Showing posts with label flores. Show all posts
Showing posts with label flores. Show all posts

Monday, November 19, 2018

Membaca Pileg dan Pilpres dalam Konteks Lewoloba

Nick Doren - Lewoloba

Pada tanggal 17 April 2019 mendatang, Republik Indonesia akan mengadakan Pemilihan Umum (Pemilu) untuk memilih Calon Presiden dan Wakil Presiden, Calon Anggota DPR RI / DPRD dan DPD. Pemilu 2019 akan berbeda dengan Pemilu pada periode sebelumnya karena dilakukan secara serentak. Setidaknya terdapat lima kondisi yang membedakan Pemilu 2019 dengan Pemilu sebelumnya yaitu : (1) Sistem Pemilu terbuka, (2) perubahan timeline presidential threshold, (3) parliamentary threshold, dan (4) metode konversi suara, serta (5) pembagian kursi per Dapil, 3 untuk suara minimal dan 10 untuk suara maksimal. Terkait dengan Pemilu yang dilaksanakan secara serentak, maka setiap wajib pilih akan membawa 5 surat suara ketika memasuki bilik suara, yaitu surat suara untuk Pilpres, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten / Kota dan DPD. Dengan mengantongi 5 surat suara ketika masuk bilik suara, maka hal ini tentu saja menjadi masalah tersendiri bukan hanya bagi pemilih pemula tetapi juga bagi pemilih lama yang lanjut usia.

Untuk wilayah pemilihan Kabupaten Flores Timur, 430 Calon Legislatif dari 16 partai politik telah mendaftarkan diri. Tidak semua parpol di Flores Timur mendaftarkan calegnya untuk semua Daerah Pemilihan yang ada. Jika semua parpol mendaftarkan calegnya secara lengkap maka jumlah calon anggota legislatif Kabupaten Flores Timur adalah 480 orang. Sebagian besar opini masyarakat mengatakan bahwa Pemilihan Legislatif tingkat Kabupaten untuk memperebutkan 30 kursi DPRD adalah pemilihan yang paling berat bila dibandingkan dengan pemilihan presiden dan pileg pada tingkatan lainnya. Ada banyak faktor primordial yang mempengaruhi pilihan warga, entah karena faktor agama, ikatan kekeluargaan, sosio budaya, dll. Latar belakang primordial semacam ini tentu mempengaruhi mutu sebuah pilihan. Orang tidak lagi memilih karena kualitas calon dan visi dan misinya tetapi karena faktor primordial.

Tuesday, September 5, 2017

Bupati Flores Timur Mencanangkan Pengenaan Tenun Ikat Lamaholot Bagi ASN Kabupaten Flores Timur


Nick Doren - Lewoloba
ASN BKPP Kab. Flores Timur Mengenakan Kwatek dan Nowing Lamaholot Flores Timur
Suasana berbeda tampak jelas di halaman depan kantor Bupati Flores Timur pada Senin, 5 September 2017. Semua ASN dan tenaga honorer lingkup Pemerintah Kabupaten Flores Timur mengenakan busana adat Lamaholot, nowing / senai (sarung untuk pria) dan kewatek (sarung untuk wanita) pada apel kekuatan lingkup Pemerintah Kabupaten Flores Timur yang dipimpin langsung oleh Bupati Flores Timur, Antonius H. Gege Hadjon, ST. Pengenaan busana adat ini merupakan implementasi dari Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 49 Tahun 2017 tentang Pakaian Dinas Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan Instruksi Bupati Flores Timur Nomor HK.188.5.5/1/2017 tentang Pelaksanaan Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 49 Tahun 2017 tentang Pakaian Dinas Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Flores Timur. Dalam Perbup dan peraturan turunannya ada hal baru yang belum diatur sebelumnya, yaitu mengenai pemakaian busana adat Lamaholot Flores Timur, nowing / senai dan kewatek, pada setiap senin pertama dalam bulan. 

Dalam sambutannya, Bupati Flores Timur mengapresiasi ASN yang mengenakan pakaian adat Lamaholot. Bupati pun mengajak semua ASN untuk mencintai adat / budaya Lamaholot dan membeli produk ikat tenun yang dihasilkan oleh masyarakat Flores Timur. ASN hendaknya menjadi pelopor dalam hal mencintai produk lokal Lamaholot melalui pengenaan nowing/senai dan kewatek secara rutin. Diharapkan melalui pencanangan pengenaan pakaian adat Lamaholot dapat meningkatkan rasa cinta masyarakat terhadap produk lokal, menumbuhkan kesadaran di tengah orang-orang muda Flores Timur untuk terlibat aktif dalam upaya melestarikan adat dan budaya Lamaholot.

Saturday, September 13, 2014

Jangan Lewatkan Kunjunganmu ke Pulau Solor #FloresTimur

Nick Doren - Lewoloba
Pelabuhan Podor, Solor Selatan

Nun jauh di ujung  Pulau Flores bagian timur, terdapat sejumlah Pulau nan indah, yang menyimpan banyak pesona alam yang masih "Perawan". Pulau-pulau tersebut adalah P. Adonara, P. Solor, dan P. Lembata. Dan kisah petualangan berikut ini adalah sebuah kisah singkat yang tak lain merupakan ungkapan syukur penulis terhadap segala keindahan alam dan keramahan masyarakat di P. Solor.

Saat ini tak banyak orang menulis atau mengisahkan sesuatu tentang Solor. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan manakala begitu banyak wisatawan dalam dan luar negeri ingin berkunjung ke P. Solor, namun hanya ada sedikit informasi yang tersedia. Catatan keci ini pun tentu saja tidak bisa mencakup keseluruhan pesona indah P. Solor.

Nick Doren - Lewoloba
Jalan Menuju Kelelu
Semuanya bermula ketika keluarga dari Solor mengajak saya untuk mengahadiri sebuah acara Sambut Baru / Komuni Pertama di Desa Lamawalang alias Lamawohong pada tanggal 5 Sept. yang lalu. Tepat tanggal 4, saya dan beberapa anggota keluarga lain bertolak dari Pelabuhan Larantuka menuju Pelabuhan Podor di Solor Selatan. Ada banyak Kapal Motor penyeberangan yang hilir mudik di sekitar selat Solor. Dan pilihan kami jatuh pada KMP Barcelona untuk menghantarkan kami mengarungi lautan menuju P. Solor. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Dan tibalah kami di Pelabuhan Podor. Betapa kagetnya saya ketika melihat keadaan pelabuhan tersebut. Pelabuhan tersebut sangat kecil. Pelabuhan tersebut hanya dapat menampung tiga kapal motor penyeberangan. Dari Podor kami bergegas menuju Lamawohong di Solor Barat.

Nick Doren - Lewoloba
Jalan Menuju Lamawohong

Dasyat!! Sungguh dasyat,  perjalanan menuju Lamawohong sangat melelahkan. Mayoritas jalannya telah rusak dan berdebu sehingga sebaiknya kita mengenakan masker. Dari  Podor, kami menelusuri jalan di pantai selatan menuju ke Solor Barat. Pantai berpasir putih Kelike dan Lemanu sungguh memanjakan mata. Hamparan karang nan indah memehuni pantai di sepanjang perjalanan kami.

