Tuesday, October 27, 2015

Selamat Menempuh Hidup Berkeluarga, Rusly & Carline

 "BERSUKACITALAH DALAM PENGHARAPAN, SABARLAH DALAM KESESAKAN 
DAN BERTEKUNLAH DALAM DOA"
( ROMA, 12 : 12 ) 
 
Nick Doren - Lewoloba
Rusly & Carline
 
Jumat, 23 Oktober 2015 menjadi moment bersejarah bagi keluarga Bpk. Yohanes Lewa Doren dan Ibu Maria Nogo Ritan. Di hari penuh rahmat ini, anak perempuan mereka, Yuliana Carolina Djawa Doren, akhirnya memberanikan diri untuk mengikrarkan janji suci perkawinan dengan suaminya, Theophillus Rusly di hadapan tiga imam dan segenap umat yang hadir. Ada berbagai rasa yang muncul manakala menyaksikan moment membahagiakan ini. Yang pasti, rasa haru bercampur bahagia menyeruak dari dalam diri dan mewujud dalam deraian air mata yang tak terbendung. Anak gadis yang kekasih itu kini  harus "dilepaskan" untuk menentukan sendiri keputusan-keputusan besar bagi hidupnya.
Sejak  Kamis, 22 Oktober 2015, keluarga Doren Lewoloba sudah berada di Dusun Woloara, Desa Ribang, Wairpelit, Sikka. Keluarga Doren tidak menghadirkan seluruh keluarga besarnya. Faktor jarak dan beberapa faktor lain menjadi pertimbangan keluarga untuk tidak melibatkan anggota keluarga dalam jumlah yang besar. Perkiraan keluarga yang hadir adalah sekitar 20 orang. Kehadiran ini menjadi bentuk dukungan langsung keluarga atas pernikahan suci yang dilangsungkan.
Misa Pemberkatan nikah berlangsung di Gereja Wairpelit pada Pkl. 09.00 Wita, dipimpin oleh tiga orang imam. Misa berlangsung khusyuk diiringi oleh koor yang semarak. Pada kesempatan ini juga, Pastor Selebran utama menyerahkan titipan berkat apostolik dari Sri Paus Fransiskus untuk pasangan Rusly dan Carline.
Perbedaan budaya seringkali menjadi masalah dalam sebuah hubungan. Pernikahan Rusly dan Carline sekaligus juga merupakan perkawinan dua budaya, Budaya Lamaholot Flores Timur dan Budaya Sikka. Berhadapan dengan situasi ini, komunikasi adalah kunci keberhasilan sebuah hubungan. Carline sendiri sudah selama dua tahun belakangan ini telah berada di Kab. Sikka, sejak bekerja di Puskesmas Nita pada tahun 2013. Semoga keluarga baru ini dapat menjadi contoh berhasilnya perpaduan dua budaya yang berbeda. 
Selamat Menempuh Hidup Baru, 
RUSLY & CARLINE

Monday, July 27, 2015

Musyawarah Kerja BPD dan Pemdes Lewoloba


Pada hari Jumat, 24 Juli 2015, Badan Permusyawaratan Desa Lewoloba mengadakan Musyawarah Kerja bersama Pemerintah Desa Lewoloba. Musyawarah ini diadakan di Balai Desa Lewoloba dan dipimpin oleh Ketua BPD Lewoloba, Bpk. Matheus Belang. Adapun pihak Pemerintah Desa yang menghadiri Musyawarah ini antara lain, Kepala Desa, Sekretaris Desa, Perangkat Desa, Kepala Dusun dan Ketua RT.
Ada dua agenda besar yang dibahas dalam musyawarah ini, antara lain:
1. Pemaparan Pandangan Umum BPD Lewoloba terhadap Ranperdes tentang Pembentukan Karang Taruna; dan
2. Permintaan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Tahun 2014, dari Kepala Desa Lewoloba.
Agenda 1 antara lain menjabarkan lebih lanjut pandangan dan koreksi BPD teradap draft Ranperdes Pembentukan Karang Taruna dalam 12 point.
Sedangkan agenda 2 ditunda karena Pemerintah Desa belum merampungkan laporan pertanggungjawaban yg menjadi kewajibannya.
Pada kesempatan ini BPD Lewoloba menyampaikan kekecewaan atas isu yang  berkembang di tengah masyarakat bahwa BPD sedang berupaya utk memecat Kepala Desa. Hal ini patut disayangkan mengingat BPD tidak berwenag mengangkayt dan memberhentikan Kepala Desa. Yg benar adalah BPD mengawasi jalannya pemerintahan yg menjadi kewenangan Kepala Desa. Apabila kewajiban itu dikesampingkan maka langkah tegas sesuai peraturan yg berlaku dapat diambil BPD sbg pertimbangan bagi Bupati utk mengambil keputusan
Pemberhentian Sementara dan Pemberhentian..

