Sunday, February 15, 2026

Tragedi Nyawa Seharga Buku Tulis Sebagai Bukti Nyata Kegagalan Prioritas Negara

Di Republik ini, nyawa seorang anak ternyata bisa lebih murah daripada secangkir kopi di kedai waralaba ibu kota. Tragedi di Ngada, di mana seorang siswa SD memilih mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku tulis, adalah tamparan paling keras bagi wajah birokrasi kita. Peristiwa ini bukan sekadar statistik kematian, melainkan monumen kegagalan negara dalam melindungi warganya yang paling rentan. Ketika seorang anak merasa kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan, maka lonceng kematian bagi hati nurani kolektif bangsa ini sebenarnya telah berdentang.

Kita sedang didengungkan dengan narasi megah "Indonesia Emas 2045", sebuah utopia di mana bangsa ini digadang-gadang menjadi raksasa ekonomi dunia. Namun, narasi itu terasa hampa dan menyakitkan ketika disandingkan dengan realitas di akar rumput. Bagaimana kita bisa bermimpi tentang kecerdasan buatan, hilirisasi industri, atau kereta cepat, jika untuk membeli perlengkapan sekolah dasar saja rakyat harus bertaruh nyawa? Ada jurang yang menganga lebar antara ambisi elit di menara gading dengan jeritan rakyat di gubuk-gubuk reot yang luput dari radar pembangunan.

Saturday, February 14, 2026

GARA-GARA JAS HITAM POLOS, SATU FLOTIM JADI PENGAMAT MODE DADAKAN

Uskup Larantuka dan Bupati Flores Timur
Foto Mgr. Hans Monteiro dan Bupati Anton Doni pada Perayaan Tahbisan Uskup Larantuka. Foto ini menimbulkan kritik terhadap gaya berpakaian Bupati oleh sebagian oknum warga

Aduh, Ema Bapa, Kaka Ade semua, gara-gara satu lembar foto ini, jagat maya Flores Timur langsung mendidih macam air kopi di pagi hari. Foto Bapak Bupati Anton Doni yang jalan beriringan dengan Mgr. Hans Monteiro pada Tahbisan Uskup Larantuka (11 Februari 2026) ini jadi bahan "gorengan" paling renyah di grup-grup Facebook. Orang-orang ribut soroti tampilan Pak Bupati yang katanya "terlalu biasa", "kurang wah", atau "tidak ada wibawa". Padahal kalau dilihat baik-baik, Pak Anton itu tampil rapi pakai jas hitam dan kemeja putih, pas dan sopan untuk mendampingi seorang Uskup.

​Coba kita buka mata lebar-lebar lihat itu foto. Di sebelah kanan ada Mgr. Hans yang agung dengan jubah liturgi warna fuchsia (merah muda) lengkap dengan salib dada dan solideo. Itu warna kebesaran Gereja, simbol kehadiran Tuhan yang meriah. Nah, di sebelahnya ada Pak Anton Doni dengan setelan hitam-putih yang netral dan tenang. Justru di situ letak kecerdasannya, Kawan! Pak Bupati sengaja "meredupkan" dirinya supaya Bapa Uskup yang "bersinar". Kalau Pak Bupati pakai baju warna-warni atau tenun yang heboh, nanti orang bingung mana yang Uskup, mana yang Bupati.

Menembus Ilusi Romantisasi: Sebuah Kritik Terhadap Apologi Kemiskinan Kultural di Nusa Tenggara Timur

Wacana mengenai kemiskinan di Nusa Tenggara Timur (NTT) sering kali terjebak dalam dikotomi klasik antara data positivistik dan realitas fenomenologis. Tulisan Romo Patris Allegro yang mengangkat narasi "Miskin di Kertas, Kaya dalam Daya Hidup" (Facebook Patris Allegro, 11 Februari 2026) merupakan representasi kuat dari perspektif fenomenologis tersebut. Pandangan ini mencoba mendekonstruksi makna kemiskinan dengan menyoroti modal sosial (social capital) dan ketahanan kultural masyarakat. Hal ini sah sebagai sebuah kritik terhadap bias urban dalam pengukuran statistik ekonomi. Namun, sebagai sebuah basis argumentasi kebijakan pembangunan, narasi ini menyimpan bahaya laten yang serius. Kita perlu menelaah lebih dalam apakah "daya hidup" tersebut adalah pilihan bebas atau sebuah keterpaksaan struktural.

Argumentasi yang membenturkan statistik Badan Pusat Statistik (BPS) dengan kearifan lokal sering kali tergelincir pada glorifikasi penderitaan. Mengatakan bahwa masyarakat NTT "bahagia" atau "tahan banting" di tengah keterbatasan akses dasar adalah sebuah pengakuan atas resiliensi, tetapi bukan pembenaran atas kondisi tersebut. Statistik kemiskinan, dengan segala keterbatasannya, adalah alat ukur standar yang diperlukan untuk memetakan kesenjangan antarwilayah. Menafikan data kuantitatif dengan dalih kualitatif budaya berisiko menghilangkan urgensi intervensi negara. Kita tidak bisa membayar biaya rumah sakit dengan "solidaritas", dan kita tidak bisa mencegah stunting hanya dengan "kebahagiaan".