Showing posts with label lamaholot. Show all posts
Showing posts with label lamaholot. Show all posts

Thursday, April 22, 2021

Semoga Lekas Pulih, Adonara !!


Tanggal 04 April 2021 merupakan hari bersejarah bagi penduduk Pulau Adonara. Ketika itu, sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur merupakan pusat dari sebuah badai yang kemudian dinamakan sebagai Siklon Seroja. Hal ini sudah diramalkan sebelumnya oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dari pantauan satelit cuaca. Diramalkan bahwa Siklon Seroja akan memuncak pada tanggal 4 s.d. 5 April 2021. Beberapa hari sebelumnya, langit tampak gelap. Bibit angin dan hujan mulai terbentuk. Hingga akhirnya pada tanggal 3 hingga 4 April 2021, setelah hujan lebat selama berjam-jam, terjadilah banjir bandang pada beberapa titik lokasi di Pulau Adonara. Lokasi dengan dampak terparah berada di Kelurahan Waiwerang Kota dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur, Desa Nelelamadiken di Kecamatan Ile Boleng dan Desa Oyan Barang di Kecamatan Wotan Ulu Mado. Berdasarkan data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Flores Timur pada tanggal 12 April 2021, sebagai berikut :
  1. Meninggal Dunia : 72 orang (Adonara Timur 14 orang, Ile Boleng 55 orang, Wotan Ulu Mado 3 orang)
  2. Hilang : 2 orang (Ile Boleng  1 orang, Wotan Ulu Mado 1 orang)
  3. Luka-luka : 73 orang (Adonara Timur 28 orang, Ile Boleng 40 orang, Wotan Ulu Mado 5 orang)
  4. Pengungsi : 1822 orang
Selain itu, banjir bandang Adonara berdampak kepada 9.035 Kepala Keluarga (sekitar 27.000 jiwa), 235 rumah hilang / rusak. 

Friday, March 13, 2020

MENCERMATI KASUS PENURUNAN STANDAR BIAYA HONORARIUM TENAGA PENDUKUNG TEKNIS PERKANTORAN RSUD DR. HENDRIKUS FERNANDEZ LARANTUKA DARI PERSPEKTIF HUKUM

Nick Doren Lewoloba
Sejumlah Tenaga Kesehatan RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka Ketika Memperjuangkan Nasibnya



1.1. Latar Belakang Peristiwa
                        Pada tanggal 03 Maret Tahun 2020, publik Flores Timur dihebohkan dengan aksi 70-an Tenaga Kesehatan RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka yang mogok kerja demi memperjuangkan besaran honorariumnya yang akan diturunkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur. Mereka dengan tegas menolak rencana Pemerintah Daerah untuk menurunkan besaran honorariumnya dari Rp. 1.800.000,00 (untuk tenaga kesehatan berijazah S1/sederajat) dan Rp.1.600.000,00 (untuk tenaga kesehatan berijazah D-III) ke Rp. 1.150.000,00 (Tenaga Pendukung Teknis Perkantoran). Mereka kemudian mendatangi gedung DPRD Kabupaten Flores Timur untuk menyampaikan aspirasi mereka.
                        Pada tanggal 04 Maret 2020, Komisi C DPRD Kabupaten Flores Timur menggelar rapat kerja dengan Pihak terkait dari unsur Pemerintah Daerah bersama tenaga kesehatan RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka. DPRD Kabupaten Flores Timur berdiri sebagai Pihak yang memperjuangkan nasib tenaga kesehatan tersebut agar honorariumnya tidak diturunkan. Mereka berharap agar Pemerintah Daerah tetap berpegang pada Kontrak yang telah disepakati bersama pada tanggal 25 Januari 2020 (antara Direktur RSUD dan Tenaga Kesehatan), Permenkes Nomor 1199/MENKES/PER/X/2004 tentang Pedoman Pengadaan Tenaga Kesehatan dengan Perjanjian Kerja di Sarana Kesehatan Milik Pemerintah,  Perda APBD Kabupaten Flores Timur Tahun 2020 dan Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 25 Tahun 2019 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2020 (ditetapkan tanggal 20 Juni 2019).

Tuesday, September 5, 2017

Bupati Flores Timur Mencanangkan Pengenaan Tenun Ikat Lamaholot Bagi ASN Kabupaten Flores Timur


Nick Doren - Lewoloba
ASN BKPP Kab. Flores Timur Mengenakan Kwatek dan Nowing Lamaholot Flores Timur
Suasana berbeda tampak jelas di halaman depan kantor Bupati Flores Timur pada Senin, 5 September 2017. Semua ASN dan tenaga honorer lingkup Pemerintah Kabupaten Flores Timur mengenakan busana adat Lamaholot, nowing / senai (sarung untuk pria) dan kewatek (sarung untuk wanita) pada apel kekuatan lingkup Pemerintah Kabupaten Flores Timur yang dipimpin langsung oleh Bupati Flores Timur, Antonius H. Gege Hadjon, ST. Pengenaan busana adat ini merupakan implementasi dari Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 49 Tahun 2017 tentang Pakaian Dinas Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan Instruksi Bupati Flores Timur Nomor HK.188.5.5/1/2017 tentang Pelaksanaan Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 49 Tahun 2017 tentang Pakaian Dinas Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Flores Timur. Dalam Perbup dan peraturan turunannya ada hal baru yang belum diatur sebelumnya, yaitu mengenai pemakaian busana adat Lamaholot Flores Timur, nowing / senai dan kewatek, pada setiap senin pertama dalam bulan. 

Dalam sambutannya, Bupati Flores Timur mengapresiasi ASN yang mengenakan pakaian adat Lamaholot. Bupati pun mengajak semua ASN untuk mencintai adat / budaya Lamaholot dan membeli produk ikat tenun yang dihasilkan oleh masyarakat Flores Timur. ASN hendaknya menjadi pelopor dalam hal mencintai produk lokal Lamaholot melalui pengenaan nowing/senai dan kewatek secara rutin. Diharapkan melalui pencanangan pengenaan pakaian adat Lamaholot dapat meningkatkan rasa cinta masyarakat terhadap produk lokal, menumbuhkan kesadaran di tengah orang-orang muda Flores Timur untuk terlibat aktif dalam upaya melestarikan adat dan budaya Lamaholot.

Wednesday, February 24, 2016

Sosialisasi Ranperdes Lembaga Adat

Sosialisasi Ranperdes Lembaga Adat di Dusun III Desa Lewoloba

Lewoloba - CLND
Salah satu unsur yang kuat melekat pada Desa adalah adat. Adat merupakan sistem hukum tradisional yang memuat nilai-nilai luhur masyarakat setempat yang diwariskan secara turun temurun. Adat memuat nilai, norma, tradisi dan seni budaya yang diwariskan secara kontinyu. Adat telah lahir jauh sebelum negara administratif terbentuk, sehingga pengakuan dan perlindungan negara terhadap Adat - sejauh adat tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku - adalah mutlak dan wajib dilaksanakan.


Desa Lewoloba, sebagai bagian dari komunitas adat nasional, juga memiliki nilai, norma, tradisi dan seni budaya yang terbingkai dalam sistem adatnya. Sebagai upaya untuk melindungi dan melestarikan adat, pada tahun 2015 lalu Badan Permusyawaratan Desa Lewoloba menggodok dan menyusun draft Ranperdes tentang Lembaga Adat. Ranperdes ini diusulkan ke Pemerintah Desa pada Januari 2016.

Pada Jumat, 19 Februari 2016, Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa Lewoloba melaksanakan sosialisasi Rancangan Peraturan Desa Tentang Lembaga Adat pada setiap Dusun (4 Dusun). Dari hasil sosialisasi tersebut, masyarakat sangat mengapresiasi terbentuknya Lembaga Adat sebagai lembaga yang berhak dan berwenang mengatur, mengurus dan menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan yang berkaitan dengan adat istiadat dan hukum adat Desa Lewoloba. Lembaga Adat yang diberi nama Lembaga Pemangku Adat Desa Lewoloba ini diharapkan dapat memaikan tugas dan fungsinya secara maksimal demi lestarinya adat dan budaya Desa Lewoloba.

Tuesday, October 27, 2015

Selamat Menempuh Hidup Berkeluarga, Rusly & Carline

 "BERSUKACITALAH DALAM PENGHARAPAN, SABARLAH DALAM KESESAKAN 
DAN BERTEKUNLAH DALAM DOA"
( ROMA, 12 : 12 ) 
 