Nick Doren - Lewoloba
Suasana tenang di Pantai Lamawohong

Di persimpangan Kelelu - Ritaebang, perjalanan kami tampak mulus, karena jalanannya sudah beraspal dan jarang ditemukan jalan berlobang yang terdapat di sebagian besar daerah lain di Pulau Solor. Tiba di Kelelu, terdapat sebuah Pusat Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang memasok listrik untuk beberapa desa di sekitarnya. Menurut informasi yang disampaikan masyarakat, PLTS ini adalah hasil perjuangan Bpk. Pius Lusrilanang, salah satu anggota DPR RI yang membawahi bidang kelistrikan. Tiba di persimpangan Kelelu-Lamawohong, jalan kembali berdebu. Tetapi kondisi ini telah jauh lebih baik dari tahun lalu ketika saya mengunjungi keluarga di Lamawohong. Telah ada pengerasan jalan, dan pembukaan jalan baru dari Lamawohong menuju ke Lewo Tanah Ole sejauh 8 km.

Nick Doren - Lewoloba
Pantai Lamawohong

Dan tibalah kami di desa tujuan, Desa Lamawalang atau akrab disapa dengan Lamawohong. Baru duduk kurang dari 15 menit di rumah Bpk. Martinus Gelega Werang, kami telah disuguhkan satu teko tuak putih untuk menghangatkan badan dan tambo ayam kampung. Kami bersenda gurau menceritakan perjalanan jauh dan melelahkan. Tetapi keramahtamahan warga desa seakan menepis kelelahan tersebut. Untuk diketahui, hampir setiap rumah di Desa Lamawalang, Lamawohong memiliki rumah produksi arak lokal. Hal ini membuat Lamawohong mendapatkan julukan sebagai "dealer tuak / arak". Mayoritas masyarakat di sini bekerja sebagai petani dan nelayan.

Nick Doren - Lewoloba
PLTS Kelelu

Ketika tiba giliran melihat keindahan Pantai Lamawohong, kami merasa takjub akan keindahan pantainya. Konon, lima tahun yang lalu pantai ini jauh lebih indah dari keadannnya saat ini. Dari Pantai Lamawohong, kita dapat melihat lautan lepas ke arah Laut Sawu. Lautnya yang tenang menjadikannya sebagai daerah dengan banyak jenis ikan yang hidup di dalam lautnya. Sayang sekali, sejumlah nelayan dari Lamakera dan Menanga masih melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak. Tentu saja hal ini dapat menghancurkan terumbu karang, yang pada gilirannya akan turut menghancurkan juga biota laut yang ada.

Nick Doren - Lewoloba
PLTS Kelelu

Setelah melewatkan dua hari di Lamawohong, kami pun bergerak pulang ke Larantuka. Kami hendak menempuh jalur perjalanan yang berbeda dengan sebelumnya, yaitu melalui jalan trans Ritaebang - Pamakayo. Jalanannya jauh lebih baik, dengan sedikit jalan berlobang dan kurang berdebu. Durasi perjalanan pun singkat, hanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Setibanya di Pamakayo, kami langsung bergegas menuju ke pelabuhannya. Tak lupa sebelum naik kapal, kami berfoto ria dengan berlatarbelakang teluk Pamakayo yang indah.

Nick Doren - Lewoloba
Pelabuhan Pamakayo

Jika Anda tertarik mengunjungi Solor, datang, lihat, dan nikmatilah keindahannya.

