Lia Nurat

Setibanya di Puncak Ile Mandiri pada ketinggian 4.869 kaki Tim DOPI melakukan serangkaian kegiatan persiapan, yaitu pembersihan lokasi dan pemasangan tiang bendera. Tiang bendera yang digunakan adalah beberapa pipa kecil yang disambungkan menjadi satu dan diikat pada sebatang pohon. Semua peserta upacara mengenakan pakaian adat Baipito dengan bawahan senai, atasan baju putih lengan panjang, pengikat kepala berwarna merah dan manik-manik khas Baipito.

Upacara pengibaran Merah Putih berlangsung khusuk, dengan Inspektur Upacara Bpk. Stefanus Raja Koten (mantan Kepala Desa Lewoloba) dan komandan upacara Adrianus Kelen. Setelah upacara apel bendera, Tim DOPI Lewoloba bersalaman satu sama lain, merasa haru dan bangga atas prestasi yang dicapainya. Pengibaran bendera Merah Putih ini merupakan pengibaran bendera pertama yang pernah dilakukan di atas puncak tertinggi Ile Mandiri.

Sebelum kembali ke Lewoloba, Tim DOPI melakukan upacara penurunan bendera Merah Putih. Bendera ini kemudian diganti dengan bendera putih yang masih tetap berkibar hingga saat ini. Tim DOPI Lewoloba tiba di Desa Lewoloba sekitar Pkl. 19.00 Wita.

Pengalaman pendakian dan pengibaran bendera Merah Putih yang dilakukan oleh Tim DOPI Lewoloba ini adalah prestasi yang membanggakan. Selain bahwa peristiwa ini memecahkan rekor sebagai pengibaran bendera Merah Putih pertama kali di Puncak Ile Mandiri, peristiwa ini juga nasionalisme di kalangan generasi muda Lewoloba untuk cinta tanah air, khususnya cinta akan budaya dan Lewotanah Lewoloba.

Selengkapnya kisah pendakian Tim DOPI dapat dilihat pada video berikut :







Monday, November 19, 2018

Membaca Pileg dan Pilpres dalam Konteks Lewoloba

Nick Doren - Lewoloba

Pada tanggal 17 April 2019 mendatang, Republik Indonesia akan mengadakan Pemilihan Umum (Pemilu) untuk memilih Calon Presiden dan Wakil Presiden, Calon Anggota DPR RI / DPRD dan DPD. Pemilu 2019 akan berbeda dengan Pemilu pada periode sebelumnya karena dilakukan secara serentak. Setidaknya terdapat lima kondisi yang membedakan Pemilu 2019 dengan Pemilu sebelumnya yaitu : (1) Sistem Pemilu terbuka, (2) perubahan timeline presidential threshold, (3) parliamentary threshold, dan (4) metode konversi suara, serta (5) pembagian kursi per Dapil, 3 untuk suara minimal dan 10 untuk suara maksimal. Terkait dengan Pemilu yang dilaksanakan secara serentak, maka setiap wajib pilih akan membawa 5 surat suara ketika memasuki bilik suara, yaitu surat suara untuk Pilpres, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten / Kota dan DPD. Dengan mengantongi 5 surat suara ketika masuk bilik suara, maka hal ini tentu saja menjadi masalah tersendiri bukan hanya bagi pemilih pemula tetapi juga bagi pemilih lama yang lanjut usia.

Untuk wilayah pemilihan Kabupaten Flores Timur, 430 Calon Legislatif dari 16 partai politik telah mendaftarkan diri. Tidak semua parpol di Flores Timur mendaftarkan calegnya untuk semua Daerah Pemilihan yang ada. Jika semua parpol mendaftarkan calegnya secara lengkap maka jumlah calon anggota legislatif Kabupaten Flores Timur adalah 480 orang. Sebagian besar opini masyarakat mengatakan bahwa Pemilihan Legislatif tingkat Kabupaten untuk memperebutkan 30 kursi DPRD adalah pemilihan yang paling berat bila dibandingkan dengan pemilihan presiden dan pileg pada tingkatan lainnya. Ada banyak faktor primordial yang mempengaruhi pilihan warga, entah karena faktor agama, ikatan kekeluargaan, sosio budaya, dll. Latar belakang primordial semacam ini tentu mempengaruhi mutu sebuah pilihan. Orang tidak lagi memilih karena kualitas calon dan visi dan misinya tetapi karena faktor primordial.