Nick Doren - Lewoloba
Rusly & Carline
 
Jumat, 23 Oktober 2015 menjadi moment bersejarah bagi keluarga Bpk. Yohanes Lewa Doren dan Ibu Maria Nogo Ritan. Di hari penuh rahmat ini, anak perempuan mereka, Yuliana Carolina Djawa Doren, akhirnya memberanikan diri untuk mengikrarkan janji suci perkawinan dengan suaminya, Theophillus Rusly di hadapan tiga imam dan segenap umat yang hadir. Ada berbagai rasa yang muncul manakala menyaksikan moment membahagiakan ini. Yang pasti, rasa haru bercampur bahagia menyeruak dari dalam diri dan mewujud dalam deraian air mata yang tak terbendung. Anak gadis yang kekasih itu kini  harus "dilepaskan" untuk menentukan sendiri keputusan-keputusan besar bagi hidupnya.
Sejak  Kamis, 22 Oktober 2015, keluarga Doren Lewoloba sudah berada di Dusun Woloara, Desa Ribang, Wairpelit, Sikka. Keluarga Doren tidak menghadirkan seluruh keluarga besarnya. Faktor jarak dan beberapa faktor lain menjadi pertimbangan keluarga untuk tidak melibatkan anggota keluarga dalam jumlah yang besar. Perkiraan keluarga yang hadir adalah sekitar 20 orang. Kehadiran ini menjadi bentuk dukungan langsung keluarga atas pernikahan suci yang dilangsungkan.
Misa Pemberkatan nikah berlangsung di Gereja Wairpelit pada Pkl. 09.00 Wita, dipimpin oleh tiga orang imam. Misa berlangsung khusyuk diiringi oleh koor yang semarak. Pada kesempatan ini juga, Pastor Selebran utama menyerahkan titipan berkat apostolik dari Sri Paus Fransiskus untuk pasangan Rusly dan Carline.
Perbedaan budaya seringkali menjadi masalah dalam sebuah hubungan. Pernikahan Rusly dan Carline sekaligus juga merupakan perkawinan dua budaya, Budaya Lamaholot Flores Timur dan Budaya Sikka. Berhadapan dengan situasi ini, komunikasi adalah kunci keberhasilan sebuah hubungan. Carline sendiri sudah selama dua tahun belakangan ini telah berada di Kab. Sikka, sejak bekerja di Puskesmas Nita pada tahun 2013. Semoga keluarga baru ini dapat menjadi contoh berhasilnya perpaduan dua budaya yang berbeda. 
Selamat Menempuh Hidup Baru, 
RUSLY & CARLINE

Saturday, February 7, 2015

Persiapan Menyambut Dana Desa 2015

Nick Doren Lewoloba

Berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, setiap desa akan mendapatkan Dana Desa yang diperkirakan mencapai 1 miliar per desa. Ketentuan ini tentu saja menjadi kabar gembira bagi setiap desa. Wajah setiap desa akan berubah dengan adanya Dana Desa yang masuk ke desa. Tidak hanya itu setiap desa pun akan mendapatkan Alokasi Dana Desa (ADD), Dana Alokasi Umum ( DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK).

Besarnya dana desa yang masuk ke desa tidak serta merta membuat desa larut dalam kegembiraan. Desa wajib memenuhi beberapa persyaratan administratif yang disyaratkan oleh undang-undang, yaitu harus memiliki RPJMDes, RKPDes, dan APBDes. Ketiga dokumen ini adalah dokumen vital karena apabila tidak disiapkan maka dana yang besar tersebut tidak dapat masuk ke desa. 

Dalam rangka mendorong pemerintah desa untuk menyiapkan dokumen-dokumen tersebut maka BPMD selaku badan pemerintah yang mengurusi desa akan mengambil sikap tegas berupa penahanan tunjangan Kepala Desa dan Perangkat Desa jika Pemerintah Desa mengabaikan dokumen-dokumen vital tersebut. 

Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Bapeda Kabupaten Flores Timur, Dana Desa akan dicairkan dalam tiga tahap, yaitu Tahap I pada Bulan April (40%), Tahap II Bulan Agustus (40%), dan Bulan November (20%). 60% dana akan dipergunakan bagi belanja rutin pemerintah, dan 40% dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur dalam desa.
Sektor-sektor dalam desa yang akan mendapatkan alokasi Dana Desa harus dibuatkan dasar hukumnya, antara lain berbentuk Peraturan Desa. Dengan demikian menjadi jelaslah sasaran penggunaan dana tersebut.

Tuesday, September 30, 2014

Exotic Lewoloba, Take a Look at This

You might never hear about #Lewoloba. But you should know that Kings and Queens of the Kingdom of Larantuka  was born from a Lewolobanese womb, Wato Wele. 

Wato Wele is the only sister of Lia Nurat, the first man who  ever lived in Mandiri Mountain ( Ile Mandiri). Once upon a time, Lia Nurat ask Wato Wele to move to eastern part of the mountain. He afraid he could marry his own sister if they still stayed together. As result, Wato Wele met and married Pati Golo Arakyan. One of their children later become a King of Larantuka.

Monday, September 29, 2014

DOB Adonara Tinggal Mimpi?

Nick Doren Lewoloba

Gegap gempita dan sorak sorai masyarakat Tadon Adonara begitu membahana ketika cita-cita menjadikan Adonara sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB) kian mendekati kenyataan. Semuanya bermula dengan wacana penetapan 65 DOB pada Bulan Juli lalu. Ketika itu pemerintah mengusulkan 65 DOB kepada DPR RI untuk ditetapkan menjadi Propinsi / Kabupaten / Kota yang baru pada Sidang Paripurna DPR RI beberapa hari silam. Dari 65 DOB, Pemerintah lantas menyempitkan jumlahnya menjadi hanya 21 DOB. 

Padatnya jadwal Sidang Paripurna DPR RI turut berpengaruh pada jadwal penetapan DOB. Semula, penetapan DOB ditetapkan pada tanggal 24 September 2014, lalu bergeser ke tanggal 25 September, dan terakhir bergeser ke tanggal 29 September. Keyakinan akan kepastian jadwal penetapan tersebut lantas mendorong pemerintah Kabupaten Flores Timur untuk mengutus 30 tokoh masyarakat ke Jakarta pada tanggal 19 September silam. Biaya transportasi dan akomodasi ke-30 TOMAS tersebut diambil dari kas daerah. Tidak berhenti sampai di situ, pada hari Senin 22 September 2014, 30 anggota DPRD Flotim, para camat se-Kabupaten Flotim, bagian pemerintahan Kab. Flotim dan sejumlah awak media diutus untuk menghadiri Sidang Paripurna DPR RI untuk mendengarkan hasil akhir keputusan Sidang yang terhormat tersebut. Dasyatnya, hingga hari ini (tgl. 29 September 2014), Adonara tak kunjung ditetapkan sebagai Kabupaten.

Harus diakui bahwa yang berwenang untuk menetapkan RUU DOB menjadi UU adalah DPR RI. Kendati demikian, media-media lokal telah banyak meyakinkan masyarakat bahwa Adonara akan benar-benar menjadi Kabupaten yang terpisah dari Flores Timur. Media lokal, termasuk juga para netizen, telah terlanjur mengambil peran yang besar dalam sebuah "kebohongan publik" terhadap masyarakat di kampung-kampung Adonara, bahwa Adonara sungguh-sungguh akan menjadi Kabupaten. Masyarakat yang tidak memiliki akses informasi yang baik, lantas mempersiapkan sejumlah acara penyambutan Kabupaten Baru. Di Waiwerang, beberapa spanduk berisi "selamat Kabupaten Adonara" telah terpasang di sejumlah sudut kota. Pemilik POM bensin Waiwerang menggratiskan bahan bakar kendaraan bermotor selama satu hari untuk pawai keliling Kec. Adonara Timur. Tidak hanya itu, untuk perayaan ini, pada tanggal 25 September 2014, masing-,masing desa di Adonara diharapkan menyumbangkan dua ekor ayam untuk acara syukuran. 

Gegap gempita ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Adonara di Pulau Adonara saja, tetapi juga masyarakat Adonara di beberapa tempat lain, termasuk di Jakarta. Masyarakat Adonara Jakarta telah mempersiapkan acara syukuran di Lantai 5 Univ. Atmajaya Jakarta pada hari ini. Sejumlah SMS beredar agar warga Adonara dapat berpartisipasi dalam acara dimaksud.

Namun semuanya kini tampak diam membisu ketika sampai dengan saat ini Adonara belum juga ditetapkan menjadi Kabupaten. Sejenak kita bertanya, di manakah Anggota DPR RI asal NTT yang "katanya" turut berjuang secara maksimal untuk meng-kabupaten-kan Adonara? Sejumlah pihak bahkan telah menyebutkan bahwa Anggota DPR RI asal NTT tertentu telah mendapatkan bocoran bahwa Adonara telah pasti menjadi Kabupaten. Tinggal tunggu tanggal penetapannya. Dan rasa-rasanya masa "tunggu" itu harus diperpanjang entah sampai kapan. Jika bukan sekarang, dapat dipastikan bahwa cita-cita Adonara menjadi Kabupaten akan menghadapi banyak tantangan, atau bahkan hanya tinggal mimpi yang tak pasti..

Saturday, September 13, 2014

Jangan Lewatkan Kunjunganmu ke Pulau Solor #FloresTimur

Nick Doren - Lewoloba
Pelabuhan Podor, Solor Selatan

Nun jauh di ujung  Pulau Flores bagian timur, terdapat sejumlah Pulau nan indah, yang menyimpan banyak pesona alam yang masih "Perawan". Pulau-pulau tersebut adalah P. Adonara, P. Solor, dan P. Lembata. Dan kisah petualangan berikut ini adalah sebuah kisah singkat yang tak lain merupakan ungkapan syukur penulis terhadap segala keindahan alam dan keramahan masyarakat di P. Solor.

Saat ini tak banyak orang menulis atau mengisahkan sesuatu tentang Solor. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan manakala begitu banyak wisatawan dalam dan luar negeri ingin berkunjung ke P. Solor, namun hanya ada sedikit informasi yang tersedia. Catatan keci ini pun tentu saja tidak bisa mencakup keseluruhan pesona indah P. Solor.

Nick Doren - Lewoloba
Jalan Menuju Kelelu
Semuanya bermula ketika keluarga dari Solor mengajak saya untuk mengahadiri sebuah acara Sambut Baru / Komuni Pertama di Desa Lamawalang alias Lamawohong pada tanggal 5 Sept. yang lalu. Tepat tanggal 4, saya dan beberapa anggota keluarga lain bertolak dari Pelabuhan Larantuka menuju Pelabuhan Podor di Solor Selatan. Ada banyak Kapal Motor penyeberangan yang hilir mudik di sekitar selat Solor. Dan pilihan kami jatuh pada KMP Barcelona untuk menghantarkan kami mengarungi lautan menuju P. Solor. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Dan tibalah kami di Pelabuhan Podor. Betapa kagetnya saya ketika melihat keadaan pelabuhan tersebut. Pelabuhan tersebut sangat kecil. Pelabuhan tersebut hanya dapat menampung tiga kapal motor penyeberangan. Dari Podor kami bergegas menuju Lamawohong di Solor Barat.