Nick Doren - Lewoloba
Teluk Pamakayo

Thursday, October 17, 2013

Pemkab Flotim Sdh Penuhi Syarat Usulan DOB Adonara


LARANTUKA, FBC-Kepala Bagian Pemerintahan Sekda Flores Timur, Yakobus Arakian, mengatakan segala kelengkapan dan persyaratan untuk pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Adonara sudah terpenuhi sesuai dengan PP No.78 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah.
Pernyataan Yakobus Arakian ini menjawab pertanyaan FBC, di Larantuka, Jumat (4/10), terkait dengan kesiapan Pemkab Flores Timur dalam mendorong percepatan otonomi Adonara.
Dikatakan Arkian, demi terpenuhinya syarat-syarat sebagaimana ketentuan PP Nomor 78 Tahun 2007, Bupati Flores Timurtelah mengeluarkan 7 Keputusan Bupati, sementara DPRD Flores Timur mengeluarkan 6 keputusan. Selain itu Gubernur dan DPRD NTT juga sudah mengeluarkan keputusan terkait DOB Adonara.
Keputusan Bupati Flotim itu terdiri dari: 1) Nomor 135 Tahun 2010 tentang Persetujuan Nama Calon Kabupaten; 2) Nomor 112 Tahun 2010 tentang Persetujuan Pembentukan Kabupaten Adonara; 3) Nomor 114 Tahun 2010 tentang Lokasi Ibu Kota Calon Kabupaten Adonara; 4) Nomor 113 Tahun 2010 tentang Cakupan Wilayah Calon Kabupaten Adonara;
Bupati juga mengeluarkan keputusan terkait dengan dukungan dana, dan pengaturan asset daerah seperti keputusan Bupati Nomor 115 Tahun 2010 tentang Dukungan Dana Untuk Calon Kabupaten Adonara. Sebesar Rp. 50.000.000.000 (lima puluh miliar rupiah) untuk 2 (dua) tahun berturut-turut sejak diresmikan Adonara menjadi kabupaten. Dengan rincian Rp. 22.500.000.000,-/tahun untuk penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan, serta Rp. 2.500.000.000/tahun untuk biaya Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pertama. Keputusan Bupati Nomor 132 Tahun 2010 tentang Persetujuan Penyerahan Kekayaan Daerah yang Dikuasai; 7) Nomor 131 Tahun 2010 tentang Persetujuan Penyerahan Sarana dan Prasarana Perkantoran Kepada Calon Kabupaten Adonara,”jelasnya.
Sementara itu menurutnya, keputusan DPRD Flotim meliputi: 1) Nomor: 7.a/DPRD.KAB/FLT/2010 tentang Nama Calon Kabupaten Adonara; 2) Nomor 4/DPRD.KAB/FLT/2010 tentang Lokasi Ibu Kota Kabupaten Adonara; 3) Nomor 3/DPRD.KAB/FLT/2010 tentang Cakupan Wilayah Kabupaten Adonara; 4) Nomor 5/DPRD.KAB/FLT/2010 tentang Dukungan Dana Untuk Calon Kabupaten Adonara; 5) Nomor 7/DPRD.KAB/FLT/2010 tentang Persetujuan Penyerahan Kekayaan Daerah Yang Dimiliki atau Yang Dikuasai Kabupaten Adonara; 7) Nomor 6/DPRD.KAB/FLT/2010 tentang Persetujuan Penyerahan Sarana dan Prasarana Perkantoran Kepada Kabupaten Adonara.
“Selain dokumen kelengkapan diatas, juga disertakan Peta terbaru Kabupaten Flotim dan calon Kabupaten Adonara hasil kerjasama Pemda Flotim dengan Bakorsutanal tahun 2008 – 2009 dengan biaya sebesar Rp. 180.000.000,” jelasnya.
Dijelaskan Arkian , selain keputusan Bupati dan DPRD Flores Timur, Gubernur dan DPRD NTT masing-masing mengeluarkan 3 Keputusan, yaitu 1) Keputusan Gubernur NTT Nomor 278/KEP/HK/2010 tentang Persetujuan Pemberian Bantuan Dana Untuk Mendukung Penyelenggaraan Pemerintahan Calon Kabupaten Adonara Untuk Jangka Waktu Paling Kurang 2 (Dua) Tahun Berturut-turut Terhitung Sejak Peresmian Sebagai Kabupaten Adonara di Provinsi NTT. Yang menurut keputusan ini sebesar Rp. 3.000.000.000,- ( tiga miliar rupiah); 2) Keputusan Gubernur NTT Nomor 279/KEP/HK/2010 tentang Persetujuan Pemberian Dukungan Dana Dalam Rangka Membiayai Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah Untuk Pertama Kali Di Kabupaten Adonara Provinsi NTT. Sebesar Rp. 2.000.000.000,- (dua miliar rupiah); dan 3) Keputusan Gubernur NTT Nomor 280/KEP/HK/2010 tentang Persetujuan Nama Calon Kabupaten Adonara, Cakupan Wilayah Calon Kabupaten Adonara Dan Calon Ibu Kota Kabupaten Adonara di Provinsi NTT.
Sedangkan Keputusan-keputusan DPRD NTT yakni: 1) Nomor 8/DPRD/2010 tentang Persetujuan Nama Calon Kabupaten Adonara, Cakupan Wilayah Calon Kabupaten Adonara Dan Calon Ibu Kota Kabupaten Adonara di Provinsi NTT;m 2) Nomor 9/DPRD/2010 tentang Persetujuan Pemberian Bantuan Dana Untuk Mendukung Penyelenggaraan Pemerintahan Calon Kabupaten Adonara Untuk Jangka Waktu Paling Kurang 2 (Dua) Tahun Berturut-turut Terhitung Sejak Peresmian Sebagai Kabupaten Adonara di Provinsi NTT;m dan 3) Nomor 10/DPRD/2010 tentang Persetujuan Pemberian Dukungan Dana Dalam Rangka Membiayai Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pertama Kali Di Kabupaten Adonara Provinsi NTT.
Masih menurut Arakian, seluruh dokumen ini diserahkan oleh Pemkab Flores Timur pada tanggal 19 Agustus 2010, oleh Penjabat Bupati Flores Timur, Muhammad Wongso, Ketua DPRD Flotim, Marius Payong Paty, Kabag Pemerintahan, Ramli Lamanepa, Kasubag Pemerintahan Umum, Yakobus Arakian, dan beberapa anggota Panitia Persiapan Adonara Kabupaten (PPAK) kepada DPR RI, DPD RI, dan Kementerian Dalam Negeri pada hari yang bersamaan.
“Memang perjuangan Adonara Kabupaten sempat tertunda terkait dengan moratorium dari pemerintah. Tetapi bahwa lembaga perwakilan adalah lembaga politik dan memiliki hak inisiatif dalam mengajukan undang-undang. Karena itu, peluang ini yang dipakai,” terang Arakian.
Arakian menambahkan, pada tanggal 23 September 2013, bersama dengan Asisten I SEKDA Flotim, Abdur Rasak Jakra, Kasubag Pemerintahan Umum, Gabriel Oleona, dengan Staf ahli Komisi II DPR RI, telah membuat Draft Rancangan UU Kabupaten Adonara, di Jakarta. “Secara aturan, semua telah final. Sehingga jika tidak ada halangan yang berarti, rekomendasi dari DPD RI yang diserahkan kepada Komisi II DPR RI, segera dibahas,” jelasnya.
Dalam Waktu Dekat
Bupati Flotim, Yoseph Lagadoni Herin, melalui pesan singkatnya kepada FBC, Senin, (7/10), menyampaikan bahwa Paripurna DPD RI sudah menetapkan Adonara sebagai salah satu calon DOB yang akan dibentuk. Menurut Bupati Yosni, selepas Paripurna DPD RI (01/10), lanjut Lagadoni, bahwa dirinya dan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, berkesempatan bertemu dengan Ketua Panja Pemekaran DOB Non Papua Komisi II DPR RI, Arif Wibowo, dari Fraksi PDIP, di ruang Rapat Fraksi PDIP DPR RI.
Saat FBC menanyakan, apakah sebelum Pemilihan Umum Legislatif 2014 DOB Adonara sudah terbentuk, Yosni, hanya mengatakan doakan saja, mudah-mudahan dalam waktu dekat.
Seperti diberitakan sebelumnya, Senin (01/10), dalam Rapat Paripurna DPD RI telah merekomendasikan Adonara di Kabupaten Flores Timur (Flotim) sudah sangat layak menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB) bersamaan dengan 3 (tiga) daerah lainnya, yaitu: Kabupaten Tayam dimekarkan dari induknya Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Simalumung Hataran pisah dari induknya Kabupaten Simalumung Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Lembak dari induknya kabupaten Rejak Lebong Provinsi Bengkulu.
Rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPD RI, G. K. Ratu Hemas, selain dihadiri oleh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dari Pemda Flores Timur hadir diantaranya: Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin, Sekda Flotim, Anton Tonce Matutina, Kabag Pemerintahan SEKDA Flotim, Yakobus Arakian, Kasubag Pengembangan Otonomi Daerah, Saverianus Nobo Lian dan 19 anggota DPRD Flotim dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD, Theodorus Wungubelen. Disamping itu juga hadir Ketua Panitia Persiapan Adonara Kabupaten, Domi Rasawati dan tokoh-tokoh Adonara yang berdomisili di Jakarta. Diantaranya, B. L. Mandiri, Max Boli Sabon, dan Edu Hena.(Kico)

