Tuesday, February 17, 2026

Vatikan dan SSPX: Mengapa Sebagai Umat Katolik Kita Perlu Peduli?

Kardinal Víctor Manuel Fernández, Prefek Dikasteri Ajaran Iman, dan Pastor Davide Pagliarani, Pemimpin Umum Serikat Santo Pius X (SSPX) yang beraliran tradisionalis, berfoto bersama di Vatikan pada 12 Februari 2026.

Hubungan antara Takhta Suci dan Serikat Imam Santo Pius X (SSPX) kini berada pada titik krusial yang menuntut perhatian serius dari seluruh umat beriman. Persoalan utama yang mengemuka saat ini adalah rencana SSPX untuk menahbiskan uskup baru pada 1 Juli 2026 tanpa mandat resmi dari Bapa Suci. Langkah sepihak ini dipicu oleh kegelisahan internal serikat akan kelangsungan pelayanan sakramental mereka di masa depan. Namun, bagi Gereja universal, tindakan tersebut dipandang sebagai ancaman nyata terhadap kesatuan hierarkis yang selama ini dijaga. Vatikan melalui Dikasteri Ajaran Iman telah memberikan peringatan keras bahwa penahbisan ilegal tersebut dapat berujung pada status skisma.

Ketegangan ini sebenarnya berakar pada perbedaan mendalam mengenai penafsiran ajaran-ajaran Gereja pasca-Konsili Vatikan Kedua. SSPX memandang beberapa dokumen Konsili sebagai penyimpangan dari tradisi luhur, terutama terkait kebebasan beragama dan ekumenisme. Di sisi lain, Roma menegaskan bahwa setiap anggota Gereja wajib menerima Konsili sebagai bagian integral dari Magisterium yang hidup. Perdebatan ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan menyentuh esensi bagaimana iman Katolik dihayati di zaman modern. Oleh karena itu, dialog teologis yang sedang dirintis saat ini menjadi sangat menentukan bagi masa depan persekutuan kita.

Sebagai umat Katolik, kita perlu peduli karena kesatuan Gereja adalah mandat langsung dari Kristus sendiri dalam doa-Nya, "Ut Unum Sint". Setiap perpecahan yang terjadi di dalam Tubuh Mistik Kristus mendatangkan luka yang melemahkan kesaksian iman kita di hadapan dunia. Perpecahan dengan SSPX bukan hanya hilangnya satu kelompok, tetapi hilangnya sebagian kekayaan tradisi yang seharusnya memperkaya Gereja dari dalam. Kita terpanggil untuk merawat kesatuan ini sebagai bentuk pertanggungjawaban atas rahmat pembaptisan yang kita terima. Rasa peduli ini adalah wujud cinta kita kepada Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Isu SSPX juga mengajak kita mendalami kembali konsep tradisi yang sering kali disalahpahami sebagai sekadar pengulangan masa lalu. Sebagaimana diajarkan oleh Paus Benediktus XVI, kita harus melihat sejarah Gereja melalui kacamata "hermeneutika kesinambungan" dan bukan keterputusan. Tradisi suci adalah sungai yang mengalir, bukan barang antik yang statis di dalam museum sejarah. Konsili Vatikan Kedua harus dipahami sebagai upaya Gereja untuk menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar iman yang sejati. Dengan memahami hal ini, kita dapat menghargai kekayaan liturgi tradisional sembari tetap setia pada pembaruan yang sah.

Satu hal yang tidak boleh dikesampingkan dalam refleksi ini adalah pentingnya keutamaan ketaatan kepada Takhta Suci atau Sentire cum Ecclesia. Dalam struktur Gereja Katolik, suksesi apostolik dan penahbisan uskup memerlukan mandat kepausan sebagai penjamin kesatuan komunal. Penabisan tanpa izin Paus adalah tindakan yang secara simbolis dan faktual memutus ikatan dengan prinsip kesatuan Petrus. Ketaatan kepada Bapa Suci adalah jangkar yang menjaga kita agar tidak terombang-ambing oleh subjektivitas kelompok atau penafsiran pribadi. Bagi umat awam, ketaatan ini adalah ekspresi kerendahan hati untuk dibimbing oleh otoritas yang ditetapkan oleh Allah.