Nick Doren - Lewoloba
Jalan Menuju Lamawohong

Dasyat!! Sungguh dasyat,  perjalanan menuju Lamawohong sangat melelahkan. Mayoritas jalannya telah rusak dan berdebu sehingga sebaiknya kita mengenakan masker. Dari  Podor, kami menelusuri jalan di pantai selatan menuju ke Solor Barat. Pantai berpasir putih Kelike dan Lemanu sungguh memanjakan mata. Hamparan karang nan indah memehuni pantai di sepanjang perjalanan kami.

Nick Doren - Lewoloba
Suasana tenang di Pantai Lamawohong

Di persimpangan Kelelu - Ritaebang, perjalanan kami tampak mulus, karena jalanannya sudah beraspal dan jarang ditemukan jalan berlobang yang terdapat di sebagian besar daerah lain di Pulau Solor. Tiba di Kelelu, terdapat sebuah Pusat Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang memasok listrik untuk beberapa desa di sekitarnya. Menurut informasi yang disampaikan masyarakat, PLTS ini adalah hasil perjuangan Bpk. Pius Lusrilanang, salah satu anggota DPR RI yang membawahi bidang kelistrikan. Tiba di persimpangan Kelelu-Lamawohong, jalan kembali berdebu. Tetapi kondisi ini telah jauh lebih baik dari tahun lalu ketika saya mengunjungi keluarga di Lamawohong. Telah ada pengerasan jalan, dan pembukaan jalan baru dari Lamawohong menuju ke Lewo Tanah Ole sejauh 8 km.

Nick Doren - Lewoloba
Pantai Lamawohong

Dan tibalah kami di desa tujuan, Desa Lamawalang atau akrab disapa dengan Lamawohong. Baru duduk kurang dari 15 menit di rumah Bpk. Martinus Gelega Werang, kami telah disuguhkan satu teko tuak putih untuk menghangatkan badan dan tambo ayam kampung. Kami bersenda gurau menceritakan perjalanan jauh dan melelahkan. Tetapi keramahtamahan warga desa seakan menepis kelelahan tersebut. Untuk diketahui, hampir setiap rumah di Desa Lamawalang, Lamawohong memiliki rumah produksi arak lokal. Hal ini membuat Lamawohong mendapatkan julukan sebagai "dealer tuak / arak". Mayoritas masyarakat di sini bekerja sebagai petani dan nelayan.

Nick Doren - Lewoloba
PLTS Kelelu

Ketika tiba giliran melihat keindahan Pantai Lamawohong, kami merasa takjub akan keindahan pantainya. Konon, lima tahun yang lalu pantai ini jauh lebih indah dari keadannnya saat ini. Dari Pantai Lamawohong, kita dapat melihat lautan lepas ke arah Laut Sawu. Lautnya yang tenang menjadikannya sebagai daerah dengan banyak jenis ikan yang hidup di dalam lautnya. Sayang sekali, sejumlah nelayan dari Lamakera dan Menanga masih melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak. Tentu saja hal ini dapat menghancurkan terumbu karang, yang pada gilirannya akan turut menghancurkan juga biota laut yang ada.

Nick Doren - Lewoloba
PLTS Kelelu

Setelah melewatkan dua hari di Lamawohong, kami pun bergerak pulang ke Larantuka. Kami hendak menempuh jalur perjalanan yang berbeda dengan sebelumnya, yaitu melalui jalan trans Ritaebang - Pamakayo. Jalanannya jauh lebih baik, dengan sedikit jalan berlobang dan kurang berdebu. Durasi perjalanan pun singkat, hanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Setibanya di Pamakayo, kami langsung bergegas menuju ke pelabuhannya. Tak lupa sebelum naik kapal, kami berfoto ria dengan berlatarbelakang teluk Pamakayo yang indah.

Nick Doren - Lewoloba
Pelabuhan Pamakayo

Jika Anda tertarik mengunjungi Solor, datang, lihat, dan nikmatilah keindahannya.

Nick Doren - Lewoloba
Teluk Pamakayo

Wednesday, August 13, 2014

Pembukaan Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-69 Desa Lewoloba

Nick Doren


Pada hari Senin, 11 Agustus 2014, Desa Lewoloba telah membuka secara resmi rangkaian kegiatan Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-69 tingkat Desa Lewoloba. Acara pembukaan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Desa Lewoloba, Bpk. Frans Roy Hurint, di Lapangan Bola Kaki Desa Lewoloba.


Acara Pembukaan ini sempat mengalami penundaan dari jadwal sebelumnya karena ada peristiwa kedukaan di Lewotanah, yaitu meninggalnya Bpk. Karolus Keba Hurint. Acara dibuka dengan Apel Pembukaan dan dilanjutkan dengan Pertandingan Futzal Usia Dini antara Dusun I Vs Dusun III.

Kepala Desa Lewoloba menekankan pentingnya mengangkat budaya Lokal dan menjaga sportofitas dalam setiap perlombaan dan pertandingan yang diadakan. Keterlibatan warga sangat diharapkan mengingat hajatan Peringatan HUT Kemerdekaan merupakan hajatan Nasional.
posted from Bloggeroid