Friday, July 10, 2015

PGI: Gereja Tak Akan Restui Perkawinan Sejenis


Sekretaris Umum Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt Gomar Gultom mengatakan, gereja tidak akan merestui dan memberlakukan perkawinan sejenis karena hanya mengakui perkawinan antara laki-laki dan perempuan.
"Pada prinsipnya, menurut hukum gereja di Indonesia, perkawinan itu antara laki-laki dan perempuan. Saya pikir gereja-gereja di seluruh dunia juga seperti itu," kata Gomar Gultom dihubungi di Jakarta, Jumat (10/7/2015), seperti dikutip Antara.
Gomar mengatakan, meskipun perkawinan sejenis di Amerika Serikat dilegalkan, tetapi gereja-gereja di negeri tersebut belum tentu mengesahkan atau merestui perkawinan tersebut. Begitu pula dengan sikap gereja-gereja di Belanda yang negaranya lebih dahulu melegalkan perkawinan sejenis.
Menurut Gomar, Amerika Serikat dan Belanda bisa melegalkan perkawinan sejenis karena di negara tersebut perkawinan merupakan ranah pencatatan sipil, berbeda dengan di Indonesia. (baca: Menag: Indonesia Sulit Terima Pernikahan Sesama Jenis)
"Di Indonesia, catatan sipil mencatatkan perkawinan setelah perkawinan dilakukan di lembaga agama. Negara tidak mengakui perkawinan yang tidak dilakukan di lembaga agama," tuturnya.
Padahal, semua agama di Indonesia tidak mengakui perkawinan sejenis. Karena itu, tidak ada jalan untuk melegalkan perkawinan sejenis di Indonesia.
"Namun, meskipun gereja tidak akan merestui dan melakukan perkawinan sejenis, saya berpendapat para pelaku homoseksual tetap harus diakui sebagai manusia dan dilindungi hak-hak hidupnya oleh negara," katanya.
Isu homoseksualitas mengemuka setelah Amerika Serikat melegalkan perkawinan sesama jenis di seluruh negara bagian. Pelegalan itu dianggap sebagai kemenangan oleh kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan para pendukungnya.
Salah satu bentuk euforia terhadap pelegalan itu adalah pemasangan warna-warni pelangi pada foto profil media sosial dan tanda pagar #LovesWin. Euforia serupa juga dilakukan sebagian pengguna media sosial di Indonesia.
Kalangan agamawan di Indonesia menolak pelegalan tersebut dan menilai bahwa keputusan pemerintah Amerika Serikat tersebut lebih disebabkan faktor politis.
Pemerintah yang berkuasa saat ini, Presiden Barrack Obama, berasal dari Partai Demokrat yang dinilai lebih liberal dan sejak semula mendukung kelompok LGBT. Dalam kampanye, Obama juga menyatakan akan melegalkan perkawinan sejenis.
Sikap Partai Demokrat itu bertolak belakang dengan Partai Republik yang lebih konservatif dan dinilai menjunjung norma. Partai Republik, yang banyak mendapat dukungan kelompok Kristen, menolak perkawinan sejenis.
Perbedaan sikap kedua partai itu juga ditunjukkan dalam isu aborsi. Partai Demokrat bersikap "pro-choice" dengan mendukung diperbolehkannya aborsi, sedangkan Partai Republik bersikap "pro-life" dengan menolak aborsi tanpa alasan medis yang bisa diterima.

Saturday, June 13, 2015

Umat Katolik Lewoloba Rayakan Pesta Pelindung Stasi

Suasana Perarakan Sakramen Mahakdus di Armida KBG II & III Stasi Lewoloba



12 Juni adalah hari yang istimewa bagi umat Katolik Stasi Lewoloba. Bertepatan dengan Pesta Hati Kudus Yesus (Sacred Heart of Jesus) yang diperingati Gereja se-dunia, Umat Stasi Lewoloba merayakan Pesta Pelindung Stasinya, Hati Amat Kudus Tuhan Yesus. Seperti biasa, sehari sebelumnya atau pada pagi hari di hari pesta tersebut, seluruh umat berbondong-bondong mengerjakan armida / tempat persinggahan untuk pentakhtaan Sakramen Mahakudus. Selain armida, umat membuat turo / tempat lilin di sepanjang jalur prosesi.
Untuk tahun 2015, umat membuat 4 armida. Armida pertama dikerjakan oleh KBG 1, 2 dan 3; Armida kedua dikerjakan oleh KBG 4, 5 dan 6; Armida ketiga dikerjakan KBG 7, 8 dan 9; dan Armida keempat dikerjakan KBG 10, 11 dan 12. Bentuk dan gaya bangun armida disesuaikan dengan kreativitas umat setiap KBG dengan memperhatikan nuansa penghormatan terhadap Sakramen Mahakudus.
Pada sore harinya, diadakan perayaan ekaristi dan diikuti dengan perarakan keliling stasi. Misa kali ini dipimpin oleh Pastor Paroki Riangkemie, Rm. John Lein, Pr, didampingi P. Eddy Doren, SVD. Adapun rute perarakan antara lain: keluar gereja belok kanan menuju jalan lingkar luar sebelah Timur, jalan lingkar luar sebelah Utara, dan masuk ke jalan lingkar luar sebelah Barat di depan Balai Desa Lewoloba, lalu masuk lagi ke gereja.
Umat tampak sangat antusias mengikuti prosesi Sakramen Mahakudus untuk memperingati Pesta Hati Kudus Yesus. Umat berharap semoga Hati Yesus Yang Amat Kudus dapat hadir di tengah-tengah hati setiap umat dan memberikan kekuatan kepada mereka untuk mengupayakan damai di dalam hatinya.