Monday, November 30, 2015

MEREFLEKSIKAN RENTETAN PERISTIWA DUKACITA DI LEWOLOBA

Nick Doren - Lewoloba
Suasana di Pemakaman Umum Lewoloba
Tahun 2015 menjadi tahun yang sangat memilukan hati. Banyak peristiwa kedukaan terjadi di Desa Lewoloba. Tidak kurang dari 8 (delapan) orang telah meninggal dunia. Beberapa catatan kematian yang dapat disebutkan di sini, antara lain : 
1. 10 April 2015 : Alm. Bpk. Paulus Katan Hurint.
2. 28 Agst 2015 : Alm. Bpk. Petrus Bala Hurint.
3. - - Agst. 2015: Alm. Sdri. Philomena Doren.
4. 20 Spt 2015 : Alm. Bpk.  Karolus Kia Koten.
5. 14 Okt 2015 : Alm. Bpk. Yosep Peku Doren.
6. 23 Okt. 2015: Alm. Bpk. Petrus Enga Kelen.
7. 04 Nov. 2015: Alm. Bpk. Bernardus Berkama Nuhan.
8. 26 Nov. 2015: Alm. Ibu Lusia Maran / Sia Bato


Ketika air mata dukacita sebuah keluarga belum "kering", peristiwa dukacita kembali mendatangi keluarga lain. Masyarakat Desa pun harus bahu membahu meringakan beban hidup keluarga-keluarga yang kehilangan orang kekasih mereka. 

Dari sudut pandang iman, peristiwa dukacita adalah peralihan manusia dari dunia yang fana ini kepada dunia yang kekal, di mana arwah orang yang meninggal akan bersatu dengan Sang Penciptanya. Di sana lah mereka akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Iman Katolik menegaskan bahwa kematian tidak hanya dipandang sebagai peristiwa sedih semata, tetapi juga harus dilihat sebagai peristiwa sukacita penuh kemuliaan karena kematian merupakan pintu gerbang menuju sorga. Dalam rangka memohon kemurahan hati Tuhan untuk sementara menghentikan dukacita ke atas manusia, diadakanlah Rosario Pembebasan di Gereja Stasi Hati Amat Kudus Tuhan Yesus Lewoloba. Sejauh ini, umat terlihat sangat antusias mengikuti acara keagamaan ini.

Apabila ditilik dari sudut pandang sosial kemasyarakatan, kematian yang bertubi-tubi menimbulkan keresahan sosial. Ada ketidakberesan di tengah masyarakat yang patut diduga sebagai penyebab utama kematian, entah karena lingkungan yang tidak sehat atau ada ketidakberesan dalam adat Lewotanah. Di tengah masyarakat yang nilai kegotongroyongannya masih kuat melekat, orang per orangan akan meninggalkan segala aktivitas dan kesibukannya demi membantu keluarga yang dilanda peristiwa dukacita. Banyak pekerjaan yang harus ditinggalkan sehingga pada gilirannya akan berdampak pada persoalan ekonomi masyarakat.

Bagi masyarakat yang kuat memegang adat Lewotanah, kematian berkaitan erat dengan ke-alpa-an masyarakat dalam memperhatikan persembahan untuk leluhur Lewotanah. Biasanya setiap tahun diadakan "Soro Nein" (persembahan) kepada leluhur Lewotanah pada tempat-tempat yang dianggap keramat. Apabila kewajiban ini dilalaikan, maka akan terjadi bencana dan kutukan dari Lewotanah yang menyebabkan Lewo menjadi "panas" (Pelate Putuk). Untuk itu pada 12 November lalu, sejumlah tokoh adat dan pemuda Lewoloba naik ke Ile Mandiri untuk mempersembahkan kurban persembahan bagi Leluhur Lewotanah.
Nick Doren - Lewoloba
Seremoni Adat Lewoloba di Pemakaman Lia Nurat di Puncak Gunung Ile Mandiri

Semoga kita tetap saling menguatkan dalam iman, pengharapan dan kasih agar kematian tidak menjadi momok yang menakutkan, tetapi dipandang sebagai sebuah peristiwa manusiawi yang mampu menampakkan kemuliaan Tuhan.