Thursday, October 17, 2013

Pemkab Flotim Sdh Penuhi Syarat Usulan DOB Adonara


LARANTUKA, FBC-Kepala Bagian Pemerintahan Sekda Flores Timur, Yakobus Arakian, mengatakan segala kelengkapan dan persyaratan untuk pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Adonara sudah terpenuhi sesuai dengan PP No.78 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah.
Pernyataan Yakobus Arakian ini menjawab pertanyaan FBC, di Larantuka, Jumat (4/10), terkait dengan kesiapan Pemkab Flores Timur dalam mendorong percepatan otonomi Adonara.
Dikatakan Arkian, demi terpenuhinya syarat-syarat sebagaimana ketentuan PP Nomor 78 Tahun 2007, Bupati Flores Timurtelah mengeluarkan 7 Keputusan Bupati, sementara DPRD Flores Timur mengeluarkan 6 keputusan. Selain itu Gubernur dan DPRD NTT juga sudah mengeluarkan keputusan terkait DOB Adonara.
Keputusan Bupati Flotim itu terdiri dari: 1) Nomor 135 Tahun 2010 tentang Persetujuan Nama Calon Kabupaten; 2) Nomor 112 Tahun 2010 tentang Persetujuan Pembentukan Kabupaten Adonara; 3) Nomor 114 Tahun 2010 tentang Lokasi Ibu Kota Calon Kabupaten Adonara; 4) Nomor 113 Tahun 2010 tentang Cakupan Wilayah Calon Kabupaten Adonara;
Bupati juga mengeluarkan keputusan terkait dengan dukungan dana, dan pengaturan asset daerah seperti keputusan Bupati Nomor 115 Tahun 2010 tentang Dukungan Dana Untuk Calon Kabupaten Adonara. Sebesar Rp. 50.000.000.000 (lima puluh miliar rupiah) untuk 2 (dua) tahun berturut-turut sejak diresmikan Adonara menjadi kabupaten. Dengan rincian Rp. 22.500.000.000,-/tahun untuk penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan, serta Rp. 2.500.000.000/tahun untuk biaya Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pertama. Keputusan Bupati Nomor 132 Tahun 2010 tentang Persetujuan Penyerahan Kekayaan Daerah yang Dikuasai; 7) Nomor 131 Tahun 2010 tentang Persetujuan Penyerahan Sarana dan Prasarana Perkantoran Kepada Calon Kabupaten Adonara,”jelasnya.
Sementara itu menurutnya, keputusan DPRD Flotim meliputi: 1) Nomor: 7.a/DPRD.KAB/FLT/2010 tentang Nama Calon Kabupaten Adonara; 2) Nomor 4/DPRD.KAB/FLT/2010 tentang Lokasi Ibu Kota Kabupaten Adonara; 3) Nomor 3/DPRD.KAB/FLT/2010 tentang Cakupan Wilayah Kabupaten Adonara; 4) Nomor 5/DPRD.KAB/FLT/2010 tentang Dukungan Dana Untuk Calon Kabupaten Adonara; 5) Nomor 7/DPRD.KAB/FLT/2010 tentang Persetujuan Penyerahan Kekayaan Daerah Yang Dimiliki atau Yang Dikuasai Kabupaten Adonara; 7) Nomor 6/DPRD.KAB/FLT/2010 tentang Persetujuan Penyerahan Sarana dan Prasarana Perkantoran Kepada Kabupaten Adonara.
“Selain dokumen kelengkapan diatas, juga disertakan Peta terbaru Kabupaten Flotim dan calon Kabupaten Adonara hasil kerjasama Pemda Flotim dengan Bakorsutanal tahun 2008 – 2009 dengan biaya sebesar Rp. 180.000.000,” jelasnya.
Dijelaskan Arkian , selain keputusan Bupati dan DPRD Flores Timur, Gubernur dan DPRD NTT masing-masing mengeluarkan 3 Keputusan, yaitu 1) Keputusan Gubernur NTT Nomor 278/KEP/HK/2010 tentang Persetujuan Pemberian Bantuan Dana Untuk Mendukung Penyelenggaraan Pemerintahan Calon Kabupaten Adonara Untuk Jangka Waktu Paling Kurang 2 (Dua) Tahun Berturut-turut Terhitung Sejak Peresmian Sebagai Kabupaten Adonara di Provinsi NTT. Yang menurut keputusan ini sebesar Rp. 3.000.000.000,- ( tiga miliar rupiah); 2) Keputusan Gubernur NTT Nomor 279/KEP/HK/2010 tentang Persetujuan Pemberian Dukungan Dana Dalam Rangka Membiayai Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah Untuk Pertama Kali Di Kabupaten Adonara Provinsi NTT. Sebesar Rp. 2.000.000.000,- (dua miliar rupiah); dan 3) Keputusan Gubernur NTT Nomor 280/KEP/HK/2010 tentang Persetujuan Nama Calon Kabupaten Adonara, Cakupan Wilayah Calon Kabupaten Adonara Dan Calon Ibu Kota Kabupaten Adonara di Provinsi NTT.
Sedangkan Keputusan-keputusan DPRD NTT yakni: 1) Nomor 8/DPRD/2010 tentang Persetujuan Nama Calon Kabupaten Adonara, Cakupan Wilayah Calon Kabupaten Adonara Dan Calon Ibu Kota Kabupaten Adonara di Provinsi NTT;m 2) Nomor 9/DPRD/2010 tentang Persetujuan Pemberian Bantuan Dana Untuk Mendukung Penyelenggaraan Pemerintahan Calon Kabupaten Adonara Untuk Jangka Waktu Paling Kurang 2 (Dua) Tahun Berturut-turut Terhitung Sejak Peresmian Sebagai Kabupaten Adonara di Provinsi NTT;m dan 3) Nomor 10/DPRD/2010 tentang Persetujuan Pemberian Dukungan Dana Dalam Rangka Membiayai Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pertama Kali Di Kabupaten Adonara Provinsi NTT.
Masih menurut Arakian, seluruh dokumen ini diserahkan oleh Pemkab Flores Timur pada tanggal 19 Agustus 2010, oleh Penjabat Bupati Flores Timur, Muhammad Wongso, Ketua DPRD Flotim, Marius Payong Paty, Kabag Pemerintahan, Ramli Lamanepa, Kasubag Pemerintahan Umum, Yakobus Arakian, dan beberapa anggota Panitia Persiapan Adonara Kabupaten (PPAK) kepada DPR RI, DPD RI, dan Kementerian Dalam Negeri pada hari yang bersamaan.
“Memang perjuangan Adonara Kabupaten sempat tertunda terkait dengan moratorium dari pemerintah. Tetapi bahwa lembaga perwakilan adalah lembaga politik dan memiliki hak inisiatif dalam mengajukan undang-undang. Karena itu, peluang ini yang dipakai,” terang Arakian.
Arakian menambahkan, pada tanggal 23 September 2013, bersama dengan Asisten I SEKDA Flotim, Abdur Rasak Jakra, Kasubag Pemerintahan Umum, Gabriel Oleona, dengan Staf ahli Komisi II DPR RI, telah membuat Draft Rancangan UU Kabupaten Adonara, di Jakarta. “Secara aturan, semua telah final. Sehingga jika tidak ada halangan yang berarti, rekomendasi dari DPD RI yang diserahkan kepada Komisi II DPR RI, segera dibahas,” jelasnya.
Dalam Waktu Dekat
Bupati Flotim, Yoseph Lagadoni Herin, melalui pesan singkatnya kepada FBC, Senin, (7/10), menyampaikan bahwa Paripurna DPD RI sudah menetapkan Adonara sebagai salah satu calon DOB yang akan dibentuk. Menurut Bupati Yosni, selepas Paripurna DPD RI (01/10), lanjut Lagadoni, bahwa dirinya dan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, berkesempatan bertemu dengan Ketua Panja Pemekaran DOB Non Papua Komisi II DPR RI, Arif Wibowo, dari Fraksi PDIP, di ruang Rapat Fraksi PDIP DPR RI.
Saat FBC menanyakan, apakah sebelum Pemilihan Umum Legislatif 2014 DOB Adonara sudah terbentuk, Yosni, hanya mengatakan doakan saja, mudah-mudahan dalam waktu dekat.
Seperti diberitakan sebelumnya, Senin (01/10), dalam Rapat Paripurna DPD RI telah merekomendasikan Adonara di Kabupaten Flores Timur (Flotim) sudah sangat layak menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB) bersamaan dengan 3 (tiga) daerah lainnya, yaitu: Kabupaten Tayam dimekarkan dari induknya Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Simalumung Hataran pisah dari induknya Kabupaten Simalumung Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Lembak dari induknya kabupaten Rejak Lebong Provinsi Bengkulu.
Rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPD RI, G. K. Ratu Hemas, selain dihadiri oleh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dari Pemda Flores Timur hadir diantaranya: Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin, Sekda Flotim, Anton Tonce Matutina, Kabag Pemerintahan SEKDA Flotim, Yakobus Arakian, Kasubag Pengembangan Otonomi Daerah, Saverianus Nobo Lian dan 19 anggota DPRD Flotim dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD, Theodorus Wungubelen. Disamping itu juga hadir Ketua Panitia Persiapan Adonara Kabupaten, Domi Rasawati dan tokoh-tokoh Adonara yang berdomisili di Jakarta. Diantaranya, B. L. Mandiri, Max Boli Sabon, dan Edu Hena.(Kico)

Saturday, October 12, 2013

Mari Satukan Hati Tuk Bangun Lewoloba

Tepat tanggal 20 September 2013, salah satu putera terbaik Lewoloba, Fransiskus Roy Hurint akhirnya dilantik menjadi Kepala Desa Lewoloba. Beliau menggantikan Bapak Yohanes Lewa Doren yang telah purna bakti. Suksesi kepemimpinan Desa yang terletak 8 km dr Kota Larantuka ini terbilang alot. Ketegangan selama tahapan pemilihan belum sepenuhnya diredam. Sebelumnya, Fransiskus Roy Hurint berkompeitisi dengan Yosep Ratu Doren untuk merebut posisi Kepala Desa Lewoloba.
Ada beberapa persoalan yang saya perhatikan menjelang pelantikan dan pada hari pelantikan kepala desa. Persoalan Pertama adalah ketidakpastian tanggal pelantikan. Semula, direncanakan pelantikan akan dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2013, namun pada akhirnya berlangsung pada tanggal 20 bulan berikutnya. Masa transisi yang lama menimbulkan keresahan dan penilaian yang macam-macam di kalangan masyarakat. Bahkan ada sekelompok masyarakat yang menilai bahwa penundaan yang lama itu sengaja dilakukan oleh pihak tertentu untuk menghambat suksesi kepemimpinan. Dugaan-dugaan itu segera ditepis dengan keluarnya SK Pengangkatan Bupati Flores Timur yang diikuti dengan kepastian tanggal pelantikan.
Persoalan kedua berkaitan dengan ritual adat pelantikan. "Nugo Balik", tusukan sate yang pernah dikembalikan oleh bapa suku Mela Hurint, dipersoalkan oleh tokoh-tokoh adat. Nugo yang melambangkan persatuan adat yang dikembalikan tersebut dipandang sebagai suatu kesalahan adat yang harus dipulihkan jika Kepala Desa terpilih berkehendak untuk diurapi secara adat. Persoalan ini tidak dituntaskan sampai pada saat pelantikan, sehingga Kades baru tidak diurapi secara adat.
Persoalan ketiga muncul pada saat pelantikan. Suasana "panas" sudah mulai terjadi selama proses perarakan Kepala Desa terpilih dari rumahnya menuju ke Balai Desa Lewoloba. Sejumlah ibu-ibu dari suku Mela Hurint meneriaki lawan politik Kades terpilih dengan nada yang keras dan lantang. Mereka seolah tidak menerima berbagai perlakuan yang tidak layak yang ditujukan kepada saudara mereka, termasuk persoalan tidak di-adat-kannya Kepala Desa terpilih. Ketegangan berlanjut sampai kepada acara santap siang. Penyajian daging "RW" sebagai salah satu menu dianggap sebagai penghinaan, karena daging tersebut identik dengan suasana yang panas. Dalam sambutannya, Kepala Desa baru pun mengajak tetamu undangan yang ada untuk makan bersama di kediamannya.
Ada beberapa persoalan lagi yang menuntut adanya penyelesaian yang tuntas. Tetapi saya membatasi diri untuk hanya menuliskan sebagian saja dari banyaknya persoalan yang ada.
Tulisan ini tidak bertendensi untuk memihak kepada satu kelompok dan memojokkan kelompok lainnya. Ini adalah ungkapan keprihatinan golongan muda atas berbagai kekisruan dan ketegangam yang terjadi. Kini pemimpin kita sudah ada, tak ada gunanya lagi kita memposisikan diri sebagai lawan pemerintah. Terlalu riskan bagi kita untuk tetap bertahan sebagai lawan selama kurang lebih 6 tahun ke depan. Alangkah baiknya bagi kita untuk bersatu dan membangun Lewotanah tercinta, Lewoloba. Semoga demikian. Salam.

Tuesday, July 17, 2012

“SISTER CITY”: LEBIH DARI SEKEDAR GURAUAN DI RUANG JAMUAN MAKAN

By Ansel Atasoge


DOWNLOAD file DOCX di sini.