Saturday, October 12, 2013

Mari Satukan Hati Tuk Bangun Lewoloba

Tepat tanggal 20 September 2013, salah satu putera terbaik Lewoloba, Fransiskus Roy Hurint akhirnya dilantik menjadi Kepala Desa Lewoloba. Beliau menggantikan Bapak Yohanes Lewa Doren yang telah purna bakti. Suksesi kepemimpinan Desa yang terletak 8 km dr Kota Larantuka ini terbilang alot. Ketegangan selama tahapan pemilihan belum sepenuhnya diredam. Sebelumnya, Fransiskus Roy Hurint berkompeitisi dengan Yosep Ratu Doren untuk merebut posisi Kepala Desa Lewoloba.
Ada beberapa persoalan yang saya perhatikan menjelang pelantikan dan pada hari pelantikan kepala desa. Persoalan Pertama adalah ketidakpastian tanggal pelantikan. Semula, direncanakan pelantikan akan dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2013, namun pada akhirnya berlangsung pada tanggal 20 bulan berikutnya. Masa transisi yang lama menimbulkan keresahan dan penilaian yang macam-macam di kalangan masyarakat. Bahkan ada sekelompok masyarakat yang menilai bahwa penundaan yang lama itu sengaja dilakukan oleh pihak tertentu untuk menghambat suksesi kepemimpinan. Dugaan-dugaan itu segera ditepis dengan keluarnya SK Pengangkatan Bupati Flores Timur yang diikuti dengan kepastian tanggal pelantikan.
Persoalan kedua berkaitan dengan ritual adat pelantikan. "Nugo Balik", tusukan sate yang pernah dikembalikan oleh bapa suku Mela Hurint, dipersoalkan oleh tokoh-tokoh adat. Nugo yang melambangkan persatuan adat yang dikembalikan tersebut dipandang sebagai suatu kesalahan adat yang harus dipulihkan jika Kepala Desa terpilih berkehendak untuk diurapi secara adat. Persoalan ini tidak dituntaskan sampai pada saat pelantikan, sehingga Kades baru tidak diurapi secara adat.
Persoalan ketiga muncul pada saat pelantikan. Suasana "panas" sudah mulai terjadi selama proses perarakan Kepala Desa terpilih dari rumahnya menuju ke Balai Desa Lewoloba. Sejumlah ibu-ibu dari suku Mela Hurint meneriaki lawan politik Kades terpilih dengan nada yang keras dan lantang. Mereka seolah tidak menerima berbagai perlakuan yang tidak layak yang ditujukan kepada saudara mereka, termasuk persoalan tidak di-adat-kannya Kepala Desa terpilih. Ketegangan berlanjut sampai kepada acara santap siang. Penyajian daging "RW" sebagai salah satu menu dianggap sebagai penghinaan, karena daging tersebut identik dengan suasana yang panas. Dalam sambutannya, Kepala Desa baru pun mengajak tetamu undangan yang ada untuk makan bersama di kediamannya.
Ada beberapa persoalan lagi yang menuntut adanya penyelesaian yang tuntas. Tetapi saya membatasi diri untuk hanya menuliskan sebagian saja dari banyaknya persoalan yang ada.
Tulisan ini tidak bertendensi untuk memihak kepada satu kelompok dan memojokkan kelompok lainnya. Ini adalah ungkapan keprihatinan golongan muda atas berbagai kekisruan dan ketegangam yang terjadi. Kini pemimpin kita sudah ada, tak ada gunanya lagi kita memposisikan diri sebagai lawan pemerintah. Terlalu riskan bagi kita untuk tetap bertahan sebagai lawan selama kurang lebih 6 tahun ke depan. Alangkah baiknya bagi kita untuk bersatu dan membangun Lewotanah tercinta, Lewoloba. Semoga demikian. Salam.

Sunday, March 24, 2013

Diduga, Penyerang Lapas Sleman terkait TNI

"Secara pribadi saya sependapat dengan Pak Denny. Arogansi TNI, apalagi Kopassus, masih sangat nyata dan kentara. Mereka sangat berkepentingan dan sangat terkait dengan kasus ini, mengingat korban penganiayaan oleh keempat tersangka (yang kemudian tewas secara mengenaskan itu) adalah anggota TNI. Siapa lagi kalau bukan mereka. Mereka terlihat sudah merencanakan pembalasan dendam, dengan memilih empat orang dari sekian banyak penghuni Lapas Sleman. Sekiranya teroris yang kita sangkakan sebagai pelakunya, mungkin seluruh penghuni Lapas akan dihabisi. Dengan kasus ini kita mendapatkan kesan, bahwa TNI yang kita harapkan dapat menjadi teladan dalam penegakan hukum ternyata tidak dapat dipercaya karena memberikan contoh yang buruk. Jika kasus ini sudah ditangani kepolisian, seharusnya TNI menyerahkan prosesnya kepada kepolisian, bukan malah menghabisi tersangka karena merasa berkuasa melakukan apa saja karena ada senjata, granat, dan skill perang yang dimilikinya. Pada akhirnya mari kita mendoakan keempat korban yang tewas di Lapas Sleman, kiranya arwah mereka diampuni dan layak mendapatkan tempat di sisi Tuhan."
 
JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaku penyerangan terhadap Lembaga Pemasyarakatan Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013) dini hari tadi diduga terkait dengan jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI). Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Denny Indrayana mengungkapkan dugaan tersebut.
“Adalah salah satu dugaan ini terkait dengan jajaran di TNI pelakunya,” kata Denny di Jakarta, Sabtu. Dugaan ini muncul setelah melihat empat tahanan korban penyerangan yang ternyata merupakan pelaku penganiayaan terhadap anggota TNI AD Kesatuan Kopassus Kandang Menjangan, Kartosuro, Solo, Sersan Satu Santoso.
Menurut Denny, insiden penganiayaan terhadap anggota TNI itulah yang mungkin melatarbelakangi penyerangan di Lapas Sleman dini hari tadi. “Karena insiden sebelumnya yang melatarbelakangi, ada anggota Kopassus meninggal sehingga ada yang mengarah ke sana,” ujar Denny. 

Untuk itulah, lanjutnya Kemenetrian Hukum dan HAM selaku pengelola Lapas, berkoordinasi dengan TNI agar tidak masalah ini tidak meluas. “Tentu saja langkah antisipasi perlu dilakukan agar eskalasinya tidak melebar ke mana-mana, koordinasi dengan TNI adalah langkah normal,” ucap Denny.
 
Meskipun demikian, Denny menegaskan, dugaan tersebut belum tentu benar. Masih diperlukan investigasi yang menyeluruh dan cepat untuk menemukan siapa pelaku penyerangan di Lapas tersebut. “Tidak bisa dijastifikasi atau dipastikan ini pelakunya TNI,” ujar Denny.
 
Sejau ini, Kemenhuk dan HAM bekerja sama dengan TNI dan Kepolisian, masih melakukan pendalaman di lapangan. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Amir Syamsuddin sudah berada di lokasi kejadian sejak pagi tadi.

Secara terpisah, Panglima Kodam IV/ Diponegoro Mayjen TNI Hardiono Saroso membantah prajurit TNI terlibat penyerangan Lapas Sleman.

"Bukan dari prajurit TNI, tidak ada prajurit yang terlibat. Saya bertanggung jawab penuh sebagai Pangdam IV/Diponegoro," katanya seusai upacara penutupan Dikmaba TNI AD Tahap I TA 2012 di Kodam IV/Diponegoro di Lapangan Rindam, Magelang, Sabtu pagi.

Seperti diketahui, penyerangan di Lapas Sleman menewaskan empat tahanan. Keempat tahanan itu merupakan pelaku penganiayaan terhadap anggota TNI AD Kesatuan Kopassus Kandang Menjangan, Kartosuro, Solo, Sersan Satu Santoso. Akibat penganiayaan di Hugo Café tersebut, Santoso meninggal beberapa waktu lalu.
 
Salah satu dari empat tahanan tersebut, yakni Yohanes Juan Manbait atau Juan merupakan anggota Polrestabes Yogyakarta. Ketiga tahanan lainnya adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, dan Hendrik Angel Sahetapi alias Deki. 
 
Penyerangan di Lapas Cebongan ini berawal saat sekelompok orang bersenjata dan bertopeng memaksa masuk ke dalam Lapas melalui pintu portir dengan mendongkan senjata. Kelompok orang tak dikenal itu mencari kamar empat tahanan tersebut. Setelah menemukan kamar empat tahanan pelaku penganiayaan itu, kelompok bertopeng ini langsung menembak empat tahanan tersebut hingga tewas. 
 
Aksi mereka pun melukai sedikitnya delapan petugas keamanan dan merusak CCTV di Lapas. Menurut informasi dari Humas Ditjen Pemasyarakatan, petugas yang luka di antaranya, Widiatmana dengan pangkat III/a, mengalami luka di dagu, serta Supratikno pangkat II/c yang luka di mata sebelah kanan. Adapun biaya pengobatan petugas Lapas akan ditanggung pihak Kemenkum HAM. 
 
