Paris selalu punya cara untuk mengejutkan. Pada akhir September 2026, kota itu dilanda gelombang protes pelajar yang keras. Ratusan sekolah diblokade, barikade dibakar, lebih dari 1.900 orang ditangkap, dan 305 petugas kepolisian terluka. Beberapa hari kemudian, kota yang sama menyaksikan pemandangan yang nyaris tidak masuk akal: sekitar 800.000 orang berkumpul dalam damai untuk menghadiri misa akbar bersama Paus Leo XIV, sementara 300.000 orang lainnya memadati Champs-Élysées untuk menyambutnya. Tidak ada kerusuhan, tidak ada gas air mata, tidak ada kendaraan terbakar. Hanya kerumunan besar yang tertib, penuh sukacita, dan seolah hendak mengatakan bahwa Paris bisa menjadi kota yang sama sekali berbeda.