Tuesday, October 27, 2015

Selamat Menempuh Hidup Berkeluarga, Rusly & Carline

 "BERSUKACITALAH DALAM PENGHARAPAN, SABARLAH DALAM KESESAKAN 
DAN BERTEKUNLAH DALAM DOA"
( ROMA, 12 : 12 ) 
 
Nick Doren - Lewoloba
Rusly & Carline
 
Jumat, 23 Oktober 2015 menjadi moment bersejarah bagi keluarga Bpk. Yohanes Lewa Doren dan Ibu Maria Nogo Ritan. Di hari penuh rahmat ini, anak perempuan mereka, Yuliana Carolina Djawa Doren, akhirnya memberanikan diri untuk mengikrarkan janji suci perkawinan dengan suaminya, Theophillus Rusly di hadapan tiga imam dan segenap umat yang hadir. Ada berbagai rasa yang muncul manakala menyaksikan moment membahagiakan ini. Yang pasti, rasa haru bercampur bahagia menyeruak dari dalam diri dan mewujud dalam deraian air mata yang tak terbendung. Anak gadis yang kekasih itu kini  harus "dilepaskan" untuk menentukan sendiri keputusan-keputusan besar bagi hidupnya.
Sejak  Kamis, 22 Oktober 2015, keluarga Doren Lewoloba sudah berada di Dusun Woloara, Desa Ribang, Wairpelit, Sikka. Keluarga Doren tidak menghadirkan seluruh keluarga besarnya. Faktor jarak dan beberapa faktor lain menjadi pertimbangan keluarga untuk tidak melibatkan anggota keluarga dalam jumlah yang besar. Perkiraan keluarga yang hadir adalah sekitar 20 orang. Kehadiran ini menjadi bentuk dukungan langsung keluarga atas pernikahan suci yang dilangsungkan.
Misa Pemberkatan nikah berlangsung di Gereja Wairpelit pada Pkl. 09.00 Wita, dipimpin oleh tiga orang imam. Misa berlangsung khusyuk diiringi oleh koor yang semarak. Pada kesempatan ini juga, Pastor Selebran utama menyerahkan titipan berkat apostolik dari Sri Paus Fransiskus untuk pasangan Rusly dan Carline.
Perbedaan budaya seringkali menjadi masalah dalam sebuah hubungan. Pernikahan Rusly dan Carline sekaligus juga merupakan perkawinan dua budaya, Budaya Lamaholot Flores Timur dan Budaya Sikka. Berhadapan dengan situasi ini, komunikasi adalah kunci keberhasilan sebuah hubungan. Carline sendiri sudah selama dua tahun belakangan ini telah berada di Kab. Sikka, sejak bekerja di Puskesmas Nita pada tahun 2013. Semoga keluarga baru ini dapat menjadi contoh berhasilnya perpaduan dua budaya yang berbeda. 
Selamat Menempuh Hidup Baru, 
RUSLY & CARLINE

Monday, July 27, 2015

Musyawarah Kerja BPD dan Pemdes Lewoloba


Pada hari Jumat, 24 Juli 2015, Badan Permusyawaratan Desa Lewoloba mengadakan Musyawarah Kerja bersama Pemerintah Desa Lewoloba. Musyawarah ini diadakan di Balai Desa Lewoloba dan dipimpin oleh Ketua BPD Lewoloba, Bpk. Matheus Belang. Adapun pihak Pemerintah Desa yang menghadiri Musyawarah ini antara lain, Kepala Desa, Sekretaris Desa, Perangkat Desa, Kepala Dusun dan Ketua RT.
Ada dua agenda besar yang dibahas dalam musyawarah ini, antara lain:
1. Pemaparan Pandangan Umum BPD Lewoloba terhadap Ranperdes tentang Pembentukan Karang Taruna; dan
2. Permintaan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Tahun 2014, dari Kepala Desa Lewoloba.
Agenda 1 antara lain menjabarkan lebih lanjut pandangan dan koreksi BPD teradap draft Ranperdes Pembentukan Karang Taruna dalam 12 point.
Sedangkan agenda 2 ditunda karena Pemerintah Desa belum merampungkan laporan pertanggungjawaban yg menjadi kewajibannya.
Pada kesempatan ini BPD Lewoloba menyampaikan kekecewaan atas isu yang  berkembang di tengah masyarakat bahwa BPD sedang berupaya utk memecat Kepala Desa. Hal ini patut disayangkan mengingat BPD tidak berwenag mengangkayt dan memberhentikan Kepala Desa. Yg benar adalah BPD mengawasi jalannya pemerintahan yg menjadi kewenangan Kepala Desa. Apabila kewajiban itu dikesampingkan maka langkah tegas sesuai peraturan yg berlaku dapat diambil BPD sbg pertimbangan bagi Bupati utk mengambil keputusan
Pemberhentian Sementara dan Pemberhentian..