Editor : Hindra

Tuesday, February 26, 2013

Misteri Manusia Kerdil dari Flores


MANUSIA hobbit atau manusia kerdil, bukan hanya terdapat dalam kisah fiksi. Kehidupan mereka sesungguhnya ada di dunia nyata.

Manusia-manusia berpostur mini, ternyata pernah hidup di Indonesia. Berdasarkan fosil-fosil temuan tim arkeologi nasional (Arkenas), menunjukan mereka hidup di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, sekitar 18 ribu sampai 36 ribu tahun silam.

Manusia kerdil ini kemudian diberi nama Homo Floresiensis. Tim Arkenas menemukan fosil hobbit tahun 2003 di gua bernama Liang Bua. Sebuah gua di Dusun Rampasasa, Kabupaten Manggarai, Flores.

Pembawa acara “Explore Indonesia” yang tayang di Kompas TV, Kamga, mengunjungi situs Liang Bua. Temuan manusia purba berpostur pendek di Liang Bua, menghebohkan dunia arkeologi dan paleontologi internasional.

“Manusia hobbit ini berukuran sangat pendek dengan tinggi 106 cm. Dia kecil tapi tubuhnya proposional,” jelas Jatmiko, salah satu anggota tim peneliti Arkenas.

Jumlah fosil manusia hobbit Homo Floresiensis yang ditemukan sebanyak 6 individu. Namun hanya satu individu yang tulang belulangnya paling lengkap, yang kemudian dinamakan LB 1.

Dari tulang pinggulnya, diketahui fosil LB 1 ini berjenis kelamin perempuan dan berumur sekitar 25-30 tahun. Uniknya, volume otaknya cuma 380 cc atau di bawah simpanse.

Hal ini menjadi unik, sebab otak simpanse 400 cc dan manusia modern sekitar 1300-1500 cc. Meski volume otak kecil, hobbit ini bisa membuat peralatan dari batu.

"Volume otak kecil bukan berarti bodoh, tapi justru bisa saja jenius," jelas Rokus Due Awe, ahli paleontologi dari Arkenas.

Selain fosil hobbit dan peralatan batu, di Liang Bua juga ditemukan beberapa fosil lainnya. Terutama fosil binatang seperti stegodon (gajah purba), burung raksasa, dan tikus besar.

“Awalnya saya melihat gua ini seperti gua pada umumnya, tapi ternyata di gua ini dulu hidup manusia-manusia kerdil yang menjadikan tempat ini sebagai tempat tinggal mereka,” ujar Kamga takjub.

Temuan manusia hobbit sering dikaitkan dengan keberadaan sejumlah penduduk Kampung Rampasasa dekat Liang Bua yang bertubuh pendek. Namun tim dari Arkenas tidak sependapat.

“Homo Floresiensis ditemukan di bawah tufa atau abu vulkanik. Diperkirakan ada letusan gunung yang sangat besar yang memusnahkan kehidupan dan mengubur mereka di dalam gua. Jadi tidak ada hubungannya dengan manusia sekarang,” jelas Jatmiko.

Kamga sempat mendatangi Kampung Rampasasa dan menjumpai 6 orang warga bertubuh kecil dan pendek. Tinggi badan mereka antara 135-150 cm.

Berbeda dengan pendapat tim Arkenas, justru orang-orang pendek di Rampasasa ini meyakini sebagai keturunan Homo Floresiensis di Liang Bua.

Saksikan kisah lengkapnya di program "Explore Indonesia" episode "Wae Rebo-Manggarai" di Kompas TV, Selasa (26/2/2013) pukul 21.00 WIB. (Kompas TV/Anjas Prawioko/Wayan Asthapala/Sandy Tryantoro)
 
Video Manusia Kerdil dari Flores

Tuesday, August 28, 2012

Resiko Menyimpan Uang di LKF Mitra Tiara

 Syallom kaka arin wangkaen. Perkenankan saya mengungkapkan sedikit pandangan saya tentang fenomena Lembaga Keuangan non-bank, LKF Mitra Tiara, yang saat ini sedang digandrungi banyak orang di lewotanah. Space yang terbatas, membuat saya harus menuliskannya dalam sebuah note.

Sebelumnya saya tidak pernah mengenal nama Lembaga Kredit Finansial Mitra Tiara, apalagi orang-orang yang mengurusnya. Lembaga ini justru saya kenal di jejaring sosial Facebook, khususnya lewat group "Suara Flotim", dan "Poksi Jo (Kelompok Simpatisan Jo)." Lembaga keuangan yang sudah menajalankan usahanya selama sekitar 2 tahun ini dikritik karena berani memberikan bunga deposito sebesar 10 % per bulan. Harus diakui, bahwa bunga 10 % adalah angka yang fantastis untuk sebuah lembaga keuangan non-bank yang baru melebarkan sayapnya di bisnis keuangan. 

Sejauh ini memang belum ditemukan adanya laporan tentang kerugian yang disebabkan oleh kinerja lembaga ini. Tetapi, kita patut menaruh curiga atas LKF Mitra Tiara dengan berbagai alasan sebagai berikut:

1.      Bunga Deposito 10  % adalah Angka yang Fantastis
Memiliki uang yang banyak tanpa banyak berusaha adalah harapan banyak orang, termasuk saya.  Harapan ini ternyata ditangkap oleh LKF Mitra Tiara. Lembaga Kredit Finansial ini menjawab keinginan masyarakat pemodal dengan memberikan bunga deposito 10 persen per bulan. Nah, jika Anda mendepositkan uang Rp50 juta di LKF tersebut, maka setiap bulan Anda berhak mendapatkan bunga Rp5 juta per bulan. Dan dalam kurun waktu 10 bulan, bunga yang Anda terima dari LKF sudah menyamai besarnya pokok simpanan Anda di lembaga tersebut, alias sudah "balik modal". Sekilas memang tampak menggiurkan.

Patut Anda ketahui bahwa bunga deposito yang ditetapkan Bank Indonesia adalah 5,76 % per bulan; 6, 33 % per 3 bulan; dan 6,74 % per 6 bulan. Rata-rata bank besar memberikan bunga simpanan sebesar 5,5 persen, setara dengan rasio bunga yang ditetapkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dan bank yang paling tinggi memberikan bunga simpanan adalah Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang memberikan bunga hingga 7,4 % per bulan dan 7,8 % per 3 bulan. 

Jadi, apabila dibandingkan dengan bunga yang diberikan bank (rata-rata 5,5% per bulan), maka bunga LKF Mitra Tiara lebih “baik”, tetapi sangat beresiko.

2.  Jika Uang Anda Sengaja Dihilangkan, Jangan Pernah Berharap Uang Itu Kembali
                        Sebagai lembaga keuangan non-bank, uang yang ada di LKF Mitra Tiara tidak dijaminkan kepada LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), karena LPS hanya menjamin uang yang disimpan di bank, yaitu maksimal 2 milliar. Jadi, jika uang Anda yang disimpan di LKF digelapkan, maka untuk selamanya uang Anda tidak akan pernah kembali lagi. Tetapi jika Anda menyimpan uang Anda di bank, maka pasti uang Anda akan dikembalikan.