Larantuka, kota paling timur di Pulau Flores, Ibu kota Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi sebagai "Sister City" atau kota kembar dengan Lisabon, Portugal. Peresmian Larantuka sebagai kota kembar dengan Lisabon ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan kerja sama antara pemerintah Portugal yang diwakili Wali Kota Ourem Paulo Fonsesca dan Bupati Flores Timur, Yospeh Lagadoni Herin di Jakarta, Rabu (23/5). Peristiwa bersejarah itu terjadi di Museum Nasional Jakarta dan disaksikan langsung oleh Presiden Portugal Anibal Antonio Cavaco Silva.
Gagasan kerja sama sister ciry ini lahir di "ruang jamuan makan malam" ketika Bupati Flores Timur menghadiri undangan makan malam dari Kedutaan Besar Portugal di Jakarta, beberapa waktu lalu, setelah Dubes Portugal menghadiri Prosesi Jumat Agung di Larantuka April lalu. Menurut Bupati Flores Timur, pada saat itu Dubes Portugal Manuel Carlos Leitao Frota berjanji akan membantu mendorong realisasi kerja sama antara pemerintah Portugal dan Pemerintah Kabupaten Flores Timur menjadikan Larantuka sebagai "sister city" atau Kota Kembar dengan Lisabon. Di Museum Nasional Jakarta pun, Manuel Carlos Leitao Frota berjanji mempromosikan perayaan suci "Semana Santa" dan Prosesi Jumat Agung atau "Sesta Vera" di Larantuka, Flores Timur di Lourdes.
Gagasan dari "ruang jamuan makan malam" telah tertambat dalam rumusan-rumusan MoU. Rumusan MoU tentu tidak sekelas dengan gurauan-gurauan di ruang makan. Kedua belah pihak yang menandatangani MoU tentu telah memahami dokumen MoU. Dan, pasti bahwa apa yang dipahami akan dikomunikasikan, bukan untuk sekedar tahu atau menjadi tahu, melainkan agar "setiap orang yang terkait di dalamnya atau yang menjadi bagian darinya bisa terlibat di dalamnya". Informasinya pasti akan dikemas dengan sejelas-jelasnya agar setiap orang yang terkait di dalamnya atau yang menjadi bagian darinya bisa mengetahui di mana posisinya, apa perannya, apa sumbangsihnya. 
Di pusat Kota Larantuka sudah ada dua baliho besar yang berkaitan dengan sister city. Yang satu di taman kota, berhadapan dengan Kantor Bank NTT Cabang Larantuka, di samping Gedung DPRD Flores Timur, dekat kompleks pertokoan. Yang satunya lagi di sudut luar depan Kantor Bupati Flores Timur. Ini merupakan dua tempat strategis untuk konteks Larantuka. Pilihan tempat tentu bukan sekedar pilihan acak-acakan. Yang satu dekat pusat perekonomian. Yang satunya dekat pusat pemerintahan. Baliho dan pilihan tempatnya ini menjadi media dan tempat komunikasi dan informasi bagi masyarakat Flores Timur dan masyarakat lain yang sedang “numpang lewat” di Kota Larantuka. 
Larantuka yang memiliki “sejarah keterkaitan spiritual” dengan bangsa Portugis pada saatnya akan dibabtis menjadi tempat ziarah internasional, lebih dari sekedar kota wisata religius. Para peziarah mancanegara dan domestik akan datang ke Larantuka untuk memuaskan kebutuhan spiritualnya, lebih dari sekedar berdarmawisata untuk menghabiskan kelebihan uang dari kantong pribadi. Kalau Larantuka bisa mencapai satu atau dua persen dari rekor Lourdes yang bisa menggaet lima sampai enam juta peziarah untuk mengunjunginya setiap tahunnya tentu luar biasa. 
Larantuka, kota ziarah yang akan sesaudara dengan Lisabon, akan menjadi “pilihan” karena ada “sesuatu yang menarik” dalam dirinya. Salah satu “objek” yang membuat orang tertarik adalah “Tuan Ma” yang pada tahun 2010 telah mencapai usia kehadirannya di Larantuka 500 tahun. Arca Bunda Maria banyak bentuk, corak dan rupanya. Namun, yang ada di Larantuka dipandang sebagai arca yang khas. Khas sejarahnya, khas pula tradisi ritualnya. Wilayah kekhasan inilah yang akan “dimasuki” para peziarah. 
Selain “Tuan Ma”, peziarahpun akan menimba khazanah rohani dan aura spiritual yang akan ditampilkan oleh mereka yang empunya tradisi dan mereka yang telah membabtis diri sebagai pemegang tradisi. Kesaksian hidup mereka merupakan bagian dari kekhasan Larantuka sebagai kota ziarah. Larantuka tentu tidak ingin mempertontonkan kesenjangan antara isi tradisi dan praksis hidup para penganutnya kepada para peziarah. 
Menyambut sister city, “orang-orang Larantuka” perlu membabtis diri menjadi orang-orang yang layak sebagai pemilik, penganut dan pencinta tradisi spiritualnya. Orang yang layak adalah orang yang selalu merindukan metanoia,yang selalu menginginkan transformasi diri dan komunitasnya berkat pancaran isi tradisinya. Hemat saya, titik inilah yang menjadikan Larantuka sebagai kota ziarah yang layak dikunjungi. Kerja berat siap menanti. Tidak hanya pemerintah, Gereja pun perlu memiliki konsep-konsep sister city yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sister city tentu bukan proyek yang syarat bisnis untung ruginya. Sister city tentu bukan aksi gagah-gagahan yang mencoba membuat Larantuka “tampil beda”. Sister city tentu bukan sekedar “memoria” tentang keindahan sejarah dan khazanah spiritual Gereja di masa lalu. 
Sekiranya sister city nantinya “tidak dilihat semata” sebagai komoditas ekonomis. Sekiranya pula, sister city nantinya “tidak semata dipandang” sebagai komoditas politik elit-elit politik tertentu. Mereka yang menanam baliho tentu tidak punya pikiran “dangkal” seperti ini. Mereka tentu sepakat kalau gurauan di ruang jamuan makan menjadi awal dari sebuah sejarah baru bagi Larantuka: Kota Rohani yang layak dihuni! Selamat menyambut sister city!
(Artikel ini ditulis oleh Sdr. Ansel Atasoge)

Saturday, June 9, 2012

Kisah Wato Wele dan Lia Nurat


Tulisan ini diambil dari tulisan saudara Ebed Derosary berjudul "Kisah WatoWele dan Lia Nurat" yang diposting pada tanggal 14 September 2011. Berikut ini kisahnya (dengan perubahan seperlunya).

    A.   Awal Kisah Wato Wele dan Lia Nurat
Awal mula sejarah daerah Flores Timur berawal dari Larantuka (Laran artinya jalan, Tukan artinya tengah). Alkisah, awal mulanya Larantuka dihuni oleh penduduk aslinya (Ile Jadi) yang berasal dari Gunung Mandiri (Ile Mandiri). Menurut legenda atau cerita rakyat, dahulu di atas puncak Ile Mandiri terdapat sebutir telur yang dierami oleh burung rajawali. Yang kemudian menetas menjadi dua anak manusia, masing-masing Lia Nurat (laki-laki) dan Wato Wele atau Putri Ile Jadi (wanita). Kedua manusia ini dipelihara oleh seekor jin, ketika itu mereka belum berpakaian dan seluruh tubuh mereka berbulu serta memiliki kuku yang panjang dan runcing. Mereka mendirikan rumah di puncak Ile Mandiri yang kemudian mereka sepakat untuk hidup terpisah, Wato Wele ke arah timur sedangkan saudaranya ke Likat Lamaboting Lama Bunuk (terletak di belakang Ile Mandiri).
Suatu ketika Wato Wele didatangi seorang pria yang bernama Patih Golok Arakiang dari pulau Timor (banyak yang menduga Patih Gadja Mada) dengan menggunakan sampan. Mereka kemudian menikah dan menghasilkan tiga orang keturunan, yaitu Kudi Lelenbalan (yang menurunkan masyarakat Waibalun), Padu Ile Pook Wolo (yang menurunkan dinasti raja-raja Larantuka) dan Laha Lapang (yang menurunkan penduduk kampung Balela).  Ini merupakan legenda yang pada umumnya beredar di dalam masyarakat Flores Timur.
B. SUMBER SEJARAH
Tulisan ini disadur dari penelitian bapak Yosep Yapi Taum ( Dosen Universitas Sanata Dharma). Cerita Wato Wele-Lia Nurat merupakan jenis sejarah asal usul (tutu maring usu asa) yang dikeramatkan, terutama oleh Suku Ile Jadi di Larantuka. Semua kisah ini disampaikan dalam bahasa sastra (KODA KNALAN).