Saturday, June 13, 2015

Umat Katolik Lewoloba Rayakan Pesta Pelindung Stasi

Suasana Perarakan Sakramen Mahakdus di Armida KBG II & III Stasi Lewoloba



12 Juni adalah hari yang istimewa bagi umat Katolik Stasi Lewoloba. Bertepatan dengan Pesta Hati Kudus Yesus (Sacred Heart of Jesus) yang diperingati Gereja se-dunia, Umat Stasi Lewoloba merayakan Pesta Pelindung Stasinya, Hati Amat Kudus Tuhan Yesus. Seperti biasa, sehari sebelumnya atau pada pagi hari di hari pesta tersebut, seluruh umat berbondong-bondong mengerjakan armida / tempat persinggahan untuk pentakhtaan Sakramen Mahakudus. Selain armida, umat membuat turo / tempat lilin di sepanjang jalur prosesi.
Untuk tahun 2015, umat membuat 4 armida. Armida pertama dikerjakan oleh KBG 1, 2 dan 3; Armida kedua dikerjakan oleh KBG 4, 5 dan 6; Armida ketiga dikerjakan KBG 7, 8 dan 9; dan Armida keempat dikerjakan KBG 10, 11 dan 12. Bentuk dan gaya bangun armida disesuaikan dengan kreativitas umat setiap KBG dengan memperhatikan nuansa penghormatan terhadap Sakramen Mahakudus.
Pada sore harinya, diadakan perayaan ekaristi dan diikuti dengan perarakan keliling stasi. Misa kali ini dipimpin oleh Pastor Paroki Riangkemie, Rm. John Lein, Pr, didampingi P. Eddy Doren, SVD. Adapun rute perarakan antara lain: keluar gereja belok kanan menuju jalan lingkar luar sebelah Timur, jalan lingkar luar sebelah Utara, dan masuk ke jalan lingkar luar sebelah Barat di depan Balai Desa Lewoloba, lalu masuk lagi ke gereja.
Umat tampak sangat antusias mengikuti prosesi Sakramen Mahakudus untuk memperingati Pesta Hati Kudus Yesus. Umat berharap semoga Hati Yesus Yang Amat Kudus dapat hadir di tengah-tengah hati setiap umat dan memberikan kekuatan kepada mereka untuk mengupayakan damai di dalam hatinya.





Tuesday, May 26, 2015

Bandar Udara Gewayan Tanah, Ikon Kec. Ile Mandiri

Nick Doren - Lewoloba
Bandar Udara Gewayan Tanah - Watowiti

Berbicara tentang Kec. Ile Mandiri, maka hal yang paling mudah diingat adalah Bandar Udara Gewayan Tanah. Bandara ini terletak di Desa Tiwatobi tepatnya di Watowiti, Kec. Ile Mandiri, Kab. Flores Timur. Bandara ini melayani penerbangan domestik antarpulau, Larantuka (Flores)-Kupang (Timor) dengan volume penerbangan setiap hari hanya pada pagi hari. Khusus pada hari Kamis, terdapat penerbangan sore hari menuju Kupang. Rata-rata jenis pesawat yang menyinggahi Bandara ini adalah Pesawat Fokker.
Kehadiran Bandara Gewayan Tanah di Desa Tiwatobi memberi dampak positif kepada masyarakat di sekitar, khususnya peningkatan kesejahteraan ekonomi warga. Banyak warga sekitar yang berjualan di luar area Bandara dan ada pula yang dipekerjakan sebagai karyawan Bandara.
Kendatipun demikian, persoalan pelik terkait pembebasan lahan untuk perluasan Bandara masih belum dapat ditemukan solusinya. Pemerintah terkesan lamban dalam memberikan ganti rugi yang sepadan.

Monday, April 27, 2015

Relasi Suku-Suku Lamaholot Lewoloba Dalam Pola Relasi Opu dan Belake

Prosesi Adat Dalam Sebuah Ritual Perkawinan di Lewoloba

Lewoloba, ND.