3.      Kurang Tersedia Informasi Tentang LKF Mitra Tiara
                        Banyak informasi yang beredar menyatakan bahwa sebagian besar orang yang menyimpan uangnya di LKF Mitra Tiara hanya “ikut arus”, atau hanya ikut-ikutan saja menyimpan uangnya di LKF, tanpa mereka sendiri datang dan menanyakan informasi yang lengkap dan jelas di kantor LKF Mitra Tiara yang ada di Kelurahan Amagarapati, Larantuka. Informasi ini biasanya didengarkan dari kesaksian orang-orang yang telah menyimpan uangnya di LKF dan telah mendapatkan keuntungan (mungkin sesaat) dari simpanannya tersebut. 

                        Sebelum Anda menyimpan uang Anda di LKF Mitra Tiara, jangan lupa menanyakan siapa pemiliknya (termasuk sepak terjangnya di masyarakat), struktur organisasi LKF, serta di mana dan bagaimana uang Anda dikelola. 

4.      Lembaga “Kredit” Finansial Tetapi Tidak Melayani Kredit
                        Sejumlah kesaksian yang diberikan oleh group FB Suara Flotim menyatakan bahwa Lembaga “Kredit” Finansial ini tidak melayani permintaan kredit bagi anggotanya. Di mana-mana, koperasi kredit menyediakan layanan kredit kepada anggotanya. Sialnya, lembaga kredit yang satu ini tidak memberikan kredit kepada anggotanya. Masyarakat patut mencurigai, jangan-jangan pemilik dan pengelola LKF Mitra Tiara sedang menghimpun dana dari anggotanya dengan maksud untuk menggelapkannya?
5.  Banyak Kasus Membuktikan Bahwa Lembaga Keuangan Yang Memberikan Bunga Fantastis, Pada Akhirnya Melarikan Uang Anggotanya.
                        Anda tentunya masih ingat apa yang terjadi dengan Koperasi Langit Biru (KLB) milik Jaya Komara di Cikasungka, Banten. Anggota koperasi ini mencapai ratusan ribu orang dengan besar simpanan mencapai Rp6 triliun. Pemilik dan isterinya, yang secara mendadak menjadi salah satu orang terkaya di tempatnya, pada akhirnya berhasil menggelapkan uang anggotanya. Saya yakin, Anda sebagai masyarakat pemodal, dan calon pemodal tentu saja tidak mau nasib sama seperti yang dialami anggota Koperasi Langit Biru. 

                        Tulisan ini hanya merupakan ekspresi kecemasan saya terhadap fenomena penggelapan uang berkedok koperasi kredit. Silakan Anda mempertimbangkan keputusan Anda untuk menyimpan uang Anda di LKF Mitra Tiara.

Tuesday, July 17, 2012

“SISTER CITY”: LEBIH DARI SEKEDAR GURAUAN DI RUANG JAMUAN MAKAN

By Ansel Atasoge


DOWNLOAD file DOCX di sini.


Larantuka, kota paling timur di Pulau Flores, Ibu kota Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi sebagai "Sister City" atau kota kembar dengan Lisabon, Portugal. Peresmian Larantuka sebagai kota kembar dengan Lisabon ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan kerja sama antara pemerintah Portugal yang diwakili Wali Kota Ourem Paulo Fonsesca dan Bupati Flores Timur, Yospeh Lagadoni Herin di Jakarta, Rabu (23/5). Peristiwa bersejarah itu terjadi di Museum Nasional Jakarta dan disaksikan langsung oleh Presiden Portugal Anibal Antonio Cavaco Silva.
Gagasan kerja sama sister ciry ini lahir di "ruang jamuan makan malam" ketika Bupati Flores Timur menghadiri undangan makan malam dari Kedutaan Besar Portugal di Jakarta, beberapa waktu lalu, setelah Dubes Portugal menghadiri Prosesi Jumat Agung di Larantuka April lalu. Menurut Bupati Flores Timur, pada saat itu Dubes Portugal Manuel Carlos Leitao Frota berjanji akan membantu mendorong realisasi kerja sama antara pemerintah Portugal dan Pemerintah Kabupaten Flores Timur menjadikan Larantuka sebagai "sister city" atau Kota Kembar dengan Lisabon. Di Museum Nasional Jakarta pun, Manuel Carlos Leitao Frota berjanji mempromosikan perayaan suci "Semana Santa" dan Prosesi Jumat Agung atau "Sesta Vera" di Larantuka, Flores Timur di Lourdes.
Gagasan dari "ruang jamuan makan malam" telah tertambat dalam rumusan-rumusan MoU. Rumusan MoU tentu tidak sekelas dengan gurauan-gurauan di ruang makan. Kedua belah pihak yang menandatangani MoU tentu telah memahami dokumen MoU. Dan, pasti bahwa apa yang dipahami akan dikomunikasikan, bukan untuk sekedar tahu atau menjadi tahu, melainkan agar "setiap orang yang terkait di dalamnya atau yang menjadi bagian darinya bisa terlibat di dalamnya". Informasinya pasti akan dikemas dengan sejelas-jelasnya agar setiap orang yang terkait di dalamnya atau yang menjadi bagian darinya bisa mengetahui di mana posisinya, apa perannya, apa sumbangsihnya. 
Di pusat Kota Larantuka sudah ada dua baliho besar yang berkaitan dengan sister city. Yang satu di taman kota, berhadapan dengan Kantor Bank NTT Cabang Larantuka, di samping Gedung DPRD Flores Timur, dekat kompleks pertokoan. Yang satunya lagi di sudut luar depan Kantor Bupati Flores Timur. Ini merupakan dua tempat strategis untuk konteks Larantuka. Pilihan tempat tentu bukan sekedar pilihan acak-acakan. Yang satu dekat pusat perekonomian. Yang satunya dekat pusat pemerintahan. Baliho dan pilihan tempatnya ini menjadi media dan tempat komunikasi dan informasi bagi masyarakat Flores Timur dan masyarakat lain yang sedang “numpang lewat” di Kota Larantuka. 
Larantuka yang memiliki “sejarah keterkaitan spiritual” dengan bangsa Portugis pada saatnya akan dibabtis menjadi tempat ziarah internasional, lebih dari sekedar kota wisata religius. Para peziarah mancanegara dan domestik akan datang ke Larantuka untuk memuaskan kebutuhan spiritualnya, lebih dari sekedar berdarmawisata untuk menghabiskan kelebihan uang dari kantong pribadi. Kalau Larantuka bisa mencapai satu atau dua persen dari rekor Lourdes yang bisa menggaet lima sampai enam juta peziarah untuk mengunjunginya setiap tahunnya tentu luar biasa. 
Larantuka, kota ziarah yang akan sesaudara dengan Lisabon, akan menjadi “pilihan” karena ada “sesuatu yang menarik” dalam dirinya. Salah satu “objek” yang membuat orang tertarik adalah “Tuan Ma” yang pada tahun 2010 telah mencapai usia kehadirannya di Larantuka 500 tahun. Arca Bunda Maria banyak bentuk, corak dan rupanya. Namun, yang ada di Larantuka dipandang sebagai arca yang khas. Khas sejarahnya, khas pula tradisi ritualnya. Wilayah kekhasan inilah yang akan “dimasuki” para peziarah. 
Selain “Tuan Ma”, peziarahpun akan menimba khazanah rohani dan aura spiritual yang akan ditampilkan oleh mereka yang empunya tradisi dan mereka yang telah membabtis diri sebagai pemegang tradisi. Kesaksian hidup mereka merupakan bagian dari kekhasan Larantuka sebagai kota ziarah. Larantuka tentu tidak ingin mempertontonkan kesenjangan antara isi tradisi dan praksis hidup para penganutnya kepada para peziarah. 
Menyambut sister city, “orang-orang Larantuka” perlu membabtis diri menjadi orang-orang yang layak sebagai pemilik, penganut dan pencinta tradisi spiritualnya. Orang yang layak adalah orang yang selalu merindukan metanoia,yang selalu menginginkan transformasi diri dan komunitasnya berkat pancaran isi tradisinya. Hemat saya, titik inilah yang menjadikan Larantuka sebagai kota ziarah yang layak dikunjungi. Kerja berat siap menanti. Tidak hanya pemerintah, Gereja pun perlu memiliki konsep-konsep sister city yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sister city tentu bukan proyek yang syarat bisnis untung ruginya. Sister city tentu bukan aksi gagah-gagahan yang mencoba membuat Larantuka “tampil beda”. Sister city tentu bukan sekedar “memoria” tentang keindahan sejarah dan khazanah spiritual Gereja di masa lalu. 
Sekiranya sister city nantinya “tidak dilihat semata” sebagai komoditas ekonomis. Sekiranya pula, sister city nantinya “tidak semata dipandang” sebagai komoditas politik elit-elit politik tertentu. Mereka yang menanam baliho tentu tidak punya pikiran “dangkal” seperti ini. Mereka tentu sepakat kalau gurauan di ruang jamuan makan menjadi awal dari sebuah sejarah baru bagi Larantuka: Kota Rohani yang layak dihuni! Selamat menyambut sister city!
(Artikel ini ditulis oleh Sdr. Ansel Atasoge)