1.  Disampaikan oleh Markus Ratu Badin, 68 tahun, buta huruf, petani berasal dari Desa Lewohala. Kisah ini diperolehnya pada usia 15 tahun dari ayahnya, Raja Badin dan dari kakeknya, Baha Badin. Menurut sejarah asal usul, penutur termasuk Suku Ile Jadi keturunan Lia Nurat. Penutur merupakan tua adat dan tuan tanah Desa Lewohala. Teks ini direkam tanggal 3 dan 4 Februari 1994 dan dituturkan dalam bahasa sastra (koda knalan) yang sangat rapi. Garis besarnya adalah sebagai berikut. 
Pada mulanya Ema Wato/Bapa Madu Ma yang tinggal di Sina Jawa menyuruh orang tuanya burung elang, terbang ke puncak Gunung Mandiri. Di puncak gunung itu sang elang menaruh telurnya dan dari satu butir telur itu lahir manusia kembar, Wato Wele - Lia Nurat. Wato Wele - Lia Nurat dipelihara oleh hantu gunung hingga menjadi dewasa. Lia Nurat mengantar adiknya Wato Wele menempati bagian selatan Mandiri dan Lia Nurat sendiri menghuni bagian utara gunung itu. Lia Nurat membuat api unggun di puncak Mandiri yang cahayanya sampai ke perkampungan Paji. Sinar api itu mengenai seorang gadis Paji bernama Hadung Boleng Teniban Duli. Suku Suban Lewa Hama, saudara kandung Hadung Boleng, disuruh pergi ke puncak gunung mencari asal api unggun dan bertemu dengan Lia Nurat. Lia Nurat berjanji akan turun ke kampung Paji. Lia Nurat turun ke kampung Paji dan menikah dengan Hadung Boleng. Dari pernikahan itu lahir tujuh anak yang kelak menurunkan Suku Ile Jadi Baipito. Mereka hidup berkecukupan. Kemakmuran mereka diketahui orang-orang Suku Soge (Maumere). Raja Suku Soge pun mengantar anaknya Uto Watak, untuk diperisteri Lia Nurat. Hadung Boleng tidak senang dengan kehadiran Uto Watak. Dia pun mengusir Uto Watak. Raja Suku Soge sangat marah. Mereka datang menyerbu dan membunuh Lia Nurat. Setelah Lia Nurat meninggal, kehidupan Hadung Boleng dan ke 7 anaknya sangat menderita. Suatu ketika Boleng bermimpi melihat pusat gunung. Dengan itu, kehidupan mereka kembali makmur. Terjadi perang di Adonara. Kelima putra Lia Nurat ikut berperang membela adik perempuan mereka. Dalam peperangan itu, putra sulung Lia Nurat, Belawa Burak Sina Puri, tewas terbunuh. Keempat putra Lia Nurat yang masih hidup kembali ke gunung Mandiri dan membagi tanah warisan di antara mereka. Penjelasan penutur tentang asal usul mereka, yakni dari putra kedua Lia Nurat.

2. Dituturkan oleh Aloysius Pati Welan, 70 tahun, petani, pernah bersekolah pada Sekolah Rakyat (SR) sampai kelas III, berasal dari Desa Riangkamie. Cerita ini diperolehnya dari Kepala Desa Riangkamie, Pehan Kelen, ketika penutur berusia kira-kira 20 tahun. Menurut sejarah asal usul, penutur merupakan orang dari Kroko Puken Lapan Batang, dan merupakan salah satu tua Desa Riangkamie. Teks ini dituturkan dalam bahasa sastra (koda knalan), direkam pada tanggal 5 Februari 1994. Garis besar ceritanya sebagai berikut:

Koda Lia Nurat berasal dari Suku Soge yang merupakan keturunan burung elang. Di Suku Soge, Lia Nurat sudah beristeri, Uto Watak Teluma Burak. Lia Nurat dan Uto Watak sepakat pergi ke timur untuk membangun kampung di puncak Ile Mandiri. Suatu malam Lia Nurat membuat api unggun. Sinar api itu sampai ke kampung Paji dan menyebabkan gadis Hadung Boleng Teniban Duli hamil. Saudara Hadung Boleng, Ratu Dale Rian Tomo, mengantar adiknya ke puncak gunung untuk diperisteri Lia Nurat. Dari perkawinan ini lahir 5 putra dan 1 putri. Hadung Boleng berselisih dengan Uto Wata. Karena sakit hati, Uto Watak kembali ke Soge dan melaporkannya kepada ayahnya. Suku Soge datang menyerbu dan menewaskan Lia Nurat. Hadung Boleng bersama anak-anaknya mengembara dari hutan ke hutan hingga menetap di Bluhur Wojon Tobo. Akhirnya anak-anak Lia Nurat sepakat membagi-bagi tanah warisan.

3.  Dituturkan oleh Gregorius Geru Koten, 46 tahun, guru SD, lulusan Sekolah Teknik (ST), berasal dari Leworok. Cerita ini diperolehnya dari ayahnya, Sipri Tubun, ketika penutur masih kanak-kanak (kira-kira 12 tahun). Menurut sejarah asal usul, penutur termasuk turunan Sina Jawa. Teks dituturkan dalam bahasa sastra (koda knalan), direkam tanggal 10 Februari 1994. Garis besar isi ceritanya sbb :

Lia Nurat dan Wato Wele lahir dari batu wadas di Gunung Mandiri. Lia Nurat mengantar adiknya, Wato Wele, menetap di bagian selatan mandiri karena rupanya seperti hantu. Suatu ketika datang Raja Pati Golo Arakiang dari Sina Jawa untuk berdagang dan mencari tempat bermukim di Larantuka. Suatu malam, Pati Golo Arakiang melihat nyala api di puncak Gunung Mandiri, dan dia tertarik menyelidikinya. Di puncak Mandiri Raja Pati Golo Arakiang bertemu Wato Wele yang tubuhnya dipenuhi bulu-bulu rambut yang lebat. Pati Golo Arakiang mencukur rambut dan memotong kuku manusia hutan itu ketika dia tertidur akibat mabuk. Ternyata manusia hutan itu seorang wanita cantik, Wato Wele.Pati Golo menikah dengan Wato Wele, menetap di Larantuka dan membangun Kerajaan Larantuka. 

Suatu ketika terjadi perang di Timor. Raja Pati Golo tidak mampu melawan pasukan Timor. Dia pun kembali ke Larantuka dan meminta bantuan kaum Baipito (keturunan Lia Nurat). Pati Golo menikah dengan Wato Wele, menetap di Larantuka dan membangun Kerajaan Larantuka. Suatu ketika terjadi perang di Timor. Raja Pati Golo tidak mampu melawan pasukan Timor. Dia pun kembali ke Larantuka dan meminta bantuan kaum Baipito (keturunan Lia Nurat). Pendekar Baipito, Ehak Sina Ama/Riki Rapo Lolong, bersedia membantu raja. Raja berjanji, jika Ehak Sina Ama menang, maka dia boleh mempersunting adik Raja Pati Golo, Bui Kena Arawada. Ehak Sina Ama berhasil menumpas tentara Timor. Ketika dia kembali ke Larantuka, ternyata raja mengingkari janjinya. Raja Pati Golo menghina Ehak Sina Ama sebagai manusia hutan. Ehak Sina Ama menyimpan dendam dan mencari cara untuk membalasnya. Ketika Bui Kena Arawada mencari kayu di hutan, Ehak Sina Ama memberinya minum tuak yang dicampur dengan air maninya. Ini membuat Bui Kena Arawada hamil. Raja Pati Golo sangat marah atas perbuatan Ehak Sina Ama. Dia ingin membunuh Ehak Sina Ama tetapi pedang dan tombak tak mampu melukai Ehak. Hal ini disebabkan karena Ehak berada di pihak yang benar. Raja Pati Golo meminta bantuan pendekar Lewotala, Leki Bera Doro Manuk, untuk membunuh Ehak. Leki mengatur siasat untuk menjebak Ehak Sina Ama yang merupakan kawannya sendiri. Disuruhnya seorang budak memetik mangga di Lewohala, kampung Ehak Sina Ama. Ehak Sina Ama memanah budak itu. Dengan dasar ini, Leki Bera mengejar Ehak Sina Ama untuk membunuhnya, tetapi Ehak Sina Ama melarikan diri ke wilayah Paji di Tanjung Bunga. Di Tanjung Bunga, Ehak Sina Ama kawin dan memperoleh satu anak lelaki. Namun Ehak Sina Ama tidak menetap di sana. Dia datang dan menetap di desa Riangkoli. Raja Pati Golo Arakiang mendengar kabar bahwa Ehak Sina Ama menetap di Riangkoli. Maka dia meminta orang Leworok untuk membunuh Ehak Sina Ama. Orang Leworok menyusun strategi untuk membunuh Ehak. Mereka menyuruh seorang gadis, Lito Nue Rate Dora, datang kepada Ehak dan mengaku bahwa ia adalah anak yatim piatu. Lito Nue Rate Dora kembali ke Leworok menceritakan hal itu. Orang Leworok mendapat alasan yang tepat untuk membunuh Ehak Sina Ama karena dia telah meniduri Lito Nue dengan tidak sah. Orang Leworok datang menyerbu dan berhasil membunuh Ehak Sina Ama. Setelah membunuh Ehak, mereka melakukan upacara pembasuhan darah. Orang Leworok menceritakan perihal kematian Ehak Sina Ama ini kepada Raja Pati Golo Arakiang, dan raja sangat senang mendengarnya.

4.  Dituturkan oleh Arnoldus Dana Hurint, 52 tahun, buta huruf, petani, berasal dari Desa Riangkoli. Cerita ini diperoleh sejak berusia kira-kira 8 sampai 9 tahun dari ayah kandungnya. Penutur adalah tua adat di desanya, dan merupakan orang dari suku Sina Jawa. Teks dituturkan dalam bahasa sastra (koda knalan), dan direkam tanggal 14 Februari 1994. Garis besar isi ceritanya sbb :

