Saturday, March 26, 2011

Aliran dan Gerakan Dalam Sejarah Kekristenan



Seiring perkembangan waktu, di dalam diri Gereja Katolik, muncul rupa-rupa aliran yang sedikit banyak bertentangan dengan aliran katolik mainstream. Beberapa aliran dimaksud, antara lain:
1. Queitisme. Paham in mengajarkan bahwa kesempurnaan hanya dapat dicapai dengan cara berdiam diri secara total (baik pikiran maupun kehendak), dan berserah diri kepada Allah dengan iman yang otentik. Upaya pencapaian kesempurnaan ini sangat ditunjang oleh doa-doa/latihan rohani sedemikian rupa sehingga Allah benar-benar dapat “dikecap” dan kehendak-Nya dapat diketahui. Jika keadaan ini sudah dicapai, mustahil kejahatan masuk ke dalam hidup manusia. Para penganut queitisme merasa tidak memerlukan ibadah dan sakramen. Para tokoh yang memelopori terbentuknya queitisme (pada tahun 1687) adalah Miguel de Molinos dan Madam Guyon.
2.Galikanisme. Galikanisme merupakan aliran yang bersifat Gerejawi dan politis yang lahir di Prancis yang menolak campur tangan Paus terhadap urusan kegerejaan di Prancis. Menurut Galikanisme, keputusan yang dikeluarkan Paus baru berkekuatan hukum apabila keputusan itu disetujui oleh para uskup lainnya. Pada tahun 1516, Galikanisme menyatakan bahwa Raja Prancis, yang dianggap telah memperoleh kekuasaan dari Allah, berhak menetapkan keuskupan, mengangkat uskup dan pejabat gerejawi lainnya. Galikanisme yang menentang keputusan konsili Trento, kemudian menetapkan empat pasal Galikan, yaitu: 1) penolakan terhadap kuasa duniawi Paus, dan bahwa raja tidak berada di bawah kuasa Paus, 2) kuasa konsili berada di atas kuasa Paus, 3) kebebasan Gereja Galikan seperti yang pernah berlaku sebelumnya, tidak dapat dibatalkan oleh Paus, dan 4) keputusan Paus dapat diperbaiki dan menunggu hingga konsili bersidang.
3.Jansenisme. Oleh para Jesuit, Jansenisme dituduh lebih dekat dengan Calvinisme daripada kekatolikan. Jansenisme menekankan dosa asal, kerapuhan insani, perlunya rahmat ilahi, dan predestinasi. Gagasan Jansenisme berasal dari tulisan seorang teolog Belanda bernama  Cornelius Otto Jansen. Gerakan ini muncul di dalam GKR pada sekitar abad XVI-XVIII. Benteng penting Jansenisme adalah konven Paris di Port-Royal. Tokoh Jansenisme: Antoine Arnauld, Pierre Nicole, Blaise Pascal, dll.
4.Febronianisme. Gerakan ini dipelopori oleh Nicolas von H, di Jerman. Gerakan ini menolak tanpa kompromi kekuasaan duniawi Paus. Mereka hanya mengakui Paus sebagai pemimpin iman dan moral, dan juga sebagai kepala Gereja. Dokumen-dokumen yang dikumpulkan Isidorus Sevilla untuk mendukung kekuasaan diniawi Paus, bahwa kekuasaan itu merupakan pemberian Kaisar Konstantinus, dianggap palsu oleh Febronianisme. Pecahnya revolusi Prancis dan kurangnya dukungan dari para Uskup Jerman membuat gerakan ini tak berhasil dalam usahanya. Meskipun demikian, gerakan ini tetap berusaha merebut keuskupan-keuskupan dari tangan Paus
5. Ultramontanisme. Gerakan ini membela kekuasaan Paus dan menolak konsiliarisme. Ultramontanisme lama terlihat dalam Konsili Konstanz. Di dalam konsili itu, Ultramontanisme hadir dalam diri Bellarminus. Ultramontanisme yang baru muncul pada abad XIX di Paris. Menurut Ultramontanisme ini, pembaharuan Gereja sangat tergantung pada sentralitas kekuasan di tangan Paus. Hasil puncak dari perjuangan Ultramontanisme adalah doktrin mengenai ketidakdapatsesatan Paus (infalibilitas), khususnya dalam hal ajaran iman dan ajaran moral.

No comments:

Post a Comment