Dalam kehidupan masyarakat adat Lamaholot, relasi Opu dan Belake adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Opu adalah sapaan untuk seseorang/sekelompok orang dalam ikatan suku yang telah menikahi anak perempuan belake. Belake adalah sapaan untuk seseorang/sekelompok orang dalam ikatan suku yang anak perempuannya dinikahi oleh Opu. Dalam urusan adat perkawinan, sebagai imbalan karena telah menikahi anak gadis Belake, maka Opu akan memberikan mas kawin / belis berupa gading atau bentuk lain yang disepakati oleh kedua belah pihak. Sebagai bahan iringan, Opu biasanya membawa serta kambing, ayam, dan tebu. Dan sebagai balasan, belake biasanya memberikan sarung adat, entah berupa lipa atau kewatek, dan ikan (asin/kering) kepada Opunya.

Thursday, April 16, 2015

Memaknai Kebersamaan Dalam Suku Lewo Doren, Lewo Nuhan dan Kajo Tale

Keluarga Besar Doren dan Nuhan Sedang Menghantar Bagian Bersama


Lewoloba-ND

Dalam setiap hajatan adat di Desa Lewoloba, entah perkawinan, kematian, dsb., Suku Lewo Doren selalu ada dalam kebersamaan dengan Suku Lewo Nuhan. Dalam catatan sejarah, kebersamaan antara Lewo Doren dan Lewo Nuhan sudah terjalin sejak pendirian Kampung Suban Tupi Wato  Dowo Deka Homo. Ketika itu Lewo Doren hadir dengan membawa Lewo (Kampung); hadir dalam kapasitas penuh dan utuh. Begitu pula dengan Lewo Nuhan, hadir dengan membawa Lewo-nya. Ada kesepakatan antara kedua suku bahwa mereka adalah "Kaka Arin" (bersaudara), mereka adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dalam ikhwal perkawinan, anak lelaki Lewo Doren tidak bisa menikahi anak gadis dari Lewo Nuhan, begitu pula sebaliknya. Dan Pihak yang dipandang sebagai Belake (Pihak yang anak perempuan mereka dinikahi) atau sebagai Opu (Pihak yang menikahi anak perempuan kita) oleh Lewo Doren juga dipandang serupa oleh Lewo Nuhan.

Saturday, February 7, 2015

Mari Berwisata ke Baun Botin

Nick Doren Lewoloba
Suasana Pantai di Baun Botin, Desa Halakodanuan, Kec. Ile Mandiri, Kab. Flores Timur

Jika saat ini anda berada di Kota Larantuka, maka Pantai Baun Botin dapat menjadi alternatif tempat wisata yang dapat Anda kunjungi. Pantai Baun Botin adalah pantai berpasir putih yang terletak di Desa Halakodanuan, Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur. Nama Baun Botin berarti berkumpul untuk saling berbagi kisah dan cerita bersama. Sesungguhnya nama resort ini sudah terkenal sejak tahun 2000-an awal. Ketika itu, Baun Botin menjadi primadona wisata pantai yang menjadi pilihan favorit warga. Sudah pasti, pantai ini akan disesaki wiasatawan lokal jika saat liburan tiba. Kurangnya promosi menyebabkan pamor resort wisata ini menjadi redup. Secara efektif untuk saat ini Pantai Baun Botin menjadi pilihan wisata untuk masyarakat Desa Watotutu dan Desa Halakodanuan. Biasanya masyarakat setempat memanfaatkan pantai ini untuk bersukacita di Hari Raya Natal dan Hari Raya Paskah.

Jika memasuki area Pantai ini, Anda akan berhadapan langsung dengan Pantai dengan pasir berwarna cokelat keemasan. Lautnya tenang dan kaya ikan. Terdapat sejumlah gazebo / tempat nongkrong untuk sekedar berbagi cerita dan bersukacita. Aliran listrik di wilayah ini 24 jam full time. Jika ada gangguan listrik, sudah tersedia generator listrik cadangan milik pengelola, yaitu kelompok usaha bersama Halakodanuan. 

Untuk mencapai pantai Baun Botin, Anda harus menempuh perjalanan 45 menit dari Kota Larantuka dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Sejauh ini tidak ada biaya yang pasti untuk menikmati wisata pantai ini. Biasanya pengelola menerima berapa pun uang yang Anda berikan kepada mereka. Setidaknya harga promo berlaku setiap hari.