Gunung Ile Mandiri melahirkan dua anak kembar, Wato Wele dan Lia Nurat. Wato Wele tinggal di bagian selatan gunung, sedangkan Lia Nurat di sebelah utara. Suatu ketika datang Raja Pati Golo Arakiang dan bermukim di Larantuka. Pada waktu malam, dia melihat ada nyala api di puncak gunung. Keesokan harinya dia pergi mencari sumber api itu. Di puncak Gunung Mandiri dia berjumpa dengan seorang manusia hutan bernama Wato Wele Oa Dona. Keduanya pun menikah dan turun menetap di Larantuka. Pati Golo menjadi raja Larantuka karena menikahi Wato Wele Oa Dona. Itulah sebabnya perintah Pati Golo dipatuhi. Suatu ketika terjadi perang di Timor. Pati Golo pergi ke Timor untuk berperang, tetapi dia tidak mampu mengalahkan musuhnya. Pati Golo pun kembali ke Larantuka. Pati Golo meminta bantuan rakyat Baipito (keturunan Lia Nurat). Seorang pendekar bernama Eha Sina Ama/Riki Tapo Lolon bersedia membantu raja. Raja berjanji, jika Ehak dapat mengalahkan musuhnya, maka dia boleh mengambil Buikena Arawada, adik raja Pati Golo, sebagai istrinya. Ehak pergi berperang dan ternyata dia menang. Ketika kembali ke Larantuka, ternyata Buikena menolak dinikahi Ehak. Ehak menaruh dendam pada Buikena. Ketika Buikena mengambil kayu di hutan, Ehak memberinya minum tuak yang sudah dicampur air maninya. Hal ini membuat Buikena mengandung. Raja Pati Golo sangat malu. dia meminta orang Lewotala membunuh Ehak. Pendekar Lewotala, Leki Bera Doro Manuk berusaha membunuh Ehak tetapi gagal. Ehak mengungsi ke Tanjung Bunga. Disana dia kawin dan mendapat seorang anak laki-laki. Ehak mengungsi lagi dan tinggal di Riangkoli. Ketika raja mengetahui bahwa Ehak berada di Riangkoli, dia meminta orang Leworok untuk membunuh Ehak. Orang Leworok datang dan membunuh Ehak. Orang Riangkoli menguburnya dan menjadikannya leluhur mereka. Raja mengadakan pesta adat merayakan kematian itu. Di tengah-tengah keramaian itu, seorang anak bernama Padu Ile datang memeluk kaki Raja Pati Golo. Padu Ile adalah anak Raja Pati Golo dari istri selirnya. Raja Pati Golo sangat malu. Untuk membuktikan bahwa Padu Ile benar-benar anak Raja Pati Golo, dia memanah. Jika panahnya jatuh ke tanah berarti dia bukan anak raja. Tetapi sebaliknya, jika panah jatuh pada nasi tumpeng (rengki) raja, maka dia benar-benar anak raja. Ternyata panah Padu Ile jatuh ke atas nasi tumpeng raja. Karena malu, raja mengambil senjata untuk membunuh Padu Ile, tetapi Padu Ile dapat melarikan diri ke Riangkoli. Suatu ketika, Padu Ile melihat nyala api di puncak Gunung Malat. Dia pun mendaki ke puncak gunung untuk menyelidiki sumber api itu. Di puncak Gunung Malat, Padu Ile bertemu seorang gadis, Nogo Beko Blawah Ongo. Keduanya kawin dan menurunkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Sina Gula Pora Jawa.  Raja Pati Golo memberikan kampung Riangkoli sebagai tempat tinggal Sina Gula Pora Jawa dan mengangkat desa itu menjadi Pou Suku Lema (suku pembantu raja).  

5. Dokumen Kantor Depdikbud Kabupaten Flores Timur. Sira Lakalodang di Lamahala, Adonara, melakukan barter dengan Serang Gorang Lobi yang datang dari Maluku. Serang Gorang Lobi memberikan seekor babi betina kepada Sira Lakalodang. Babi betina itu melahirkan dua anak kembar : Kakang Tobo Pehan Tonu dan Aring Welan Laga Wujo. Ketika kedua kembar itu mandi di  Puhu Gelong, mereka bertemu dengan dua gadis putri raja Puhu Gelong, Uto Toeng Tonu dan Kopa Wele Barek. Mereka pun saling jatuh cinta. Uto Toeng Tonu dan Kopa Wele Barek kembali ke rumah mereka dan duduk menenun sarung. Tiba-tiba seekor burung kutilang muncul. Kopa dan Uto memberikan makan jewawut yang ditaruh di ujung tongkat tenun (hurit). Ternyata tongkat tenun itu dibawa terbang dan jatuh di dekat rumah Tonu dan Wujo. Tonu dan Wujo mengambil Uto dan Kopa sebagai istri. Masyarakat dan Raja Puhu Gelong panik, mencari Uto dan Kopa sampai di Pigan Lewata, mengajak keduanya pulang, tetapi ditolak. Mereka bersepakat menguji kebenaran melalui perang. Pihak yang kalah dianggap bersalah dan yang menang dianggap benar. Kedua pihak mencari dasar hukum untuk membenarkan tindakan mereka. Pihak Puhu Gelong menganggap kedua putri diculik Tonu dan Wujo. Pihak Pegan Lewata (Lamahala) menganggap kedua putri datang sendiri. Perang dilaksanakan selama tiga hari tiga malam. Pemenangnya adalah Pigan Lewatan. Karena merasa tidak aman tinggal di Piga Lewatan, Tonu dan Wujo meminta Kiko Unus Aman mengantar mereka ke Lamakera (Solor) untuk menetap di sana. Di Lamakera, Kakang Tobo Pehan Tonu mengubah namanya menjadi Sinu, sedangkan adiknya, Aring Welan Laga Wujo menjadi Narek. Mereka diterima sebagai Bela Raja (suku besar) karena merupakan pemberani, mendampingi suku Songge Sikka Klodo. Sinu dan Narek tak puas tinggal di Lamakera. Keduanya pun melanglang buana (niu lagang) ke timor dengan menumpang kulit pinang (Wua Kama). Di perjalanan itu mereka memberi nama kepada banyak daerah, antara lain, Tana Timo, Nama Sain, Teno, Tobi Lolong, Nuha Kera. Di Timor ada seyembara yang digelar Raja Amarasi : siapa yang mampu membunuh ular naga yang sering mengganggu penduduk akan di bawah ke istana. Sinu dan Narek berhasil membunuh naga itu berkat mantra dan pertolongan Ilahi Lera Wulan dan leluhur Tana Ekan di kampung halamannya. Mereka memotong lidah naga itu. Keesokan harinya, pendekar dari Rote mengambil kepala naga itu dan memberikannya kepada Raja Amarasi untuk mendapat hadiah. Sinu dan Narek datang juga ke istana dan meminta orang Rote menunjukan lidah naga itu. Akhirnya orang Rote diberi tanah (karena mereka membawa kepala naga kepada raja) dan orang Solor pun diberi tanah di kampung Solor (karena Sinu dan Narek itulah yang membunuh naga itu). Di tempat itu muncul mata air yang disebut De (Wai) Ba  (mengalir). Sinu dan Narek terus menjelajahi Pulau Timor. Mereka tiba di Ata Pupu (orang kumpul), yakni tempat berkumpulnya manusia-manusia gaib. Narek, sang adik, tinggal di sana sedangkan Sinu, kakaknya berlayar kembali ke Lamakera. Narek bertemu beberapa orang pribumi yang masih primitif, hidup di puncak-puncak bukit. Narek pun diangkat menjadi Raja Atapupu. Narek kawin dengan penduduk asli di sana dan mendapat dua orang anak yakni Pati Golo Arakiang (adik) dan Peni Utang Pati Golo (kakak perempuan). Pati Golo bergelar Raja Pati Golo Arakiang karena menggantikan ayahnya sebagai raja. Pati Golo menyadap tuak dan Peni Utang Lolong menenun sarung. Suatu ketika Pati Golo kembali tanpa membawa tuak, Peni Utang Lolong marah dan memukul adiknya dengan tongkat tenun (hurit) hingga darah mengucur dari ubun-ubun kepalanya. 

Pati Golo Arakiang ingin mencari pencuri tuaknya. Tengah malam, ketika Pati Golo berjaga di atas pohon lontar, datang seekor burung raksasa yang baunya busuk, menjulurkan paruhnya ke dalam bambu tuak, dan minum tuak itu. Terdorong rasa dendam sekalipun takut, Pati Golo memeluk kaki burung itu dan duduk di telapak kakinya. Burung itu adalah karuda (yang biasa memangsa anak kambing, ayam, domba, bahkan manusia). Burung itu menerbangkan Pati Golo ke arah barat. (Karuda = si kerongkongan jelek). Karuda terus saja terbang dan akhirnya hinggap di sebuah kebun pisang di pulau Jawa. Penjaga kebun pisang melaporkan kedatangan Pati Golo kepada raja. Pati Golo diterima sebagai pinatu di istana raja. Ketika giliran Pati Golo mencuci pakaian raja, ditaburinya pakaian itu dengan serbuk kayu cendana yang harum. Raja amat senang dan menyuruh Pati Golo memimpin sebuah ekspedisi ke Timor untuk mengambil cendana itu, dengan membawa minuman keras di dalam botol-botol. Ekspedisi pun berangkat ke pulau Timor. Kayu cendana ditebang selama tiga bulan. Sementara itu Pati Golo menyusuri hutan yang terasa asing baginya. Di hutan itu Pati Golo bertemu seorang gadis cantik dan keduanya kawin. Hari keberangkatan semakin mendekat. Pati Golo berpamitan dengan istrinya untuk pergi ke pulau Jawa dan akan kembali menjumpai istrinya. Istrinya mencari kutu rambut Pati Golo, dan melihat bekas luka di kepala Pati Golo. Sang istri bercerita bahwa dia mempunyai seorang adik dan bahwa dia pernah memukul kepala adiknya dengan hurit. Adiknya bernama Pati Golo Arakiang. Mendengar cerita itu, Pati Golo Arakiang merangkul istrinya yang ternyata adalah Peni Utang Lolong, kakak kandungnya sendiri. Tangis tak terbendung disertai penyesalan yang terlambat karena Peni Utang Lolong sudah hamil 3 bulan. Pati Golo Arakiang pamit pada istrinya dan berjanji akan kembali lagi. Ekspedisi pun siap dan mereka berangkat.  