Friday, June 8, 2012

Penghuni Awal Larantuka


By F. Halan.
Cerita/mitos tentang asal muasal penghuni Larantuka, sejauh ini begitu banyak versi dan bisa jadi tidak banyak yang mengetahui , apalagi generasi kini. Olehnya berikut ini dimunculkan salah satu versinya. Jauh di atas, di puncak Ile Mandiri burung Elang berwarna coklat dan burung rajawali berwarna abu-abu meletakkan telurnya. Ketika telur-telur itu terbuka, muncullah dua anak kembar. Saudara laki-laki bernama Koda Lia Nurat Ulu Nura Nama, saudara perempuan bernama Oa Dona Wato Wele. Keduanya hidup sendirian di puncak gunung dan makan buah-buahan pohon dan binatang-binatang hutan seperti ular dan kadal. Juga kedua orang bersaudara itu adalah orang liar; mereka berbulu dari kepala sampai kaki dan biasanya mencarik mangsa perburuan mereka dengan kuku jarinya.

Pada suatu malam, ketika keduanya sedang menyiapkan makanan, di tepi pantai di bawah, Teniban Duli Hadung Bolen melihat nyala api mereka. Teniban Duli adalah seorang perempuan keturunan Paji, yang tinggal si sebuah kampung di kaki gunung Ile Mandiri. Nyala api yang terang seperti bintang, langsung mengenai dadanya. Pada hari berikutnya ia menceritakan penampakkan malam itu kepada saudaranya, Suban Lewan dan meminta dia naik ke puncak gunung untuk memeriksa, entah ada seorang pemuda yang berdiam di atasnya.

Suban Lewan menyiapkan diri untuk berburu. Ia membunuh banyak binatang dan ketika berkeliling ia menemukan tempat tinggal Liat Nurat. Dekat tempat itu ia bersembunyi di atas sebatang pohon besar. Ketika Lia Nurat sia-sia berusaha menyalakan api, Suban Lewan memperlihatkan diri kepadanya dan menawarkan bentuan, tetapi terdahulu Lia Nurat harus membuang binatang-binatang perburuannya yang mengerikan itu. Ia turun dari pohon dan berbagi makanannya dengan penghuni gunung itu. Empat hari kemudian ia datang kembali mengunjungi Lia Nurat dan membawanya ke dekat rumahnya, lalu menyembunyikannya di dalam hutan lontar miliknya.

Ketika melihat hujan tak kunjung berhenti dan awan turun ke lembah, saudarinya Teniban Duli mengetahui bahwa “anak gunung” (ile anan) berada tidak jauh. Ia menyuruh saudaranya mengantarnya ke tempat persembunyian itu, karena ia hendak mengawininya. Tetaapi Liat Nurat masih seorang manusia hutan. Bulu yang lebat menjadi pakaiannya dan kuku jarinya adalah senjatanya. Suban Lewan dan saudarinya mengundangnya makan dan membuatnya mabuk dengan tuak pohon lontar. Ketika ia sudah tertidur lelap keduanya mengambil pisau dan memotong kuku2 jarinya dan mencukur bulu seluruh tubuhnya. Ketika ia terjaga dari tidur ia menggigil kedinginan sampai seluruh bumi bergoyang.

Lia Nurat tidak mengenal adat kebiasaan manusia. Sia-sia Teniban Duli membetangkan tikar perkawinan untuknya. Baru sesudah ia menunjukkan kepadanya, bagaiman binatang-binatang hutan kawin, ia mengerti apa yang dikehendaki oleh Teniban Duli darinya. Bersama Teniban Duli ia melahirkan tujuh orang putra. Anak yang pertama bernama Keweluk Ile Alen Kebou Wawe Utan, yang lain bernama Kewaka, Belawa Burak, Bam Powa, Regi Bera dan Mado; anak ketujuh adalah seorang perempuan. Lia Nurat tinggal di kampung iparnya, yang mengajarkan dia bagaimana mengerjakan kebun dan menyadap tuak, ia mendapatkan hasil limpah dalam segala pekerjaannya. Lia Nurat meninggalkan kampung di tepi pantai itu dan pergi ke sebuah kampung di atas gunung. Di situ ia mengambil istri yang kedua, bernama Uta Wata Teluma Burak, berasal dari Maumere. Teniban Duli sangat cemburu. Oleh sebab itu ia menghina pesaingnya ketika keduanya pada suatu ketika sedang saling meminyaki. Karena ganti minyak kelapa ia memakai air gula untuk meminyaki rambut madunya.

Untuk membalas penghinaan terhadap saudari mereka, saudara-saudara Uta Wata memerangi Lia Nurat dan mengalahkannya. Akan tetapi mereka baru dapat membunuh Lia Nurat yang terluka berat itu ketika ia sendiri menyatakan kepada mereka bagaimana cara mereka melaksanakannya. Anak-anak laki-lakinya, “anak-anak dari gunung” tidak menerima hal itu. mereka berangkat ke Maumere bersenjatakan senjata-senjata yang terbuat dari besi, yang dibuat dari paku-paku yang mereka rampok dari kapal (Eropa) dan membunuh banyak musuh mereka.

