![]() |
| Ilustrasi Ekonomi Inklusif |
oleh Meuthia Ganie – Rochman
(Sosiolog Organisasi; Dosen Universitas Indonesia)
Para
ekonom semakin bersatu dalam berpandangan bahwa pandemi Covid-19 akan
menciptakan resesi mendalam, bahkan depresi. Survei University of Chicago Booth School of Business menunjukkan
63 persen ekonom Amerika dan 82 persen ekonom Eropa dalam forum
mereka sependapat dengan kemungkinan terjadi resesi besar. Ramalan terjadinya
resesi berkepanjangan didasarkan pada fakta belum adanya kepastian kapan dan
bagaimana Covid-19 dapat dikendalikan. Para ilmuwan masih
mengamati karakter virus. Dalam situasi
seperti ini, optimisme bangkitnya kembali ekonomi global dalam waktu dekat
ibarat harapan tanpa dasar.
Berbagai artikel di The Economist dan Project Syndicatese makin memunculkan berbagai istilah kemunduran ekonomi yang menunjukkan keseriusan dampak pandemi. Tak lagi tentang pertumbuhan negatif dan pengangguran, tetapi mulai membahas dampak perubahan struktural ekonomi politik sistem ekonomi dunia. Belum pernah sistem ekonomi modern mengalami pembekuan kegiatan karena pembatasan interaksi fisik manusia. Krisis ekonomi akhir 1990-an dan akhir dekade pertama abad ke-21 adalah krisis keuangan. Kali ini pembekuan permintaan dan pengadaan yang terjadi bersamaan untuk banyak sektor ekonomi. Kematian banyak pelaku ekonomi dalam arti tak dapat kembali sangat mungkin, khususnya di kalangan bermodal sedang dan kecil. Daya tahan modal mereka hanya berkisar 3-6 bulan.