Ekspedisi tiba di selat Flores, terus menuju ke arah timur. Di Flores timur tampak begitu banyak orang yang sedang berkarang di pantai. Ketika kapal itu berlabuh di Lokea (Lewo Gekeng Derang Tanah Sao Sina = kampung persaudaraan tempat berlabuh ekspedisi dari pulau Jawa), ternyata tidak ada seorang manusia pun di sana. Pati Golo menyebut tempat itu "Mandiri Tanah Lolong" (sendirian di atas tanah). Di tanah ada bekas obor dan jejak kaki menuju ke puncak gunung. Pati Golo memerintahkan ekspedisi untuk terus berlayar, sedangkan dia tetap tinggal di tempat itu, menyusuri jejak untuk menyelidiki siapa penghuninya. Pati Golo tiba di puncak gunung. Disembunyikannya botol-botol minuman keras dan kain sarung pemberian kakaknya, Peni Utang Lolong, di semak-semak. Dia memanjat pohon asam dan duduk di atasnya, menunggu siapa yang bakal datang. Sore hari datang seorang manusia membawa hasil buruan. Sosoknya tinggi, jangkung, hitam, besar. Manusia itu membaui atas pohon asam, terlihat olehnya seorang manusia. Manusia hutan itu memperkenalkan dirinya, Saya Oa Wato Wele Apa Utan, penguasa gunung ini! Pati Golo juga memperkenalkan dirinya, Saya Raja Pati Golo, Pati Golo Arakiang, berasal dari tanah Timor, telah mengembara ke tanah Jawa dan terdampar di tempat ini. Keduanya pun makan bersama. Setelah itu Pati Golo memberikan minuman keras kepada Wato Wele. Wato Wele minum sampai mabuk dan tertidur. Pada waktu dia tertidur, Pati Golo mencukur bulu-bulu rambut Wato Wele. Ternyata dia seorang gadis yang sangat cantik. Akhirnya Pati Golo dan Wato Wele kawin dan menjadi penguasa di wilayah itu, menjadi Raja dan Ratu Larantuka.  Perkawinan Wato Wele dan Pati Golo menurunkan seorang putra, Raja Resi Weli Nama, Tuan Igo Weli Lela. Raja ini menurunkan Raja Padun Ile, Tuan Paga Wolo. Raja Padun Ile menurunkan Raja Usi Laseberang. Raja Usi menurunkan dua putra yakni Igo (kakak) dan Enga (adik). Pada masa pemerintahan kedua putra inilah terjadi perang perebutan kekuasaan, yang dikenal dengan nama Perang Paji-Demong. Perang ini dipengaruhi unsur Jawa, yakni Perang Demak melawan Pajang. Pengikut Kerajaan Demak disebut Demong Narang (orang Demong) dan pemimpin mereka disebut Kakang. Pengikut Kerajaan Pajang disebut Paji Nara (orang Paji) dan pemimpin mereka disebut Kapitan karena dia seorang nahkoda kapal. Kedua bersaudara ini mengikuti pengaruh yang berlawanan ini. Dinasti Demong dipimpin Igo, dan dinasti Paji dipimpin Enga.

6. Dituturkan oleh Petrus Mau Larantuka, 74 tahun, tua adat, petani, pernah mengikuti pendidikan pada Standaarschool (Sekolah Guru) Belanda sampai kelas V. Cerita ini diperoleh penutur ketika berusia kira-kira 12 tahun dari ayahnya, Yosep Banda Larantuka. Penutur merupakan orang dari keturunan Sina Jawa. Teks ini dituturkan dalam bahasa Indonesia dan direkam tanggal 19 Februari 1994. Isi ringkasan ceritanya sbb : 


Pada awalnya Wato Wele dan Lia Nurat dilahirkan oleh Gunung Ile Mandiri. Wato Wele-Lia Nurat hidup bersama di puncak gunung itu, dan menurunkan seorang anak laki-laki bernama Tukan Ama Wruin. Setelah itu Lia Nurat mengantar adiknya Wato Wele untuk menempati wilayah selatan Gunung Mandiri. Lia Nurat sendiri menempati wilayah utara Gunung Mandiri, yaitu Wao Lama Herin. Suatu ketika datang Pati Golo Arakiang dari Tanah Timor. Pati Golo berlabuh di Lawerang Tanah Goran. Di tempat itu tidak ada manusia. Pada malam hari Pati Golo melihat nyala api di puncak Gunung Mandiri. Pati Golo pu mendaki gunung itu untuk menyelidiki sumber api. Pati Golo bersembunyi di atas pohon asam. Tiba-tiba datang seorang manusia membawa binatang-binatang buruan. Sosoknya tinggi, besar dan berbulu lebat. Orang hutan itu hendak membuat api unggun dengan menggesekan kukunya, tetapi api tidak menyala sehingga terjadi gempa bumi yang dahsyat. Manusia hutan melihat ke atas pohon dan ternyata ada manusia di atas pohon itu. Manusia hutan memperkenalkan dirinya, Saya Wato Wele Apa Hutan. Pati Golo turun dari pohon. Keduanya makan dan minum arak sampai Wato Wele mabuk dan tertidur. Ketika Wato Wele tertidur, Pati Golo Arakiang mencukur bulu-bulu rambut dan memotong kuku-kukunya. Ternyata Wato Wele seorang wanita yang cantik. Keduanya segera menikah dan menurunkan tiga orang anak yaitu, Kudi Leleng Balang, Raja Ila, dan Lahan Lapan. Raja Pati Golo meninggalkan Wato Wele dan ketiga anaknya. Dia pergi mencari kakaknya, Biu Kena Arawada yang sudah lama ditinggalkan karena Bui Kena memukul kepala Pati Golo saat Pati Golo tidak membawa tuak ke rumahnya. 

Di sebuah pantai, Pati Golo bertemu seorang gadis. Keduanya saling jatuh cinta dan segera menikah. Dari pernikahan itu, lahir seorang anak laki-laki bernama Pati Grama. Suatu ketika, istri Pati Golo mencari kutu rambut Pati Golo. Dia melihat bekas luka di kepala Pati Golo dan menceritakan bahwa dia mempunyai seorang adik bernama Pati Golo Arakiang yang juga memiliki bekas luka di kepalanya. Mendengar cerita itu, Pati Golo menyesal dan pergi meninggalkan kakaknya yang sedang hamil. Ketika Pati Golo datang dari tanah Timor, dia membawa pula dua orang anaknya, yakni Pusi dan Gowa, yang kini keturunannya menetap di desa Lebao dan Tebali. 

7. Dituturkan oleh Lukas Bala Hurint, 73 tahun, buta huruf, petani, dari desa Lewoloba. Cerita diperoleh dari orang tuanya pada usia kira-kira 8-9 tahun. Penutur merupakan orang Ile Jadi, dari keturunan Lia Nurat (Blawak Burak Sina Puri). Teks dituturkan dalam bahasa Indonesia dan dicampur dalam bahasa Lamaholot biasa dan direkam tangga 2 Februari 1994. Isi ringkasan ceritanya sbb :

Batu-batu wadas pecah, dan dari dalam gunung lahirlah dua saudara kembar, Wato Wele-Lia Nurat. Lia Nurat mengantar adiknya, Wato Wele, menempati wilayah selatan Gunung Mandiri, yakni Woto Wele Dole. Lia Nurat membuat pemisah wilayah itu dengan menanam rotan yang menjalar sampai ke laut dan menempatkan batu-batu besar, dengan maksud agar keduanya tidak bertemu lagi. Suatu ketika di perkampungan Paji, seorang gadis bernama Hadung Boleng Teniban Duli melihat nyala api di puncak Gunung Mandiri. Hadung Boleng menyuruh saudaranya, Suban Lewa Haman Sao Lewa Gowe, untuk menyelidiki asal api itu. Suban Lewa Haman membawa ketupat, madu, arak, pisau iris (mere) dan kain tenun (nowing, snaik). Tiba di puncak gunung, Suban Lewa Haman bertemu dengan Lia Nurat. Tubuh Lia Nurat ditumbuhi bulu-bulu rambut yang sangat lebat, kuku-kukunya mirip cakar. Mereka membakar hasil buruan dan makan bersama. Karena belum terbiasa minum arak, Lia Nurat mabuk dan tertidur. Pada waktu Lia Nurat tertidur, Suban Lewa Haman mencukur bulu-bulu rambutnya dan memotong kuku-kuku jari kaki dan tangannya. Ketika Lia Nurat bangun, dia merasa dingin dan sangat terkejut. Hujan turun dengan lebat dan disertai angin dan gempa bumi selama tujuh hari tujuh malam. Suban Lewa Haman memberikan sarung kepada Lia Nurat. Suban Lewa Haman merasa takut karena hujan, angin, dan gempa tak kunjung berhenti. Dia pun berjanji, setelah tujuh hari dia akan membawa adiknya Hadung Boleng Teniban Duli kepada Lia Nurat untuk dijadikan istri Lia Nurat. Hujan, angin dan gempa berhenti. Pada hari ke tujuh, sesuai janji, Suban Lewa Haman mengantar adiknya Hadung Boleng Teniban Duli kepada Lia Nurat di puncak gunung Mandiri untuk dijadikan istri Lia Nurat. Dari perkawinan itu lahirlah 5 oraang putra dan 2 orang putri yang kelak menurunkan penduduk Baipito. Suatu ketika terjadi perang di Adonara. Kelima putra Lia Nurat pergi ke sana untuk berperang membela adik perempuan mereka. Dalam peperangan itu, anak sulung Lia Nurat, yakni Blawa Burak Sina Puri tewas terbunuh. Seusai perang, anak-anak Lia Nurat yang masih hidup kembali ke Ile Mandiri dan membagi tanah warisan di antara mereka.
    ( Disadur dari Tulisan Adik Piter Fernandez )