Pada perjalanan pulang mereka bertemu dengan sekelompok orang Paji yang mengundang mereka minum. Ketika semua orang mabuk oleh tuak, terjadilah perkelahian. Karena orang-orang Paji terlalu membanggakan kepahlawanan mereka, maka “anak-anak dari gunung” itu mengupas kulit tubuh pemimpin orang Paji itu, menggosok tubuhnya dengan garam dan kapur, lalu mengusir dia ke kampungnya. Di mana-mana dengan nyaring ia mengeluhkan apa yang telah dilakukan oleh orang Demon terhadap dirinya. Akibatnya terjadi peperangan besar yang pertama antara Paji dan Demon. Orang Demon mengalahkan orang Paji dan mengusir mereka dari semua kampung di gunung dan pantai wilayah Ile Mandiri. Mereka harus melarikan diri ke Tanjung Bunga dan kemudian ke Adonara. Anak-anak Lia Nurat dan Teniban Duli mengambil tanah-tanah yang ditinggalkan oleh orang Paji. Mereka menjadi bapa-bapa asal suku, yang mendiami kampung-kampung di sekitar Larantuka, ialah Wailolong Lewo Hala, Lewoneda, Lewoloba, Watowiti dan Mudakeputu. (Paul Arndt).
Keenam kampung yang disebutkan pada akhir cerita Lia Nurat, dahulu merupakan suatu persatuan kampung-kampung, yang berbatasan langsung dengan tanah suku Larantuka. Persatuan itu adalah yang terpenting dari kesepuluh wilayah inti yang membentuk kerajaan Larantuka dan dinamakan Mudakaputu, sesuai nama kampung utama.
Karl-Heinz Kohl: Raran Tonu Wuju,cetakan I, sept 2009, Penerbit Ledalero
Sumber: East Flores Lamaholot




Thursday, October 6, 2011

PNS di Larantuka Terkena AIDS

Laporan Wartawan Pos Kupang, Syarifah Sifah

TRIBUNNEWS.COM, KUPANG.
Seorang PNS di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT terkena HIV/AIDS. Sebelumnya seorang ibu melahirkan terkena HIV/AIDS dan dua warga Larantuka meninggal saat mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Larantuka. 
PNS di lingkungan Pemkab Flotim tersebut sedang mendapatkan perawatan intensif baik oleh keluarga maupun rumah sakit. Penyakit HIV/AIDS sebagai akibat seks bebas dan penggunaan jarum suntik. 
Terungkapnya PNS yang terkena HIV/AIDS tersebut disampaikan Direktur RSUD Larantuka, dr. Yoseph Kopong Daten kepada wartawan, Rabu (5/10/2011).
Ia mengatakan, dalam tiga bulan terakhir sudah beberapa warga yang dengan kerelaannya diperiksa di klinik visity sehingga diketahui mereka terkena HIV/AIDS.  Namun, soal angka secara keseluruhan, dr. Yoseph mengakui sekitar 46 kasus di tahun 2010 dan belum dihitung secara keseluruhan di tahun 2011. 
"Umumnya meningkat kasus HIV/AIDS di Flotim. Soal HIV/AIDS ini ada lembaga KPAD yang terus melakukan sosialiosasi," terangnya. 
Terhadap meningkatnya pengidap HIV/AIDS di Flotim, DPRD Flotim telah menetapkan Perda HIV/AIDS namun hingga kini Perda tersebut belum jalan.
Dalam Perda tersebut ada upaya paksa wajib periksa bagi penderita HIV/AIDS yang sudah diketahui melalui pemeriksaan medis. 
Jika warga masyarakat yang membutuhkan jasa pelayanan administrasi kependudukan seperti pengurusan KTP, akte, surat kelakuan baik dan lain-lain, maka terdahulunya dilakukan pemeriksaan HIV/AIDS. Tes HIV/AIDS ini juga dilakukan saat para pencari kerja mengikuti seleksi menjadi CPNSD.
Upaya paksa hukum itu dikatakan Wakil Ketua DPRD Flotim, Antonius Hubertus G. Hadjon dimungkinkan karena hukum dari filosofi sifatnya dapat dijadikan alat paksa oleh negara. 
Upaya paksa tersebut dilakukan demi keselamatan warga negara dari bahaya HIV/AIDS. "Daya bunuh HIV/AIDS lebih besar ketimbang bahaya bencana alam", katanya. 
Selain upaya paksa dengan jalur formal, Anton mengatakan, diusulkan untuk memperketat pemeriksaan di pintu keluar masuk perantau asal Flores Timur. Hal tersebut penting dilakukan karena berdasarkan contoh kasus, HIV/AIDS merupakan yang terbawa oleh para perantau.

Editor: Romualdus Pius  |  Sumber: Pos Kupang

Monday, September 19, 2011

Sepenggal Surga di Pantai Watotena Pulau Adonara - Flores Timur

Sepenggal Surga di Pantai Watotena Pulau Adonara


Adonara adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara, yakni di sebelah timur Pulau Flores. Luas wilayahnya 509 km², dan titik tertingginya 1.676 m. Pulau ini dibatasi oleh Laut Flores di sebelah utara, Selat Solor di selatan (memisahkan dengan Pulau Solor), serta Selat Lowotobi di barat (memisahkan dengan Pulau Flores.

Secara administratif, Pulau Adonara termasuk wilayah Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Adonara merupakan satu di antara dua pulau utama pada kepulauan di wilayah Kabupaten Flores Timur.Adonara dahulu merupakan sebuah kerajaan yang didirikan pada tahun 1650. 

Keindahan pantai ternyata tak hanya dimiliki Bali atau Pulau Dewata. Di Nusa Tenggara Timur, terdapat banyak lokasi yang menyimpan sejuta pesona.

Pantai Neren Watotena terbilang masih perawan karena terletak cukup jauh dari Kota Kupang. Pesona laut biru yang menggoda ditambah formasi batu unik menjadikan pantai ini begitu eksotis.

Senang berjalan menyusuri pantai? Anda akan dimanjakan dengan pasir putih yang membentang hingga tujuh kilometer. Sungguh ciptaan Tuhan yang rugi bila tidak dinikmati. Namun sayang, Neren Watotena sulit dijangkau dari pusat kota.

Berikut ini sejumlah foto yang menampakkan  keindahan Neren Watotena











Watotena dalam artian bahasa berarti batukapal, pantai ini berada di garis pantai Adonara Timur, dengan pasir putihnya pantai ini dipenuhi batu-batu karang besar seperti kapal. Saat ini pantai ini di kelola oleh orang muda katolik waiwerang.

Untuk sampai ke pantai ini tidak mahal (kalau starting point nya dari Waiwerang-Adonara, tapi kalo starting point nya dari Jakarta ya,,,paleng murah 1 juta pulang pergi dengan kapal Sirimau dari Tanjung Priok ke Tanjung Bunga-Larantuka, kalau naik pesawat kurang lebih 2 JutaJakarta-Maumere-Larantuka-Waiwerang), cukup naik angkot dari waiwerang Rp. 5,000,- kemudian jalan kaki ke dalam, jauh seh,,makanya lebih baik sewa ojek ajah kemungkinan sekitar Rp. 20.000 an.

Biaya retribusi masuk adalah Rp. 2000,- per sepeda motor. Hari minggu biasanya pantai ini penuh dikunjungi, karna itu jika ingin kencan dengan pasir putih dan suara ombaknya saja datanglah pada hari kerja,,,pantai ini akan sepi dan keindahannya makin mempesona.

Pantai watotena terletak dibawah gunung boleng yang menjulang tinggi sekitar 1.700m di atas permukaan laut. Cuaca yang cukup ekstrim di NTT juga sangat berpengaruh pada tinggi dan besarnya gelombang di pantai ini.










Warga setempat berharap pemerintah dapat mengelola potensi wisata ini secara profesional. Sebab, bukan tidak mungkin pantai ini akan menarik minat wisatawan domestik maupun internasional.