Pertemuan baru-baru ini antara Kardinal Victor Manuel Fernández dan Pastor Davide Pagliarani memberikan secercah harapan di tengah ketegangan. Dialog tersebut menunjukkan bahwa jalan diplomasi dan kasih persaudaraan tetap diutamakan di atas sanksi hukum semata. Vatikan telah merumuskan syarat-syarat minimum dan metodologi dialog teologis yang jelas untuk menjembatani jurang perbedaan. Hal ini membuktikan bahwa Gereja tidak pernah menutup pintu bagi anak-anaknya yang ingin kembali ke persekutuan penuh. Kita patut bersyukur atas keterbukaan hati kedua belah pihak untuk duduk bersama demi keselamatan jiwa-jiwa.

Namun, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap risiko spiritual yang sangat berat jika skisma benar-benar terjadi pada tahun 2026. Skisma bukan sekadar istilah hukum, melainkan kondisi di mana seorang umat memisahkan diri dari sumber rahmat yang teratur dalam persekutuan Gereja. Hal ini dapat membingungkan umat beriman dan memicu polarisasi yang tidak sehat di dalam internal Katolik sendiri. Kita sering melihat bagaimana perdebatan mengenai "Gereja Lama" dan "Gereja Baru" justru melahirkan kebencian, bukan kasih. Padahal, Gereja Katolik hanya ada satu, yang mencakup seluruh kekayaan tradisi dari zaman para Rasul hingga saat ini.

Kehadiran SSPX sebenarnya memberikan peluang bagi Gereja untuk merefleksikan kembali pentingnya keagungan liturgi dan kedalaman doktrinal. Banyak umat yang merasa tergerak oleh kekhusyukan Misa Latin Tradisional yang dijaga oleh serikat ini sebagai bentuk ekspresi iman yang mendalam. Sebaliknya, SSPX juga perlu berefleksi bahwa tradisi tidak mungkin bertahan jika ia memisahkan diri dari pusat kesatuan di Roma. Rekonsiliasi yang kita harapkan adalah sebuah harmoni di mana tradisi dihargai dan otoritas Magisterium dijunjung tinggi. Perpaduan inilah yang akan membuat Gereja semakin tangguh dalam menghadapi tantangan dunia yang kian sekuler.

Oleh karena itu, tanggung jawab untuk menjaga kesatuan Gereja bukan hanya berada di pundak para klerus atau pejabat Vatikan. Kita sebagai kaum awam memiliki peran krusial untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi persaudaraan dan bukan perpecahan. Kita harus menolak godaan untuk terjebak dalam fanatisme kelompok yang merasa paling benar sendiri di hadapan yang lain. Kepedulian kita harus diwujudkan dalam sikap saling menghargai dan kemauan untuk belajar tentang ajaran Gereja secara utuh. Dengan demikian, kita menjadi saksi bahwa kasih Kristus mampu melampaui segala perbedaan penafsiran teologis yang ada.

Sebagai penutup, marilah kita menyertai proses dialog yang sedang berlangsung ini dengan doa-doa yang tulus kepada Roh Kudus. Semoga para pemimpin di Vatikan dan pimpinan SSPX diberikan hikmat untuk menemukan jalan tengah yang berkenan di hati Tuhan. Kita berharap agar rencana penabisan pada Juli 2026 dapat ditunda atau dilaksanakan di bawah mandat resmi demi kebaikan Gereja universal. Mari kita terus berharap bahwa fajar kesatuan akan segera terbit, menyatukan kembali semua yang terpisah dalam satu kawanan di bawah satu Gembala. Kesatuan Gereja adalah doa Kristus, dan tugas kita adalah menjadi bagian dari jawaban atas doa tersebut.

No comments:

Post a Comment