| Foto Mgr. Hans Monteiro dan Bupati Anton Doni pada Perayaan Tahbisan Uskup Larantuka. Foto ini menimbulkan kritik terhadap gaya berpakaian Bupati oleh sebagian oknum warga |
Aduh, Ema Bapa, Kaka Ade semua, gara-gara satu lembar foto ini, jagat maya Flores Timur langsung mendidih macam air kopi di pagi hari. Foto Bapak Bupati Anton Doni yang jalan beriringan dengan Mgr. Hans Monteiro pada Tahbisan Uskup Larantuka (11 Februari 2026) ini jadi bahan "gorengan" paling renyah di grup-grup Facebook. Orang-orang ribut soroti tampilan Pak Bupati yang katanya "terlalu biasa", "kurang wah", atau "tidak ada wibawa". Padahal kalau dilihat baik-baik, Pak Anton itu tampil rapi pakai jas hitam dan kemeja putih, pas dan sopan untuk mendampingi seorang Uskup.
Coba kita buka mata lebar-lebar lihat itu foto. Di sebelah kanan ada Mgr. Hans yang agung dengan jubah liturgi warna fuchsia (merah muda) lengkap dengan salib dada dan solideo. Itu warna kebesaran Gereja, simbol kehadiran Tuhan yang meriah. Nah, di sebelahnya ada Pak Anton Doni dengan setelan hitam-putih yang netral dan tenang. Justru di situ letak kecerdasannya, Kawan! Pak Bupati sengaja "meredupkan" dirinya supaya Bapa Uskup yang "bersinar". Kalau Pak Bupati pakai baju warna-warni atau tenun yang heboh, nanti orang bingung mana yang Uskup, mana yang Bupati.
Kritik netizen yang bilang Pak Bupati tidak pakai tenun lengkap itu sebenarnya salah alamat. Ini momen outdoor, mungkin baru turun dari mobil atau mau masuk ke area Katedral, wajar kalau beliau pilih pakaian yang praktis buat bergerak. Lihat tangan Pak Anton yang pegang HP itu? Itu bahasa tubuh seorang pekerja, bukan raja. Itu tandanya beliau siap ditelepon kapan saja kalau ada urusan mendesak soal keamanan atau konsumsi ribuan umat yang hadir. Pemimpin yang pegang HP di lapangan itu lebih berguna daripada pemimpin yang pegang tongkat komando tapi tidak tahu kerja.
Lucu sekali kalau ada yang bilang jas hitam itu "menurunkan martabat daerah". Hei, sejak kapan martabat Lewotanah ini ditentukan oleh motif kain? Martabat itu ada di kepala dan di hati, bukan di baju. Pak Anton Doni mau pakai jas hitam kek, mau pakai kemeja putih saja kek, selama beliau jalankan tugas dengan benar, itulah wibawa yang asli. Jangan sampai kita jadi masyarakat yang silau dengan bungkus tapi lupa isinya kosong melompong.
Bayangkan kalau Pak Anton datang pakai baju adat lengkap, pakai Nowing (sarung), pakai hiasan kepala, terus bawa tombak segala. Itu mau ikut Misa Tahbisan atau mau perang tanding? Ingat, ini acara Gereja yang sakral, bukan festival budaya. Pakaian jas hitam itu adalah standar internasional untuk penghormatan sipil yang resmi tapi tidak berlebihan. Pak Anton tahu persis, di sebelah Uskup, dia bukan "penguasa wilayah", dia adalah "anak yang melayani".
Justru foto ini menunjukkan "chemistry" atau kedekatan yang luar biasa antara pemimpin agama dan pemimpin daerah kita. Lihat cara mereka jalan, santai, beriringan, tidak ada ajudan yang halangi, tidak ada jarak protokoler yang angker. Ini tanda kalau Mgr. Hans dan Pak Anton itu "satu frekuensi". Kalau Bupatinya kaku dan gila hormat, pasti dia jalan duluan atau minta dipayungi biar kelihatan bos. Tapi di sini, Pak Anton jalan sebagai sahabat, menemani gembala umat.
Mungkin netizen yang ribut ini maunya Bupati kita tampil macam artis sinetron, yang tiap menit ganti kostum biar sedap dipandang mata. Padahal Larantuka itu panas, Bos! Pakai jas saja sudah keringat bercucuran, apalagi disuruh pakai baju berlapis-lapis. Kasihan Bapa Bupati kita, sudah capek urus daerah, masih disuruh pusing urus selera mode netizen yang aneh-aneh. Biarkan beliau nyaman dengan gayanya, yang penting kerjanya untuk rakyat tidak main-main.
Sebenarnya, kritik pedas soal baju ini membuka aib kita sendiri sebagai masyarakat yang masih feodal. Kita belum terbiasa lihat pejabat yang tampil sederhana dan apa adanya. Di otak kita, pejabat itu harus "glowing", harus mewah, harus beda dari rakyat jelata. Giliran dapat Bupati yang gayanya merakyat, kita malah cibir. Aneh to? Harusnya kita bangga punya Bupati yang tidak gila pencitraan dan berani tampil "telanjang" tanpa topeng kemewahan di depan Tuhan.
Jadi, buat Ema Bapa, Kaka Ade yang masih nyinyir di Facebook, mari kita simpan tenaga buat hal yang lebih penting. Misa Tahbisan sudah selesai, Uskup baru sudah ada, Bupati juga masih sehat walafiat dengan jas hitamnya. Daripada ribut soal benang dan kain, lebih baik kita doakan supaya duet Mgr. Hans dan Pak Anton ini bisa bawa kebaikan buat Flores Timur lima tahun ke depan. Jangan sampai gara-gara urusan baju, kita lupa esensi persaudaraan.
Sudah, mari kita ngopi saja. Biarkan Pak Anton Doni kerja dengan jas hitam andalannya, dan biarkan Mgr. Hans melayani dengan jubah kebesarannya. Masing-masing punya peran, masing-masing punya panggung. Kita rakyat tugasnya dukung dan awasi kerjanya, bukan awasi jahitan bajunya. Tabe!
No comments:
Post a Comment